I Hate Monday! Bukan Cuma Urusan Mood, tapi Juga Biokimia

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “I really hate Monday! Nggak tahu, ya, kenapa. Gue beneran yakin Senin itu diciptakan untuk nguji iman. Tiap Senin, mood gue berat banget,” Mona ngajak curhat saya.

Saya tersenyum sambil sekadar menyegarkan suasana, “Iya! Pas weekend kayak pelukan. Nah, pas Senin datang, rasanya … PLAK! kayak ditampar kenyataan. Saya juga gitu. Berangkat pagi, macet. Nyampai kantor, laptop tertinggal di rumah.”

Kata Mona, “Lucunya, sambil duduk depan laptop, gue mikir: Hidup tuh harusnya nggak begini. Kenapa ya kita nggak lahir jadi kucing rumahan ajah? Atau, jadi tanaman hias yang cuma disiram, dijemur, lalu udah. Nggak ada Senin. Nggak ada meeting. Tapi, mau dibenci sekeras apa pun, Senin tetap datang kayak mantan yang nggak tahu diri.”

Saya menanggapi, “Ya, mungkin ini bukan cuma masalah mood. Bisa jadi, ini bakal jadi jejak biokimia juga.”

………..

Pembaca yang budiman, jejak biokimia yang saya ungkapkan ini punya landasan ilmiah. Para peneliti di Hongkong melacak ribuan lansia lalu menemukan jejak biokimia karena stress Senin. Para lansia yang takut Senin ini memiliki kadar kortisol tinggi di rambut selama berbulan-bulan. Ini semacam petunjuk yang bisa membantu menjelaskan kasus-kasus lonjakan serangan jantung yang terjadi pada Senin.

Penelitian ini dipimpin Profesor Tarani Chandola dari Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, di Universitas Hong Kong (HKU). Para peneliti menganalisis data dari lebih dari 3.500 lansia yang berpartisipasi dalam English Longitudinal Study of Ageing (ELSA).

Tim peneliti mengungkapkan, Senin secara unik bisa memicu stres biologis jangka panjang dengan implikasi bagi kesehatan jantung. Ada fenomena biologis mencolok: lansia yang biasa cemas pada Senin menunjukkan kadar hormon stres jangka panjang yang jauh lebih tinggi, bahkan terasa hingga dua bulan kemudian. Efek ‘anxious monday‘ ini diamati pada pekerja maupun pensiunan.

Lebih rinci, para peneliti menemukan lansia yang mengaku cemas di hari Senin memiliki kadar kortisol 23% lebih tinggi dalam sampel rambut (mencerminkan paparan kumulatif selama dua bulan) dibandingkan dengan rekan sebaya yang merasa cemas di sembarang hari lainnya. Efek ini tetap ada di kalangan pensiunan, sehingga menantang asumsi bahwa stres di tempat kerja saja yang menyebabkan anxious monday.

Hari Senin juga dikaitkan dengan lonjakan serangan jantung sebesar 19%. Studi ini mengidentifikasi disregulasi dalam sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA)  sebagai jembatan biologis potensial. Sumbu HPA ini mengatur hormon stres termasuk kortisol. Jika meningkat secara kronis, kortisol berkontribusi terhadap hipertensi, resistensi insulin, dan disfungsi imun.

Beberapa penelitian sebelumnya mencatat kadar kortisol lebih tinggi pada hari-hari kerja dibandingkan akhir pekan. Maka, Profesor Tarani Chandola memimpin studi pertama yang menunjukkan bahwa Senin secara unik memang paling mengganggu. Temuan ini menunjukkan ritme sosial –bukan hanya tuntutan pekerjaan– sudah tertanam dalam fisiologi manusia.

“Senin seolah bertindak sebagai ‘penguat stres’ secara budaya,” begitu penjelasan Profesor Chandola.

Bagi sebagian lansia, transisi mingguan ini memicu serangkaian proses biologis yang berlangsung berbulan-bulan. Ini bukan tentang pekerjaan; ini tentang seberapa dalam fenomena Senin tertanam dalam fisiologi stres kita, bahkan setelah karier berakhir.

Semoga Senin saya penuh kedamaian. Semogaaahhhh.

Facebook Comments

Comments are closed.