Boleh Saja Hobi Hoarding, asal Jangan sampai Jadi Disorder

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Selain mengoleksi buku, diam-diam saya juga suka mengumpulkan souvenir pengantinan. Untuk buku, ada rak dan sejumlah kontainer untuk menyimpannya –meski masih banyak juga yang berserakan. Untuk souvenir pengantin, ada satu rak yang isinya sudah berdesakan. Hehe, tanpa terasa saya sudah melakukan hoarding.

Tapi, saya rasa level hoarding saya masih wajar-wajar saja. Meski kadang berantakan, saya masih suka menata atau membersihkan koleksi saya. Sebagian juga saya sumbangkan. Sangat berbeda dengan kasus Collyer brothers yang sudah masuk katagori hoarding disorder. Bahkan, level compulsive hoarding disorder.

Pembaca yang budiman, hoarding adalah kecenderungan untuk mengumpulkan dan menyimpan barang-barang. Perilaku hoarding dapat mencakup berbagai jenis barang. Bisa berupa pakaian, kaleng, buku, kemasan bekas, alat-alat rumah tangga, hewan peliharaan, dan banyak lagi.

Nah, hoarding disorder adalah gangguan mental yang ditandai oleh kecenderungan untuk mengumpulkan barang-barang dalam jumlah besar lalu kesulitan menatanya atau membuangnya bahkan saat ruang hidup mereka sudah penuh atau tidak layak huni. Compulsive hoarding disorder terjadi jika nafsu untuk hoarding sudah tak bisa lagi dikendalikan.

Homer Lusk Collyer dan Langley Wakeman Collyer alias Collyer brothers adalah contoh ekstrem kasus hoarding disorder. Tempat tinggal mereka, di kawasan mahal Harlem brownstone di 2078 Fifth Avenue di New York City, betul-betul dipenuhi barang aneh-aneh saat keduanya ditemukan membusuk pada Maret 1947. Jenazah mereka dikelilingi lebih dari 140 ton barang-barang semacam kertas, sampah, mobil-mobil tua, dan bahkan reruntuhan perahu kayu yang mereka kumpulkan selama puluhan tahun.

Ada tiga aspek utama ciri-ciri hoarding disorder. Pertama, akumulasi barang berlebihan sehingga kesulitan untuk menata atau menggunakan. Kedua, enggan hingga kesulitan membuang barang yang telah dikumpulkan bahkan jika barang tersebut sudah tidak memiliki nilai praktis atau emosional. Ketiga, akumulasi barang hingga menyulitkan fungsi ruang hidup. Biasanya, ruang hidup jadi berantakan, tidak dapat digunakan secara efektif, bahkan hingga menciptakan risiko kesehatan dan keamanan.

Gangguan ini berkembang secara perlahan, dan sering kali si pelaku tidak menyadari perkembangannya dan dampak negatifnya. Pada puncaknya, hoarding disorder dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, termasuk menganggu hubungan sosial dengan tetangga, pekerjaan, dan kesehatan mental dan fisik.

Untuk menentukan seseorang mengalami hoarding disorder, kita perlu diognosis dari psikolog atau psikiater atau profesional di bidang itu. Indikatornya antara lain bisa dilihat di Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), yang merupakan manual klasifikasi utama untuk gangguan mental.

Untuk mengatasi hoarding disorder, perlu pendekatan terpadu. Antara lain dengan terapi kognitif-perilaku (CBT), terapi pemusatan pada objek (Exposure), terapi dukungan dan motivasi yang melibatkan keluarga, teman, atau pendukung sosial, dan lain-lain. Dalam kasus tertentu, diperlukan farmakoterapi yakni menggunakan obat-obat tertentu.

Maka, dalam satu keluarga, penting bagi kita untuk saling menawasi dan mengingatkan jika ada perilaku tertentu yang di luar kewajaran. Kalau ada anggota keluarga yang mulai ngusuh alias ‘bersarang’ alias mengumpulkan terlalu banyak barang di sekitar ruang hidupnya, perlu segera diingatkan.

Silakan saja hobi mengoleksi barang, asal jangan berlebihan sampai menjadi gangguan bagi diri sendiri atau bagi anggota lain dalam keluarga.

Facebook Comments

Comments are closed.