Menjelaskan Sesuatu Itu Cukup Sewajarnya Saja

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Akhir pekan lalu, saat ngopi tipis-tipis di mall, saya terlibat ghibah dengan teman dekat. Tapi ini ghibah ilmiah.

“Si Fulan itu aneh. Ditanya soal tugas desain dari klien saja jawabnya ini-itu, macem-macem,” kata Linda.

“Apa temanmu itu suka ngomong?” tanya saya.

“Enggak juga, sih. Biasanya dia malah pendiam.”

“Apa dia jago desain?”

“Yaa, rasanya nggak jauh-jauh beda dengan teman desainer yang lain.”

“Apa yang kamu tanyakan itu hal yang urgent atau vital?”

“Sama sekali enggak. Wong saya sebenarnya sekadar nyapa untuk ngobrol.”

“Oalah…. Mungkin dia lagi overexplaining. Biasanya ada sesuatu di balik sikapnya itu.”

“Apa itu overexplaining?” tanya Linda.

“Itu tindakan atau kecenderungan seseorang untuk menjelaskan sesuatu secara berlebihan. Menjelaskan terlalu banyak, terlalu detail, untuk hal yang sebenarnya tidak perlu atau tidak relevan.”

“Oh, begitu.”

“Orang yang overexplaining mungkin berpikir semakin banyak informasi yang ia berikan maka semakin baik atau semakin jelas pemahaman orang lain terhadap topik yang dibicarakan. Namun, segala sesuatu yang berlebihan itu tentu ada tidak baiknya.”

“Ya iya, lah.”

“Ketika seseorang terlalu khawatir orang lain tidak akan memahami apa yang sedang dijelaskan atau tidak akan menangkap detail yang dianggap penting, biasanya dia melakukan overexplaining. Masalahnya, saat dia memberikan lebih banyak informasi daripada yang diperlukan, orang yang diajak bicara justru merasa sebel, terbebani, atau kesulitan memahami inti pesan.”

“Nah, itu yang terjadi dengan saya saat ngomong dengan Fulan. Wong saya sekadar ngajak ngobrol, eh dia malah menggunakan banyak terminologi teknis yang aku tidak paham. Ia ngasih contoh dan ilustrasi berlebihan untuk menjelaskan hal yang sebenarnya cukup jelas. Jadinya, ia merasa ia malah berbelit-belit tanpa fokus jelas,” kata Linda. “Apa sih yang menyebabkan orang overexplaining?”

“Ada sejumlah faktor. Kalau menurut Dr Caroline Leaf pakar patologi komunikasi dan pakar neurosains klinis, salah satunya adalah faktor menyembunyikan kecemasan. Ia mencoba menjaga diri agar aman atau menghindari kecemasan. Bisa jadi ini berarti dia memiliki trauma masa lalu yang belum sembuh.”

“Faktor yang lain?”

“Mungkin juga karena ia tersulut sesuatu. Dia langsung nge-gas secara defensif saat kau menanyakan sesuatu yang menurutnya peka. Ia menjelaskan secara berlebihan untuk mengakali kamu atau mengalihkan perhatianmu.”

“Atau…,” pancing Linda.

“Mungkin dia menjelaskan secara berlebihan karena ia merasa bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi. Di masa lalu, dia pernah mempersalahkan diri sendiri atas masalah tertentu, dan masih menyimpan rasa bersalah itu sampai sekarang. Saat kau menanyakan sesuatu, ia merasa harus memberikan jawaban untuk menghindari kesalahan.”

“Oh, begitu,” Linda mengangguk-angguk pelan.

“Tapi, ini hanya kemungkinan teoritis. Akan lebih valid jika saya mengenali Fulan lebih dekat untuk menilai kondisi mentalnya,” saya mengingatkan.

“Nggak usah. Ini nggak penting, koq. Hanya ghibah sekaligus curhat.”

Facebook Comments

Comments are closed.