Oleh: Teguh W. Utomo
mepnews.id – Tiba-tiba, jagad virtual Indonesia heboh tentang childfree. Kehebohan ini dipicu influencer Indonesia yang kuliah lalu tinggal di Jerman. Dia menyatakan kira-kira, tidak punya anak itu bisa membuat dirinya awet muda. Tentu saja dengan beberapa argumen yang mendukungnya.
Istilah childfree sebenarnya bukan barang baru yang perlu dihebohkan. Istilah ini sudah muncul bahkan sebelum tahun 1901, lalu dideskripsikan sebagai ‘tren’ pada 2014 di majalah online Psychology Today. Di banyak tempat, istilah itu sekarang dipakai secara biasa-biasa saja.
Di negara-negara maju, termasuk Jerman, praktik childfree itu bukan hal tabu. Negara-negara kaya semacam Finlandia, Swedia, Belanda, Inggris Raya, Kanada, Amerika Serikat, Selandia Baru, Australia dan sejenisnya, banyak yang memilih tidak punya anak.
Pertumbuhan penduduk di sejumlah negara bahkan sudah melambat mendekati nol atau bahkan cenderung negatif. Untuk proyeksi 2020-2050, penduduk Bulgaria turun 22.5%, Lithuania 22.1%, Latvia 21.6%, Ukrainea 19.5%, Serbia 18.9%, Bosnia Herzegovina 18.2%, Kroasia 18.0%, Moldova 16.7%, Jepang 16.3%, Albania 15.8%, Rumania 15.5%, Yunani 13.4%, Estonia 12.7%, Hungaria 12.3%, Polandia 12.0%, Georgia 11.8%, Portugal 10.9%, Makedonia Utara 10.9%, Kuba 10.3%, Italia 10.1%. Belakangan ini, jumlah penduduk Cina berkurang sehingga kehilangan status sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia ditilap India.
Ada banyak sebab orang memilih childfree. Bisa jadi karena memang memilih begitu, karena semakin mudahnya akses ke kontrasepsi, hingga politik pemerintahan yang membatasi anak. Alasan personal memilih childfree bisa dari sekadar tak ingin hingga trauma melahirkan atau kerepotan memelihara anak. Alasan medis antara lain ada masalah reproduksi hingga kelainan genetik. Alasan ekonomi antara lain biaya membesarkan anak itu sangat mahal hingga sedikitnya dukungan pemerintah pada anak-anak. Ada juga alasan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.
Yang menolak childfree juga punya banyak argumen. Alasan kodrati antara lain manusia itu harus berkembang biak untuk melanjutkan keturunan. Alasan normatif karena agama menyerukan manusia punya dan merawat anak. Alasan ekonomi karena anak bisa membantu bekerja hingga tempat bernaung di hari tua. Alasan politik karena negara akan merugi jika penduduknya berkurang. Alasan medis karena kebutuhan biologis perlu disalurkan dengan benar. Banyak lagi lainnya.
Tentu setiap orang punya pertimbangan khusus untuk memilih mendukung atau menolak childfree. Atau, mempertimbangkan jalan tengah yakni punya anak sedikit. Jika memperhitungkan konsep ‘zero growth population’ maka ‘dua anak cukup’ itu masuk akal. Dua orang tua yang kelak meninggal bakal digantikan oleh dua anak mereka.
Jadi, tak perlu heboh tentang soal yang remeh-temeh ini lah. Biasa saja. Tak perlu overreacting pada pandangan dan jalan hidup orang lain. Jalani saja hidupmu sendiri sesuai dengan kondisi dan kebutuhanmu. Jika butuh anak, silakan dapatkan anak secara biologis maupun adopsi. Jika tidak, ya pilih cara yang benar.


