Mengapa Kita Perlu Memaafkan?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saat Idul Fitri, sudah menjadi kelaziman di kalangan kita untuk saling memaafkan. Padahal, minta maaf atau memberi maaf itu tidak harus pada hari raya saja. Itu bisa dilakukan kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Karena manfaatnya begitu besar.

Bagi umat Islam, memaafkan itu bagian dari kepatuhan dan menjalankan perintah.

Al-Quran Surah Al-Shura ayat 43 menyatakan, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang sama, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat kebajikan, maka pahalanya adalah atas Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Rasulullah SAW bersabda, “Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah).” (HR At Thabrani).
“Orang yang paling penyantun di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf walaupun ia sanggup untuk membalasnya.” (HR Al Anshari) “Barangsiapa menutupi aib saudaranya di dunia, niscaya Allah akan menutupi aibnya di akhirat” (HR. Muslim).

Dari sisi psikologis/psikiatris, ketika kita bisa memaafkan maka otak kita mengalami berbagai perubahan yang dapat mempengaruhi kondisi mental dan emosional kita.

Otak mengalami peningkatan aktivitas di daerah yang terkait emosi positif, seperti daerah prefrontal cortex dan amygdala. Ini dapat menghasilkan perasaan bahagia, damai, dan relaksasi. Sebaliknya, terjadi penurunan aktivasi daerah otak yang terkait emosi negatif sehingga dapat membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan. Maka, dengan memaafkan, secara mental kita dapat merasakan peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan. Beban pikiran dan emosi negatif bisa kita lepas.

Dari sisi interpersonal atau sosial, ketika kita memaafkan maka kita dapat memperbaiki hubungan yang rusak dan membangun kembali kepercayaan dan ikatan yang pernah terputus. Ini dapat membantu membangun hubungan lebih sehat dan positif dengan orang-orang di sekitar kita.

Di pihak lain, orang lain juga dapat merasakan kelegaan dan meringankan beban pikiran dan emosional mereka jika kita memaafkan ia. Perasaan ini bisa membuka hubungan interpersonal lebih baik. Kita dapat memperbaiki hubungan yang rusak atau terputus dengan ia.

Orang lain dapat merasa lebih dihargai dan dihormati. Ini karena kita menunjukkan penghargaan atas ia sebagai sesama manusia yang bisa saja membuat kesalahan dan kita memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan.

Level lebih tinggi, orang lain bisa merasa terinspirasi untuk menjadi lebih baik. Ini karena kita menunjukkan bahwa kita mempercayai ia dan yakin bahwa ia dapat memperbaiki diri dan tindakan ke depannya.

Tentu saja, tidak semua hal bisa berlangsung seperti di atas. Ada kemungkinan orang yang kita maafkan tidak merespons atau menghargai keputusan kita memaafkan ia. Jika ini terjadi, anggap saja ia belum siap atau tidak mengakui kesalahan atau tidak paham kesalahan. Terlepas dari itu, penting untuk kita tetap memaafkan sebagai bagian dari proses pemulihan diri dan memperbaiki kualitas hidup kita sendiri.

Facebook Comments

Comments are closed.