Hubungan antara Masalah Seksual dan Penembakan Massal

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya terperangah saat membaca berita-berita tentang penembakan massal di Amerika Serikat. Penembakan membabi-buta terjadi di shopping mall di Texas, sekolah swasta di Tennessee, bank di Kentucky hingga studio tari di California baru-baru ini. Data menunjukkan, pada 2023 hingga Juni terjadi 203 penembakan massal, pada 2022 terjadi 674 penembakan massal, 2021 ada 690 penembakan massal, 2020 ada 610, dan 2019 terjadi 417 kasus. Sungguh, angka-angka yang luar biasa.

Lalu, saya makin terperangah setelah menemukan hasil penelitian ilmiah yang menghubungkan antara masalah seksual dengan kasus-kasus penembakan massal. Ternyata, pelaku penembakan massal yang menunjukkan tanda-tanda frustrasi seksual rata-rata menghasilkan lebih banyak korban penembakan dibandingkan dengan penembak massal lainnya.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Homicide Studies pada Agustus 2022 ini memberikan bukti bahwa frustrasi seksual merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap kekerasan dengan senjata. Para pelaku berbeda dibanding penembak massal lainnya dalam hal profil psikologis dan jenis serangan yang mereka lakukan.

Adam Lankford profesor kriminologi di University of Alabama dan Jason R. Silva asisten profesor di Departmen Sosiologi dan Keadilan Pidana di William Paterson University berniat menyelidiki hubungan antara frustrasi seksual dengan penembakan massal di Amerika Serikat.

Mereka fokus pada kasus-kasus pembunuhan massal oleh pria yang terpaksa selibat (umumnya dikenal dengan istilah ‘incel‘). Memang, sebagian besar incel tidak melakukan tindakan kekerasan. Tapi, peneliti berhipotesis bahwa frustrasi seksual dapat berkontribusi pada iklim sosial yang meningkatkan kemungkinan terjadinya pembunuhan massal.

Pada tahun 2021, Dinas Rahasia Amerika Serikat menerbitkan studi kasus tentang seorang pria yang melepaskan tembakan di sebuah studio yoga di Tallahassee, Florida. Korbannya enam wanita. Pelakunya beridentitas incel, sering mengeluh tentang ‘beban keperawanan’ laki-laki, dan memiliki riwayat perbuatan asusila.

Lankford dan Silva berhipotesis, masalah penembak massal yang frustrasi secara seksual ini jauh lebih luas daripada yang dilaporkan Dinas Rahasia dan yang disadari kebanyakan masyarakat. Maka, mereka ingin mempelajarinya seketat mungkin.

Kedua peneliti lalu memeriksa database penembak massal di Amerika Serikat dari tahun 1966 hingga 2021. Dari 178 kasus yang ditemukan, mereka mengembangkan kriteria untuk mengidentifikasi penembak yang memiliki masalah frustrasi seksual. Indikatornya antara lain; keluhan eksplisit tentang frustrasi seksual, kegagalan menemukan pasangan intim, ajakan layanan pekerja seks, menguntit atau melecehkan pasangan yang diinginkan, dan terlibat dalam perilaku seksual ilegal atau tidak pantas.

Penelitian bertujuan menjawab empat pertanyaan utama. Pertama, seberapa umum masalah frustrasi seksual di kalangan penembak massal? Kedua, apakah penembak massal yang frustrasi secara seksual memiliki profil yang berbeda daripada penembak massal lainnya? Ketiga, apakah penembak massal yang frustrasi secara seksual berperilaku berbeda dibanding penembak massal lainnya? Dan keempat, apakah ada perbedaan pada korban penembak massal yang frustrasi seksual lalu memilih untuk membunuh?

Temuan penelitian mengungkapkan, sepertiga dari penembak massal memiliki masalah frustrasi seksual. Penembak massal yang frustrasi secara seksual lebih dari enam kali terbukti lebih mungkin memiliki riwayat pelanggaran seksual dan cenderung memiliki keinginan lebih kuat untuk mendapatkan ketenaran lewat perilaku kriminal.

Orang-orang semacam ini melakukan penembakan massal paling mematikan, antara lain di Columbine, Virginia Tech, Sandy Hook, Orlando, Las Vegas, Parkland, dan Uvalde. Pelaku penembakan massal di Columbine, misalnya, sempat bilang, ‘Mungkin saya hanya perlu bercinta.’ Pelaku penembakan di Virginia Tech sempat mempekerjakan pelacur sesaat sebelum beraksi. Pelaku penembakan Parkland sempat kontak ‘remaja kecil Asia’ di internet.

Lankford menjelaskan, “Ada banyak hal yang dapat dibeli orang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tapi, kepuasan seksual jangka panjang atau hubungan romantis yang bermakna ternyata lebih sulit mereka peroleh. Maka, ketika frustrasi seksual yang mendalam ini dikombinasikan dengan akses bebas ke senjata api, masalah psikologis, kurangnya empati terhadap orang lain, dan maskulinitas toksis, risiko kekerasan massal sangat mungkin terjadi.”

 

Facebook Comments

Comments are closed.