Mengenal Emosi dan Social Identity Melalui Tragedi Kanjuruhan

mepnews.id – Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu 1 Oktober 2022, menjadi catatan kelam bagi sepakbola Indonesia. Kericuhan terjadi usai laga Arema FC melawan Persebaya berakhir hingga memakan korban setidaknya 131 jiwa.

Perhelatan olahraga tidak hanya sebagai ajang memotivasi para atlet namun sebagai ajang menggambarkan keragaman suatu daerah. Keragaman itu bisa ditunjukkan identifikasi diri pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas itu. Identitas yang sama bisa memicu aksi yang sama pula.

Afif Kurniawan, dosen Unair dan mantan staf pelatih Persebaya.

“Olahraga merupakan aktivitas yang iklimnya dilakukan dengan ajang kompetisi. Ada dua tim menampilkan permainan terbaiknya dan salah satunya menjadi pemenang. Bagi suporter, mendukung tim kebanggaan sama dengan menggambarkan nilai kedaerahan dengan segala keunggulannya,” kata Afif Kurniawan MPsi Psikolog, dosen di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Dalam pertandingan sepakbola ada tiga hasil yang bisa didapatkan, yaitu menang, seri, atau kalah. Hasil pertandingan ini dapat memicu emosi dari pemain atau suporter. “Kemenangan atau kekalahan sama-sama bisa menimbulkan dampak emosi,” kata staf pelatih bidang pengembangan psikologi atlet Persebaya 2017-2020 tersebut.

Emosi yang muncul itu wajar terjadi. “Mereka terlibat langsung dalam drama di lapangan. Terlibat langsung dalam nilai yang ada dalam kelompok,” ujarnya. “Emosi yang muncul dapat berupa perasaan sedih, senang, bahagia, gelisah, takut, cemas, khawatir, dan lainnya.”

Yang menjadi persoalan, bagaimana masyarakat memiliki edukasi yang tepat terkait pengelolaan emosi. “Menang atau kalah itu ada emosinya. Yang menjadi penentu adalah bagaimana cara meluapkan emosi. Jika berlebihan, bisa memunculkan bahaya,” kata Afif.

Pasca tragedi di Kanjuruhan, banyak petisi bahkan tulisan untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Bahkan, di tempat kejadian perkara banyak didapatkan tanda-tanda kesedihan, kemarahan, hingga kekecewaan yang disalurkan melalui tulisan oleh para suporter.

Afif melihat ada penerapan teori personal identity dan social identity yang melekat pada diri suporter. “Dalam konteks suporter, ini dimaknai sebagai kebanggaan pribadi akan tim yang didukung. Jika banyak orang punya personal identity yang sama maka akan menjadi social identity,” jelasnya.

Rasa kebanggan yang sama itulah, menurut Afif, yang akan memercikkan kesamaan rasa antar individu dalam kelompok suporter. “Jadi, mereka punya rasa yang sama, memiliki pikir yang sama, dan pada saat itu terjadi akan muncul dukungan sangat besar,” tutur Afif.

Rasa yang sama ini akan menimbulkan emosi yang sama juga. Aksi dan reaksi akan diberikan suatu kelompok jika ada sesuatu terjadi. “Mereka memiliki rasa dan berempati satu sama lain. Mereka tidak ingin temannya disakiti, sehingga mereka membela,” kata Afif. (*)

Facebook Comments

Comments are closed.