Memanfaatkan Psikologi untuk Peluang Bisnis

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Ada seorang pemuda, yang masih kerabat saya, datang untuk curhat soal pendidikan dan karir masa depannya.

“Mbak, aku dapat beasiswa kuliah psikologi,” ia mengawali.

“Wah, selamat ya…,” saya langsung menyambut.

“Tapi, sejatinya saya kelak pingin berbisnis. Apa pengetahuan dan ketrampilan psikologi bisa dimanfaatkan untuk praktik bisnis?”

“Oh, tentu saja bisa. Psikologi bisa diterapkan di mana-mana.”

………….

Pembaca yang budiman, ketika orang berpikir tentang bisnis, wirausaha atau investasi, mereka sering berfokus hanya pada angka dan perhitungan keuangan. Betul, memang angka dan uang itu bagian yang tak terpisahkan dari dunia bisnis. Namun, jangan lupa sisi psikologi yang bisa memberi keunggulan bagi kesuksesan berbisnis.

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental terkait perilaku tersebut. Yang dipelajari antara lain persepsi, pemikiran, emosi, motivasi, interaksi sosial, serta bagaimana lingkungan dan faktor biologis bisa memengaruhi perilaku. Psikologi juga memahami perbedaan individu dalam cara berpikir dan bertindak, serta cara beradaptasi dengan lingkungan.

Praktik bisnis adalah cara yang digunakan pebisnis atau organisasi atau perusahaan dalam melakukan operasi bisnis. Ini mencakup berbagai kegiatan seperti produksi, pemasaran, penjualan, pengadaan, dan manajemen sumber daya manusia. Praktik bisnis selalu melibatkan keputusan strategis untuk mencapai tujuan, misalnya penetapan harga, pengelolaan risiko, pengembangan produk, dan ekspansi bisnis.

Nah, agar bisnis dan investasi sukses, ujung-ujungnya ada pada bagaimana memperlakukan manusia. Untuk sukses, pebisnis perlu memahami dan bekerja dengan baik dengan orang lain apakah sebagai pelanggan, mitra, atau investor. Di sini ada peran penting memahami psikologi manusia di tingkat makro (memahami tren pasar) dan di tingkat mikro (memahami individu yang berbisnis dengan Anda).

Jika mempraktikkannya dengan benar, Anda dapat secara konsisten menghasilkan return yang besar dalam bisnis dan investasi. Jika tidak mempraktikkan dengan benar, atau jika gagal mengendalikan emosi diri sendiri dan pihak lain, maka Anda bisa kehilangan uang saat orang lain menjadi lebih kaya.

Berikut ini tiga kondisi dasar psikologi yang berperan besar dalam perilaku bisnis kebanyakan orang. Ada keadaan emosi pasar yang berbeda dan pelaku individu yang membentuknya.

  • Takut

Ketakutan adalah motivator kuat bagi tindakan manusia. Tidak hanya urusan pribadi, tapi ini juga berlaku di pasar bisnis, keuangan, hingga real estat dan psikologi masyarakat pada umumnya. Ketika ada ketakutan di pasar, pasti aksi jual segera terjadi. Hal ini menyebabkan aset dijual dengan harga jauh di bawah nilai normal. Nah, jika Anda menolak menyerah pada rasa takut, ada beberapa peluang untuk mengubah hidup lebih baik.

Warren Buffett, si jenius pasar saham dan salah satu orang terkaya dunia, pernah menasihatkan; “Jadilah takut ketika orang lain sedang serakah. Jadilah serakah saat orang lain sedang ketakutan.” Saat semua orang lari ketakutan, Anda bisa dengan kepala dingin dan tenang melihat keuntungan dari aset mereka.

Pada tahun 1992, George Soros memainkan mata uang pound sterling Inggris dan menghasilkan keuntungan $1 miliar. Saat Inggris akan meninggalkan Eropa, pasar uang dunia mengkhawatirkan nasib pound. Maka, dia menjual miliaran pound (sebagian besar uang pinjaman bank) untuk membuat semua makin takut. Saat pemerintah Inggris akhirnya mendevaluasi pound pada September 1992, Soros dengan cepat membeli kembali pound dan membayar kembali uang yang dia pinjam. Peristiwa 16 September 1992 itu di Inggris dikenal sebagai Black Wednesday.

  • Netral

Saat pasar tidak bergerak terlalu cepat ke arah mana pun, orang cenderung ke arah kondisi emosi netral. Dalam kondisi ini, orang biasanya tidak menjual aset dengan harga jauh di bawah atau di atas harga normal. Maka, ada lebih banyak waktu bagi kedua pihak untuk menilai dan mempertimbangkan pilihan. Hal ini dapat menciptakan tantangan bagi mereka yang ingin mendapatkan penawaran yang mengalahkan pasar sebagai pembeli atau penjual.

Nah, pada kondisi ini, psikologi membuka jalan dalam lingkungan makro untuk lebih melihat yang mikro. Jangan terlalu mempertimbangkan pasar, tapi pertimbangkan individu yang Anda ajak bertransaksi. Saat pasar tidak terburu-buru untuk beli atau jual, bukan berarti individu juga tidak terburu-buru. Bisa jadi, misalnya, individu itu sedang butuh uang karena ada keluarga yang jatuh sakit dan perlu pembiayaan besar.

Dalam bisnis, inilah saat utuk memahami pelanggan, mitra bisnis, atau calon penjual/pembeli, serta memahami kebutuhan mereka. Dalam investasi, ini adalah saat yang tepat untuk memahami nilai sebenarnya suatu perusahaan dan menggali lebih dalam neraca mereka. Sekali lagi, ini tentang memahami manusia dan psikologi mereka. Maka, luangkan waktu untuk berbicara dengan orang yang berbisnis dengan Anda dan pahami cerita mereka.

  • Serakah

Saat pasar sedang booming, umumnya orang mengalami FOMO (Fear Of Missing Out) alias takut ketinggalan. Ini mendorong mereka siap menghadapi harga lebih tinggi daripada yang wajar. Jor-joran beli meski harga tinggi. Dalam industri properti, ini saat yang tepat untuk menjadi penjual atau membiayai kembali properti Anda. Jika membeli, Anda perlu mengendalikan emosi diri dan hanya membayar apa yang menurut Anda layak untuk sebuah aset.

Di era digital, FOMO juga sangat relevan di dunia Bitcoin dan investasi mata uang kripto. Industri itu didorong oleh hype dan siklus pasar sekitar 4 tahun. Saat semua orang beli, inilah saat yang tepat bagi Anda untuk menjual sesuai permintaan. Jika Anda beli saat banyak orang lain membeli, maka Anda bisa kehilangan banyak uang di pasar maya.

Kesimpulannya, psikologi sangat berhubungan dengan aktivitas bisnis. Saya sendiri bukan pebisnis praktis. Saya dapatkan semua info ini dari membaca. Yang pasti, banyak bacaan saya membuktikan hubungan erat kondisi psikologis dengan kondisi bisnis. Terlepas dari bagaimana kondisi pasar, jika Anda memahami psikologi Anda sendiri, memahami psikologi pasar, dan memahami psikologi orang-orang yang berbisnis dengan Anda, maka Anda dapat menghasilkan cuan sebagai pengusaha atau sebagai investor.

Facebook Comments

Comments are closed.