mepnews.id – Mengenal sejarah bangsa tidak melulu harus lewat buku teks tebal. Kadang, kita perlu datang ke tempat kejadian yang menjadi ‘saksi bisu’ peristiwa agar bisa merasakan getaran masa lalu.
Salah satu destinasi ikonik untuk urusan ini adalah Monumen Pancasila Sakti, atau yang lebih akrab kita kenal sebagai Museum Lubang Buaya. Museum di Jl. Raya Pondok Gede, Jakarta Timur, ini pengingat akan peristiwa kelam G30S/PKI 1965 yang menjadi bagian krusial dalam perjalanan Indonesia.
Memasuki kompleks seluas 14 hektare ini, Anda diajak menelusuri beberapa titik utama yang masing-masing menyimpan cerita mendalam:
1. Sumur Tua (Lubang Buaya)
Ini pusat dari seluruh lokasi. Dalam sumur tua berdiameter hanya 75 cm dan kedalaman 12 meter, jenazah para Pahlawan Revolusi ditemukan. Melihatnya secara langsung memberikan kesan emosional tentang betapa tragisnya peristiwa saat itu.
Tujuh jasad yang ditemukan di Sumur Lubang Buaya adalah; Jenderal TNI Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen Siswondo Parman, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen D I Panjaitan, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.
2. Rumah-Rumah Bersejarah (Saksi Bisu)
Ada tiga rumah asli milik warga setempat yang dulu digunakan oleh para pelaku:
- Pos Komando: Rumah yang digunakan sebagai pusat koordinasi dan perencanaan aksi.
- Dapur Umum: Tempat menyiapkan konsumsi selama kegiatan berlangsung.
- Ruang Penyiksaan: Serambi rumah yang menjadi lokasi para tawanan diinterogasi. Di sini terdapat diorama (patung) yang menggambarkan situasi mencekam kala itu.
3. Museum Pengkhianatan PKI
Gedung ini berisi puluhan diorama yang menceritakan aksi-aksi pemberontakan di berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya di Jakarta. Ini adalah gambaran luas mengenai konflik politik di masa tersebut.
4. Museum Paseban
Di gedung ini, ada deretan diorama yang menceritakan urutan peristiwa secara mendetail, mulai dari rapat-rapat rahasia, penculikan, proses evakuasi jenazah dari sumur tua hingga proses pemakaman para jenderal di TMP Kalibata.
5. Ruang Relik
Ruangan ini sangat menyentuh. Di sini disimpan barang-barang pribadi milik para pahlawan yang gugur. Dari pakaian yang mereka kenakan saat kejadian (masih dengan noda darah asli), jam tangan, aksesoris, hingga peluru yang ditemukan.
6. Ruang Pameran Foto Dokumenter
Di ruangan ini, ada deretan foto otentik yang mendokumentasikan proses pengangkatan jenazah dari sumur, suasana pemakaman, hingga suasana Jakarta di masa-masa genting tersebut. Foto-foto hitam putih ini memberikan perspektif visual yang sangat kuat.
7. Monumen Pancasila Sakti
Dinding besar dengan patung ketujuh Pahlawan Revolusi yang berdiri gagah dengan burung Garuda raksasa di belakangnya. Di bawahnya terdapat relief yang menceritakan sejarah pemberontakan dan penumpasannya.
Di museum ini juga tersedia kantin, mushola, dan toilet, untuk keperluan para pengunjung. Jika mau berkunjung, silakan datang pada jam operasional Selasa – Minggu, pukul 00 – 15.30. Museum tutup Senin.
Harga tiket sangat terjangkau! Tiket masuk dibanderol Rp5.000 hingga Rp10.000 per orang (harga berubah sedikit tergantung kategori umum atau pelajar. Parkir dikenakan biaya Rp5.000.
Jika bawa kendaraan pribadi, arahkan saja navigasi ke Jl. Raya Pondok Gede, Jakarta Timur. Area parkirnya cukup luas bahkan untuk bus sekolah maupun mobil pribadi. Kalau pakai transportasi umum, bisa naik TransJakarta koridor 9 (arah Pinang Ranti) dan turun di halte terakhir, lalu lanjutkan perjalanan sebentar dengan ojek daring atau angkot K40 menuju gerbang museum.
Pengalaman berkunjung ke Museum Lubang Buaya sangat terasa karena sejarah tidak hanya dibaca tetapi dilihat langsung. Ini dirasakan Ratna (40), guru sejarah yang mendampingi muridnya melakukan study tour.
“Museum ini cocok untuk belajar sejarah serta menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat. Anak-anak zaman sekarang kan hidup di era digital, ya. Kami, dari pihak sekolah, membawa mereka ke sini supaya mereka lihat bukti fisiknya di Ruang Relik dan melihat Sumur Tua. Biar mereka paham bahwa kemerdekaan dan ideologi Pancasila itu diperjuangkan dengan nyawa. Harapannya, sih, mereka pulang bawa rasa nasionalisme lebih kuat,” ujarnya.
Hingga kini, Museum Lubang Buaya masih aktif digunakan sebagai tempat wisata sejarah, kunjungan edukasi sekolah, serta peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober. Dengan konsep museum yang visual dan informatif, kawasan ini terus menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat untuk mengenal sejarah dan memahami pentingnya nilai persatuan bangsa. (Intan)


