Personal Branding Lebih Penting daripada Sekadar Pencitraan

oleh: Intan

mepnews.id – Di era media sosial sekarang, personal branding bukan lagi istilah eksklusif untuk kaum selebgram, influencer, atau public figure. Nyatanya, siapa pun termasuk mahasiswa dan fresh graduate perlu membangun personal branding sejak dini. Bukan untuk terlihat ‘paling keren’, tapi supaya orang lain tahu kita siapa, bisa apa, dan punya value apa.

So, apa sih personal branding itu?

Jeff Bezos, pendiri dan mantan CEO Amazon, pernah mengungkapan, “Your brand is what people say about you when you’re not in the room.” Bezos membuat pernyataan ini untuk menjelaskan bahwa brand (ciri atau reputasi) bukan sekadar apa yang kita katakan tentang diri kita, melainkan seperti apa orang lain membicarakan kita ketika kita tidak hadir. Personal branding itu semacam gambaran tentang diri kita yang tertinggal di benak orang lain.

Nah, gambaran itu bisa dibangun lewat banyak cara –salah satunya melalui media sosial. Tidak perlu menjadi sempurna atau viral di media sosial, tetapi bagaiman cara kita membangun gambaran diri yang autentik agar orang lain bisa mengenal value kita bahkan saat kita tidak sedang berhadapan langsung dengan mereka. Bagaiman cara kita membangun gambaran diri  sehingga langsung terlintas di benak mereka saat melihat nama atau akun media sosial kita.

Sayangnya, masih banyak anak muda ingin membangun personal branding tapi bingung harus mulai dari mana. Ada juga yang sudah aktif di media sosial, tapi akunnya justru ‘kosong’, sepi, atau tidak mencerminkan diri mereka sama sekali. Ada yang takut dinilai sok eksis, takut dilihat orang, atau khawatir kontennya tidak menarik.

Padahal, tanpa disadari, media sosial saat ini sudah menjadi semacam ‘CV kedua’ yang dilihat orang dan menarik perhatian orang, termasuk recruiter atau calon rekan kerja.

Lalu, bagaimana mulai membangun personal branding melalui media sosial?

Langkah paling dasar adalah berani membuka diri. Masih banyak kaum muda yang mengunci akun media sosial karena takut dinilai, takut di-stalk, atau merasa belum pantas untuk tampil. Padahal, kalau tujuan kita membangun personal branding, akun yang terkunci justru membuat orang lain tidak punya kesempatan mengenal kita. Jadi, tidak perlu menunggu sempurna. Ayo, mulai saja dulu!

Hal berikutnya adalah menampilkan diri sendiri seautentik mungkin, bukan sekadar mengikuti tren. Banyak orang berpikir personal branding harus selalu tentang tempat estetik, kafe viral, atau konten FOMO. Padahal, kalau isinya itu-itu saja, yang menonjol justru bukan personalnya, tapi tempatnya. Personal branding yang kuat justru lahir dari konsistensi menampilkan hobi, minat, skill, atau hal yang memang kita tekuni.

Hal penting lainnya adalah konsistensi. Personal branding tidak bisa dibangun dari satu unggahan lalu menghilang. Harus konsisten. Konsistensi tidak selalu berarti harus posting setiap hari, tapi postingan-nya memiliki tema, nilai, dan karakter yang jelas. Ingin dikenal sebagai apa? Orang yang informatif, ceria, profesional, atau reflektif? Semua itu tercermin dari cara kita menulis caption, memilih topik, hingga berinteraksi dengan followers.

Interaksi juga menjadi bagian penting yang sering dilupakan. Personal branding bukan sekadar soal dilihat, tapi juga soal membangun koneksi. Membalas komentar, memulai percakapan, atau sekadar mengapresiasi teman lewat unggahan sederhana, bisa menciptakan lingkungan media sosial yang lebih hangat dan manusiawi. Dari situlah peluang sering muncul untuk relasi, kolaborasi, bahkan tawaran kerja .

Di dunia profesional saat ini, personal branding bahkan sudah menjadi ‘CV tidak tertulis’. Banyak recruiter melihat media sosial untuk menilai kepribadian, minat, dan konsistensi seseorang. Apa yang kita bagikan hari ini bisa menjadi pertimbangan orang lain di masa depan. Karena itu, membangun personal branding bukan soal pencitraan palsu, melainkan tentang menampilkan versi diri yang jujur, bernilai, dan relevan.

Pada akhirnya, personal branding bukan tentang menjadi orang lain. Justru sebaliknya, menjadi diri sendiri yang paling nyaman tapi dengan arah yang jelas. Mulai saja dulu. Dari hal sederhana. Dari proses yang nyata. Personal branding tidak dibangun dalam semalam, tapi dari keberanian untuk konsisten menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.

 

  • Penulis adalah mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Facebook Comments

Comments are closed.