Apa Benar Selingkuh Itu Karena Faktor Genetik?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Seperti biasa, bila mamah-mamah senior bertemu dalam acara kompleks perumahan, ada saja yang bicara soal perjodohan. Kali ini ada mamah senior yang curhat soal anaknya pacaran sama pria yang kurang bisa diterima.

“Kalau mau cari pasangan hidup itu perlu pertimbangkan bibit, bobot, bebet, ya kan? Hla ini bibitnya saja nggak beres. Saya selidiki, ternyata orang tuanya doyan selingkuh. Ya jelas aku nggak rela kalau anakku nanti diselingkuhi,” kata seorang mamah.

Mamah yang lain menyambut, “Apa memang sifat suka selingkuh itu diwariskan?”

………..

Pembaca yang budiman, tentu saja saya tidak akan turut campur urusan ‘dalam negeri’ orang lain meski itu tetangga. Kalau dimintai tolong, saya baru mau menolong sepanjang kemampuan dan keterbatasan saya.

Tapi, kalau boleh saya berkomentar, memang ada hubungan antara sifat suka selingkuh dengan faktor genetik. Tapi, seberapa kuat hubungan itu, masih dalam proses pengkajian para pakar. Begitu juga, faktor-faktor lain penentu perilaku selingkuh juga masih diteliti.

Beberapa penelitian mengidentifikasi faktor genetik yang berkontribusi terhadap perilaku seksual dan kesetiaan dalam hubungan. Sebagai contoh, penelitian pada hewan menunjukkan bahwa variasi genetik dapat mempengaruhi perilaku kawin atau kecenderungan untuk mencari pasangan seksual di luar pasangan tetap.

Untuk manusia, ada penelitian yang melaporkan bahwa variasi dalam gen yang terkait reseptor dopamin dapat memiliki hubungan dengan perilaku seksual tidak setia pada kaum pria. Namun, studi ini hanya melibatkan sekelompok kecil peserta. Perlu replikasi lebih lanjut untuk memverifikasi hasilnya.

Lalu, gen apa yang dicurigai sebagai penetu sifat suka selingkuh?

Gen reseptor vasopresin, AVPR1A, sering menjadi subjek penelitian dalam kaitannya dengan perilaku manusia, termasuk perselingkuhan. Vasopressin adalah hormon yang berperan mengatur perilaku sosial dan ikatan pada mamalia, termasuk manusia. AVPR1A adalah gen yang mengkode reseptor vasopresin, yang terlibat dalam pengikatan dan pensinyalan vasopresin di otak.

Beberapa penelitian mengeksplorasi hubungan potensial antara variasi gen AVPR1A dan perilaku selingkuh. Satu variasi spesifik pada gen AVPR1A, yang dikenal sebagai alel RS3 334, mendapat perhatian peneliti dalam konteks ini. Individu yang membawa alel ini diduga lebih mungkin terlibat dalam hubungan seksual ekstra atau kurang puas dengan hubungan monogami.

Meski demikian, perilaku manusia, termasuk selingkuh, dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, lingkungan, dan pengalaman hidup. Faktor genetik tidak menentukan sepenuhnya perilaku manusia. Pengaruh sosial, budaya, nilai-nilai moral, dan pengalaman pribadi, juga memainkan peran penting dalam menentukan perilaku selingkuh. Begitu juga faktor kepuasan hubungan, ketidakpuasan seksual, komunikasi yang buruk antara pasangan, dorongan emosional, dan lain-lain. Karena kompleksitasnya, perilaku selingkuh tidak dapat disederhanakan menjadi faktor genetik saja.

Facebook Comments

Comments are closed.