Boss Pun Perlu Kembangkan Kecerdasan Emosional

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Koq tumben saya bisa bertemu boss-boss besar yang bersahabat? Saat ada tiga boss bertemu, yang dibicarakan ternyata bukan strategi bisnis atau politis tingkat tinggi. Obrolan mereka bisa dikata 95 persen hal-hal pribadi sambil tertawa-tawa. Sisanya urusan umum dan yang serius.

Salah satu obrolan sarkas penuh tawa yang saya dengar adalah, “Lho, jangan dikira saya jadi pimpinan terus bisa senang-senang. Saya tahu nggak semua yang saya pimpin itu patuh atau sejalan. Bahkan ada yang diam-diam mendoakan saya jatuh agar dia bisa menggantikan.”

Pembaca yang budiman, posisi leader bisa datang dari berbagai cara. Ada yang karena ia membangun posisi dari awal. Ada yang karena diangkat oleh leader yang lebih atas. Ada yang karena popular vote. Ada yang karena mendapat warisan dari orang tua. Ada juga yang lain. Cara mencapai posisi ini juga berpengaruh terhadap bagaimana anak buah mematuhinya.

Maka, Profesor Art Markman dari University of Texas di Austin yang juga penulis buku Smart Thinking and Habits of Leadership, menyarankan betapa pentingnya mengembangkan kecerdasan emosional dalam leadership.

Kecerdasan emosional ini melibatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang untuk memahami dan mengelola motivasi dan respons emosional dari orang lain. Kecerdasan emosional ini perlu untuk leadership. Tanpa keterampilan ini, pekerjaan leadership cenderung jadi lebih sulit.

Jika ada boss yang kurang cerdas secara emosional, orang lain tidak akan suka bekerja sama dengannya. Kalau toh suka, ya karena terpaksa. Orang lain tidak akan berusaha lebih keras untuk membantunya sukses. Orang mungkin mengikuti, tetapi itu tidak berarti kepatuhannya dapat diandalkan.

Elemen kunci dari kecerdasan emosional adalah mampu membaca bagaimana perasaan orang lain tentang situasi tertentu dan memahami tujuan dan motivasi mereka. Jika seorang leader kurang peka, ia akan melakukan atau mengatakan hal-hal yang bisa menimbulkan reaksi negatif dari orang lain. Bisa berupa kemarahan, kejengkelan, hingga boikot.

Memang kita tidak dapat menyenangkan semua orang sepanjang waktu. Namun, seorang leader harus berusaha mengetahui siapa atau pihak mana yang mungkin kecewa dengan tindakan atau keputusan yang telah ia ambil. Jika bisa tahu, ia akan dapat mempersiapkan sesuatu atau setidaknya siap menampung keluhan mereka.

Ketika seorang leader sering mendapat reaksi negatif dari orang-orang di sekitar, dan tidak diantisipasi, itu pertanda ia tidak peka terhadap keinginan dan kebutuhan mereka. Jika seorang leader hanya menunggu reaksi negatif tanpa mengetahui mengapa itu terjadi, maka ia perlu mengasah kecerdasan emosional lebih tajam.

Bukan hanya pemimpin, kita semua juga perlu terus mengasah ketajaman kecerdasan emosional agar bisa menempatkan diri kita dengan pas dalam hubungan sosial bersama orang-orang lain.

Facebook Comments

Comments are closed.