Otak Mungkin Mengorbankan Ingatan demi Sesuatu yang Lebih Berharga

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Kenapa ada manula yang sehat tapi tetap saja mengalami kehilangan mengingat?

Awalnya saya menduga orang punya masalah dengan otak semacam Alzheimer, Demensia, Parkinson, atau cedera parah lah yang selalu mengalami kepikunan. Orang yang menjaga kesehatan raga dan mentalnya cenderung sehat dan tidak mudah pikun. Ternyata, ada laporan ilmiah yang mencoba menjelaskan mengapa otak yang menua meski sehat tetap saja mengalami kekurangan kemampuan memori.

Pembaca yang budiman, para peneliti dari University of Arizona di Amerika Serikat mengajukan kemungkinan bahwa perubahan pada otak tidak semata-mata merupakan kemunduran. Saat usia bertambah tua, otak mungkin mengalami penyesuaian untuk lebih mengutamakan fungsi pemahaman, kebijaksanaan, pemanfaatan pengalaman hidup, dan sengaja mengorbankan fungsi memori.

Fabian-Xosé Fernandez, Sara N. Burke, dan Lynn Nadel melontarkan gagasan yang mereka sebut adaptive aging hypothesis. Hipotesis penuaan adaptif yang dipublikasikan dalam jurnal Perspectives on Psychological Science itu memandang penuaan sebagai kelanjutan dari perkembangan manusia ketika kebutuhan dan fungsi otak mengalami perubahan seiring bertambahnya pengalaman.

Hipotesisi ini mengupas dua bagian otak yang berperan penting, yaitu hipokampus dan korteks frontal. Hipokampus membantu orang mengingat kejadian secara rinci, termasuk waktu, tempat, dan konteksnya. Korteks frontal berperan dalam mengenali pola, menarik kesimpulan, dan memahami makna umum dari suatu pengalaman.

Pada usia muda, menurut hipotesis itu, otak perlu mengumpulkan sebanyak mungkin informasi baru untuk membangun pemahaman tentang dunia sekitarnya. Karena itu, kemampuan menyimpan memori secara rinci sangat penting. Sebaliknya, orang yang lebih tua telah memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan. Mereka mungkin lebih mengandalkan informasi yang sudah tersimpan untuk memahami situasi baru daripada mengingat setiap detailnya yang baru datang. Dengan kata lain, orang yang berusia lanjut dan sehat mungkin tidak perlu mengingat seluruh rincian peristiwa, tetapi tetap mampu memahami persoalan dan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

Para peneliti menduga, perubahan ini mungkin memiliki kaitan dengan evolusi. Pengalaman puluhan tahun dapat menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi masyarakat. Kemampuan memberikan nasihat, mengajar, mendampingi generasi muda, dan menceritakan pengalaman merupakan bentuk kontribusi yang bernilai.

Maka, dari perspektif ini, manula tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan kecepatan berpikir atau ketajaman ingatan. Justru pengalaman hidup mereka dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya. Hubungan antargenerasi juga membuka kesempatan untuk meneruskan pengetahuan dan nilai-nilai yang berharga. Otak yang menua tidak berarti kehilangan kemampuan mengingat, tetapi menyesuaikan cara menggunakan pengetahuan dan pengalaman.

Namun, hipotesis ini tidak berarti semua orang otomatis menjadi bijaksana ketika menua. Hipotesis penuaan adaptif ini belum menjadi kesimpulan ilmiah yang final. Gagasan tersebut masih memerlukan pengujian ilmiah lebih lanjut.

Meski demikian, gagasan ini menekankan pentingnya menghargai pengalaman kaum manula. Nilai seseorang bukan hanya terletak pada banyaknya detail yang dapat diingat, tetapi juga pada kemampuannya memahami kehidupan, mengambil pelajaran, dan membagikan pengetahuan kepada orang lain.

Facebook Comments

POST A COMMENT.