9 Jenis Procrastinator; Semoga Anda Bukan Salah Satunya

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews – Paham istilah procrastinator?

Istilah ini merujuk pada mereka yang cenderung atau punya kebiasaan menunda-nunda pekerjaan meski menyadari konsekuensi negatifnya di kemudian hari. Ini beda dengan pemalas. Seorang procrastinator masih memiliki niat untuk menyelesaikan tugas, namun mengalami kesulitan memulainya.

Pernah melihat orang-orang seperti itu di sekitar Anda?

Untuk lebih jelasnya, berikut saya bagikan 9 jenis procrastinator yang dipetakan psikolog Itamar Shatz PhD dari Cambridge University. Ulasannya dibeberkan dalam buku Solving Procrastination: The Science of Why We Put Things Off and How to (Finally!) Stop, yang diterbitkan Tarcher (Penguin Random House).

  1. Worrier (Si Pencemas)

Ia menunda pekerjaan karena benaknya dipenuhi rasa cemas. Dalam pikirannya sering muncul; “Bagaimana kalau aku gagal?” atau “Bagaimana kalau hasilnya jelek?” atau “Bagaimana kalau orang lain menghakimi?”

Bukannya malas, melainkan cemas. Semakin penting suatu tugas, semakin besar kecemasnya sehingga otak memilih menghindar. Contoh; mahasiswa memiliki waktu satu bulan untuk mengerjakan tugas, tetapi baru membuka dokumen tiga hari sebelum tenggat karena takut hasilnya tidak memuaskan.

  1. Pessimist (Si Pesimis)

Ia menunda tugas karena merasa usahanya tidak akan membawa hasil. Dalam benaknya, ia berpikir; “Ah percuma,” atau “Aku pasti gagal,” atau “Paling hasilnya sama saja.”

Ekspektasi negatif membuat motivasinya melemah bahkan sebelum pekerjaan dimulai. Contoh; pelajar yang tidak mengajukan beasiswa hanya karena sudah yakin akan ditolak.

  1. Perfectionist (Si Pinginnya Sempurna)

Ia menunda pekerjaan karena ingin menghasilkan sesuatu yang sempurna. Pikirannya yang sering muncul; “Belum waktunya,” atau, “Wah, koq kurang bagus?” atau “Harus matang dulu.”

Standar yang terlalu tinggi membuat sekadar memulai saja terasa sangat menakutkan. Contoh; seseorang yang menghabiskan berjam-jam memilih font presentasi tetapi isi presentasinya saja belum dia buat.

  1. Dreamer (Si Pemimpi)

Ia lebih menikmati membayangkan keberhasilan daripada menjalani prosesnya. Dalam benaknya muncul bayangan, “Suatu hari nanti aku akan…” atau “Kalau sudah siap, aku akan mulai,” tapi tidak segera melakukan sesuatu.

Penyebab psikologisnya; ia merasa kepuasan datang dari fantasi masa depan dan bukannya dari tindakan saat ini. Contoh; sering merancang bisnis besar tetapi tidak pernah melakukan riset pasar.

  1. Zigzagger (Si Mudah Teralihkan)

Ini orang yang sulit mempertahankan fokus sehingga tidak segera melakukan sesuatu. “Sebentar, cek pesan dulu,” lalu pekerjaannya ditinggalkan. “Oh iya, ada video menarik,” lalu menonton video dan tidak mengerjalan tugas.

Perhatiannya mudah berpindah akibat gangguan eksternal maupun dorongan internal. Contoh; ia embuka laptop untuk menulis laporan, tetapi satu jam kemudian malah menonton video. Gile, gak…?

  1. Rebel (Si Pemberontak)

Ia menunda tugas karena tidak suka diperintah. Di benaknya tertanam pikiran; “Aku akan melakukannya kalau aku mau,” atau “Kenapa harus sekarang? Biar aku yang tentukan waktunya!”

Penyebab psikologisnya, penundaan ia jadikan bentuk Tindakan mempertahankan otonominya. Contoh; karyawan yang sengaja menunda laporan karena merasa atasannya terlalu mengontrol.

  1. Thrill Seeker (Si Pencari Deg-degan)

Ia merasa bekerja paling baik saat berada di bawah tekanan. Pikiran yang sering muncul di benaknya, “Aku butuh deadline agar semangat,” atau “Kalau waktunya masih lama, aku belum ada motivasi.”

Penyebab psikologisnya, ia merasa adrenalin menjelang tenggat memberi dorongan energi. Maka, ia sengaja menunggu waktu mepet. Contoh, mahasiswa yang selalu mengerjakan tugas semalaman sebelum dikumpulkan.

  1. Hedonist (Si Pencari Kenikmatan)

Ia memilih kesenangan instan dibanding manfaat jangka panjang. Pikiran yang sering muncul; “Main game lima menit dulu,” atau “Kerjain nanti saja.”

Penyebab psikologisnya, otaknya lebih tertarik pada kenikmatan yang langsung diperoleh daripada manfaat yang baru nanti diterima. Contoh, mahasiswa yang lebih memilih hura-hura mala mini daripada belajar untuk ujian minggu depan.

  1. Burnout (Si Kelelahan)

Ia menunda pekerjaan karena energi fisik dan mentalnya telah terkuras. Pikiran yang sering muncul, “Waduh, aku sudah tidak sanggup lagi,” atau “Besok saja kalau aku sudah lebih segar.”

Penundaan ini lebih berasal dari kelelahan, bukan karena kurang motivasi. Contoh, pegawai yang telah lembur dua hari malah mendapat tugas baru sehingga tidak mampu melakukannya.

Bagaimana solusinya?

Jika berfikir dalam kerangka Shatz, kita tidak bisa lagi menyatakan prokrastinasi bisa diatasi dengan satu metode. Karena ada sembilan pola dan sembilan penyebab berbeda, maka intervensinya juga harus beda. Orang yang cemas tidak bisa diberi solusi yang sama dengan orang yang kelelahan. Si perfeksionis memerlukan pendekatan yang berbeda dari si pencari sensasi.

Maka, jangan lagi beri nasihat jenerik; “Ayo, lebih disiplin kerja” atau “Kalau begitu, atur waktumu lebih baik”. Kenali dulu tipe dominan penyebabnya. Dari situ, bisa ditemukan strategi mengatasi prokrastinasi dengan lebih tepat sasaran.

Facebook Comments

POST A COMMENT.