Oleh: Budi Winarto
mepnews.id – Malu adalah pengendali diri bagi seseorang untuk mencapai standar tinggi sebagai manusia berakal dan berbudi. Adanya rasa malu pada diri menandakan kualitas seseorang telah mampu menyederhakan keinginan yang berlebih dalam menyikapi penghidupan dalam kehidupannya.
Semakin seseorang memiliki rasa malu, maka semakin terlihat kualitas hidup orang tersebut. Sebaliknya ketika rasa malu hilang, maka kejelekan dan keburukan yang selama ini Allah Swt sembunyikan akan pudar seiring dengan hasrat dari kelebihan nafsunya.
Perlahan tapi pasti, seseorang yang rasa malunya hilang akan tampak keburukannya dalam kepribadian, tingkah laku dan perbuatan lain dalam menjalani kehidupan. Hal ini dikarenakan, hilangnya rasa malu akan memperlihatkan seseorang menjadi serakah. Tak jarang ia rela menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkan.
Rasa malu dan budaya malu
Rasa malu adalah sesuatu yang ada pada diri manusia, bisa dikendalikan dan bisa ditumbuh-kembangkan. Ini dilakukan untuk menjaga pribadi agar menjadi baik. Orang yang memiliki rasa malu akan memiliki kendali diri untuk mencapai kualitas hidup.
Rasa malu adalah nilai yang ditanamkan dalam jiwa agar bisa terbiasa hidup sederhana. Hidup sederhana di sini bukanlah hidup yang harus miskin, baik harta maupun ilmu pengetahuan dan agama. Hidup sederhana di sini memiliki makna bagaimana seseorang bisa mengendalikan nafsu yang mengarah pada sifat rakus. Seseorang yang mampu mengkondisikan hidupnya secara tidak berlebihan atau rakus, sebenarnya mereka telah melatih diri menumbuhkan budaya malu.
Budaya malu sendiri secara bahasa memiliki pengertian suatu nilai tradisional yang dikembangkan masyarakat untuk mengatur hubungan interaksi di antara anggota keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.
Ketika seseorang memiliki budaya malu, maka hidupnya akan penuh kesyukuran. Dan sifat syukur yang dimiliki seseorang inilah yang bisa menjadi pengendali sifat tamak. Seseorang yang memiliki sifat tamak sejujurnya akan menjerumuskan dirinya kedalam kehancuran.
Sifat tamak di sini bukan lah dalam rangka mengejar ilmu baik pengetahuan maupun agama, melainkan lebih pada harta atau apa pun yang menimbulkan gengsi dalam kehidupan. Tamak adalah sifat yang ada pada setiap diri manusia yang apabila tidak bisa dikendalikan, akan bisa menghancurkan.
Tamak secara bahasa memiliki makna rakus, sedangkan menurut istilah memiliki pengertian cinta kepada dunia terutama harta secara berlebihan tanpa memperhatikan hukum haramnya. Karena tamak termasuk penyakit hati, maka orang yang disinggahi rasa tamak dampaknya adalah timbulnya rasa dengki kepada sesama, hasud, permusuhan, serta perbuatan keji dan mungkar.
Sifat tamak juga bisa menjadikan seseorang hina sebab mereka selalu merasa dengan bertambahnya harta yang dimiliki akan semakin kurang. Orang tamak tidak akan memiliki kepuasan. Dengan demikian sifat tamak sejatinya ditujukan bagi orang miskin yang terlihat kaya. Hal ini dikarenakan banyaknya harta yang dikumpulkan atas miliknya masih terpenjara oleh kekurangannya.
Sebenarnya, tidak semua tamak itu jelek. Ada beberapa sifat tamak yang malah dianjurkan. Semisal rasa tamak atas kebaikan, karena meyakini pahala yang dikumpulkannya masih tidak seberapa. Rasa tamak atas ilmu pengetahuan baik umum maupun agama, karena baru setetes yang didapatkan dari luasnya samudra keilmuan. Adanya rasa tamak atas doa akan keberkahan rejeki, kesehatan, kesuksesan dan kesempatan yang harus terus dipanjatkan.
Artinya seseorang boleh tamak atas rahmat Allah, tetapi janganlah tamak terhadap unsur kebendaannya yang bisa menyebabkan seseorang membabi buta untuk mendapatkan semuanya.
Lantas bagaimana caranya?
Ada beberapa cara untuk bisa menghindar dan menjauh dari rasa tamak. Pertama, menghindari budaya konsumerisme. Gaya hidup konsumerisme adalah perilaku berlebihan terhadap pemakaian barang-barang produksi. Gaya hidup konsumerisme membuat seseorang ingin selalu terlihat trendy dengan membeli barang-barang sesuai trend. Adanya harta berlebih, ketika mereka memiliki gaya konsumerisme maka akan menimbulkan ketimpangan sosial. Hidup dengan perilaku bermewah-mewah di lingkaran masyarakat yang sebagian besar masih kekurangan dan membutuhkan bantuan adalah ciri dari hilangnya rasa malu.
Akan tambah membahayakan ketika seseorang memiliki harta pas-pasan tetapi demi gengsi dia bergaya konsumtif. Maka tak jarang untuk melampiaskan keinginannya, mereka menghalalkan segala cara. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki kesadaran akan daya ukur kemampuan dengan apa yang diinginkan.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki kesadaran diri akan kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki tidaklah memaksakan diri untuk memenuhi kehendaknya dengan mambabi buta. Prinsip bahwa keperluan itu adalah apa yang dibutuhkan dan bukan apa yang diinginkan akan menjadi alarm bahwa kebutuhan seseorang tidak akan ada habisnya sampai dirinya dimasukkan ke liang lahat.
Hal berikutnya guna menghindari rasa tamak adalah dengan tidak mengikuti gaya hidup orang lain (feel of missing of). Ketika kita melihat gaya hidup publik figur semacam artis maupun tokoh, janganlah tiru gaya hidupnya, tetapi pelajarilah prosesnya mengapa mereka bisa mencapai puncak dalam kehidupannya. Mempelajari proses itu lebih adil daripada meniru gaya hidupnya.
Meniru gaya hidup seseorang hakikatnya orang tersebut telah mengekor pada yang ditiru. Bisa dikatakan orang semacam ini tidak memiliki prinsip hidup. Kalau yang diikuti adalah sosok teladan maka akan menjadi tuntunan dan akan membawa kebaikan. Sebaliknya ketika yang diikuti hanya gaya hidup, apalagi dari publik figur, di mana peniru tidak memiliki filter untuk menyaring keburukannya, maka akan menjerumuskan. Akibatnya rasa malunya akan semakin menebal.
Terakhir, untuk menjauh dari rasa tamak adalah jangan sampai kufur nikmat. Seseorang harus menyadari bahwa Allah Swt telah mencukupkan takaran rezeki dari setiap makhluknya. Oleh karenanya, rezeki yang tertakar itu tidaklah mungkin akan tertukar. Ini penting disematkan dalam diri seseorang, sehingga ketika berikhtiar untuk kepentingan dunia, mereka tidak melupakan akhiratnya. Dan ini adalah bagian dari kesyukuran.
Jadi betapa pentingnya rasa malu dan membudayakan budaya malu untuk kebaikan diri. Malu adalah sebagian dari iman, seseorang yang kehilangan rasa malu, maka sebagian dari imannya pun akan hilang.
Wallahua’lam Bishawab


