Oleh: Budi Winarto
mepnews.id – Jika ingin sukses, ingin bebas dari segala pikiran yang menghambat, maka kita harus memiliki mindset yang benar dari hasil berpikir yang baik. Itu karena mindset adalah cara berpikir, pola pikir, atau perspektif yang digunakan seseorang untuk memahami dan menafsirkan informasi, situasi atau pengalaman.
Pada dasarnya, mindset merupakan sistem keyakinan atau bisa disebut skema mental yang bisa memfilter pengalaman dan memberikan makna atasnya. Mindset juga bisa mengarahkan atensi dan emosi dari setiap keputusan yang kita buat. Apa yang kita percayai, dan yang datang dari pola pikir, akan mengarahkan apa yang akan kita lakukan.
Begitulah perumpamaan pentingnya mindset.
Dalam bukunya yang berjudul Mindset, Carol S. Dweck menggambarkan dengan jelas bagaimana mindset seseorang bisa tumbuh (growth mindset) atau mandeg (fixed mindset). Dua konsep ini untuk menggambarkan bagaimana seseorang memandang kemampuan dan intelegensinya.
Orang-orang yang punya fixed mindset percaya bahwa kemampuan dan intelegensi itu bersifat tetap dan tidak dapat diubah. Mereka cenderung menghindari tantangan. Mereka takut gagal. Mereka percaya bahwa kegagalan itu menunjukkan keterbatasan kemampuan yang mereka miliki, sehingga tidak berusaha mencari solusi lain. Mereka lebih fokus pada penampilan serta pengakuan orang lain daripada belajar untuk meningkatkan kemampuan diri.
Orang-orang dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan dan itelegensi itu bisa berkembang atau bisa ditingkatkan melalui usaha dan pembelajaran terus-menerus. Mereka cenderung siap menerima tantangan. Mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk bisa terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri. Mereka lebih fokus terhadap proses daripada hasil. Mereka membangun kebiasaan belajar untuk meningkatkan diri, daripada sekedar menunggu pengakuan orang lain.
Lebih tepatnya, growth mindset itu lebih pada jalan menuju perkembangan jangka pajang. Orang-orang dengan growth mindset yakin mereka dikaruniai otak yang bisa terus tumbuh berkembang, dan bukan mandeg. Oleh karenanya, mereka tidak cepat puas diri untuk memeroleh pengalaman positif. Mereka tetap berbesar hati ketika mengalami kegagalan. Hal ini karena pola pikir yang terus diasah melalui kebiasaan dan lingkungan yang sehat akan menghasilkan growth mindset yang baik dan terasah untuk menghadapi berbagai tantangan.
Growth mindset itu dapat dibentuk, dikendalikan dan dioptimalkan. Kesadaran diri adalah langkah pertama menuju jalan itu. Orang dengan growth mindset cenderung lebih terbuka untuk belajar, lebih tahan terhadap tantangan, dan lebih mampu mengembangkan kemampuan. Mereka akan menganggap bahwa proses belajar dan konsistensi itu jauh lebih penting dari pada hasil instan.
Hal ini berbeda dengan orang dengan fixed mindset. Mereka cenderung lebih terbatas dalam kemampuan. Mereka juga lebih cenderung puas dengan kemampuan yang sudah dimiliki. Mereka tidak tergerak untuk berkembang dan meningkatkan diri.
Dalam konteks Islam, mindset semacam itu sudah dikabarkan. Surat Al-‘Alaq berisi perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. Iqro’, yang berarti ‘bacalah’, adalah konsep bagi manusia untuk mendayagunakan kekuatan otak, sekaligus menjadi pemantik untuk terus bergerak dan tidak cepat puas. Iqro’ itu simbol penting bagi pencarian ilmu pengetahuan dan pengembangan diri. ‘Bacalah’ adalah frasa yang bisa mendorong manusia untuk terus belajar, mencari ilmu, dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Dalam kaitannya dengan mindset, kata iqro’ secara subtansi berarti memperjalankan pikiran, mengelola pikiran, dan mengendalikan pikiran, agar otak selalu bergerak untuk menemukan pola terbaik dalam optimalisasi cara kerjanya.
Dengan terus meng-iqro,’ seseorang bisa melahirkan keyakinan, dan keyakinan akan membentuk tindakan, serta tindakan yang berpola nantinya akan menjadikan kebiasaan. Dari optimisme bahwa otak dan bakat bisa diasah, maka ketekunan yang mereka miliki akan menjadikan sesuatu yang ingin diraih menjadi lebih mudah diraih. Apa pun itu dasarnya, baik mereka pintar atau kurang pintar, berbakat atau tidak. Sebenarnya itulah subtansi dari growth mindset.
Nah, jangan heran jika ada orang dengan bakat dan kemampuan intelegensi tinggi –tetapi punya fixed mindset–segera tersalip oleh orang-orang dengan growth mindset meski awalnya mereka berkemampuan dan berbakat biasa-biasa saja. Itu disebabkan seseorang yang punya growth mindset menyadari bahwa usaha, strategi dan ketekunan, lebih penting daripada sekedar bakat atau kemampuan yang sudah melekat pada diri.
Orang dengan fixed mindset bisa saja cepat mendapatkan keberhasilan di awal karena bakatnya. Tetapi, dengan bakat yang tidak terasah, pada titik tertentu mereka akan sulit beradaptasi dengan tantangan baru yang datang dengan kadar melebihi bakatnya. Ketidakmampuan beradaptasi itu bisa menyebabkan kejatuhannya sendiri meski ia punya kadar intelektualitas maupun bakat yang sudah melekat pada dirinya.
Mindset itu bukan bawaan lahir, tapi bisa diubah. Perubahan itu dimulai dari kesadaran akan cara pikir terhadap sesuatu. Mengelola mindset itu butuh komitmen, latihan dan lingkungan yang mendukung. Perubahan mindset tidak bisa terjadi dalam semalam. Perubahan mindset bisa dimulai dari satu langkah sederhana yaitu mendahulukan meng-iqro’ dengan cermat atas apa yang terjadi secara intrinsik maupun ektrinsik. Kemudian, iringi kecermatan itu dengan pola pikir sehat. Pola pikir sehat itulah yang mampu membawa kegembiraan hidup kita.
- Penulis kelahiran Kabupaten Malang yang berdomisili di Kabupaten Mojokerto. Motonya, “Berbagi Manfaat Positif (BMP).”


