Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Suatu hari, saya ngobrol dengan wartawan veteran. Saya sebut veteran, karena ia sudah tidak lagi bekerja di media massa tapi masih semangat menulis. Ia sangat berpengalaman di era media lama namun masih gagap di era new media.
“Dulu, berita yang hebat dan banyak dibaca orang adalah yang memiliki news value. Yang nilai beritanya tinggi. Unsur nilai itu adalah kebaruan, keterkenalan, penting, besaran, dan sejenisnya. Sekarang, saat saya kirim berita berbobot semacam itu di media online, eh nggak ada yang baca,” begitu ungkapnya,
“Ya iya, lah. Zaman terus berkembang. Medianya beda, cara distribusinya, konsumennya juga beda. Yang paling penting, cara pandang konsumen masa kini sudah tidak lagi seperti konsumen zaman dulu. Sekarang serba digital dan bisa online,” saya menanggapi.
……….
Para pembaca yang budiman, saya kerap berdiskusi dengan wartawan dan masyarakat umum tentang kebiasaan konsumen media zaman sekarang. Salah satu pertanyaan yang sering muncul mengapa ada konten tertentu yang begitu mudah di-share hingga viral, tapi mengapa ada konten yang dibiarkan saja seperti nasib tulisan wartawan veteran di atas.
Nah, saya mendapat rujukan baru hasil penelitian yang sebenarnya sudah banyak dipahami teman-teman wartawan new media. Penelitian dari Communication Neuroscience Lab di Annenberg School for Communication di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, menunjukkan pengguna media sosial cenderung nge-share postingan berisi informasi yang mereka rasa relevan untuk mereka sendiri atau relevan untuk orang yang mereka kenal. Dengan kata lain, orang membagikan konten media yang mereka yakini memiliki nilai untuk diri mereka sendiri atau untuk orang lain yang sekiranya sama-sama relevan.
Apa yang terjadi di otak saat aktivitas itu? Sekadar mendorong orang untuk mempertimbangkan nilai konten sudah bisa menyebabkan peningkatan aktivitas di area otak yang terkait dengan keputusan berbagi dan meningkatkan motivasi seseorang untuk sharing artikel.
Penelitian lain sebelumnya lebih banyak tentang identifikasi karakteristik pesan model bagaimana yang lebih sering atau tidak sering di-share oleh konsumen. Penelitian kali ini melihat bagaimana mekanisme saraf untuk berbagi keputusan. Dengan memahami mekanisme itu, kita bisa lebih memahami cara mendorong penyebaran informasi berkualitas tinggi,
Penelitian dipimpin Prof Emily Falk pakar komunikasi, psikologi, dan pemasaran yang juga Direktur Laboratorium Ilmu Saraf Komunikasi di University of Pennsylvania. Peserta penelitian diinstruksikan mempertimbangkan untuk share artikel tentang hidup sehat dari artikel di koran The New York Times, sementara aktivitas otak mereka diukur dengan fMRI.
Di dalam pemindai fMRI, peserta diminta berpikir tentang berbagi artikel dengan tujuan tertentu: untuk ‘membantu seseorang’ (menggunakan artikel untuk berhubungan secara positif dengan orang lain) atau untuk ‘mendeskripsikan diri Anda bersifat positif’ (menggunakan artikel untuk menampilkan diri si pengirim). Sebagai kontrol, peserta diberi tujuan ‘menyebarkan informasi’ yang netral.
“Di semua bidang kehidupan, orang cenderung ingin menampilkan diri secara positif atau berhubungan secara positif dengan orang lain,” kata kata penulis utama Christin Scholz yang juga Asisten Profesor Komunikasi Persuasif di University of Amsterdam. “Metode kami mendorong orang untuk mengidentifikasi cara-cara di mana mereka dapat memenuhi motif ini melalui berbagi artikel kesehatan. Jika berhasil, mereka akan cenderung memutuskan untuk membagikan artikel tersebut.”
Berpikir tentang berbagi dalam bagaimana hal itu dapat membantu orang lain tidak hanya meningkatkan aktivasi di wilayah otak yang terkait pemikiran diri sendiri, pemikiran terkait nilai, dan pemikiran terkait sosial (khususnya mentalisasi — tindakan membayangkan apa yang dipikirkan orang lain) , tetapi juga meningkatkan kesediaan seseorang yang dilaporkan sendiri untuk berbagi artikel.


