Gembleng Anak Agar Jadi Gigih dan Tangguh

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Apa persamaan antara Oprah Winfrey, Michael Jordan, almarhum Bob Sadino, dan Chaerul Tanjung? Mereka semua pernah gagal, bahkan pernah miskin, namun kini mereka tercatat sebagai orang-orang sukses di bidang masing-masing.

Hanya itu persamaannya? Mereka juga sama-sama punya perseverance. Mereka sama-sama gigih, ulet, tekun, tangguh, dalam menjalani aktivitas. Berkali-kali gagal, mereka tidak putus asa tapi terus berusaha, mempelajari permasalahan, mengambil langkah maju, lalu bangkit dengan lebih perkasa.

Para pembaca yang budiman, perseverance termasuk salah satu dari 12 MegaSkill yang diungkap Dr Dorothy Rich. MegaSkill adalah serangkaian ketrampilan hidup sangat mendasar yang sangat membantu kita meraih kesuksesan. Sebelas lainnya adalah confidence, motivation, initiative, effort, responsibility, caring, common sense, problem solving, focus, dan respect.

Kemampuan untuk bertahan dan mengatasi tantangan adalah kunci sukses dalam berbagai bidang. Maka, mempersiapkan anak untuk menghadapi masalah dengan baik akan bisa memberi kontribusi kuat untuk kesuksesan di masa depan.

Pada dasarnya, setiap anak kecil secara alami memiliki perseverance. Coba perhatikan saat anak belajar makan, tengkurap, berjalan, dan lain-lain. Jika ada yang takut dan langsung putus asa setelah jatuh saat memulai belajar berjalan, misalnya, maka bisa dipastikan ia seumur hidup tidak akan bisa bahkan sekadar berdiri.

Namun, kadang pola pengasuhan membuat anak jadi manja dan tidak punya cukup daya juang. Pengalaman traumatis juga bisa membuat anak sangat takut. Ketiadaan dukungan juga bisa menghilangkan motivasi anak mencapai sesuatu.

Maka, salah satu tugas penting orangtua, guru, pengasuh adalah terus menggembleng daya juang anak. Pada usia awal, dorong anak mencoba sesuatu yang secara alami dia kuasai. Misalnya, main balok, mewarnai, atau olahraga tertentu. Jika berhasil di satu level dalam suatu bidang, tingkatkan tantangannya. Atau, hadapkan dengan tantangan yang lain di bidang yang ia tidak cukup kuasai.

Bila gagal, biarkan anak menghadapinya juga. Jika, misalnya, anak meronta-ronta karena tidak bisa membuka ritsleting jaketnya, jangan langsung turut campur. Biarkan anak berusaha dulu untuk menguji kegigihannya. Jika meminta bantuan, tunjukkan saja bagaimana cara melakukannya, lalu bersabarlah melihat anak berusaha keras mencoba lagi.

Yang penting, terus beri semangat. Dorong anak terus mencoba menghadapi tantangan. Jika berhasil, segera beri pujian atau hadiah. Tapi jangan terlalu sering sehingga jadi kebiasaan. Nanti anak tidak akan mau berupaya jika tidak ada hadiah.

Dari gemblengan semacam ini, skill dasar perseverance dilatih dan dibina demi kesuksesan masa depan anak.

Facebook Comments

Comments are closed.