Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pernah nonton film serial Habibie-Ainun? Atau, pernah membaca buku Habibie-Ainun? Buku, yang kemudian difilmkan, itu adalah obat sangat mujarab bagi permasalah psikis yang sempat dialami presiden ketiga Indonesia.
Pada masa purna pemerintahan, Pak B. J. Habibie banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan sosial, ilmiah, dan filantropi. Namun, Beliau sangat kaget saat Ibu Ainun mendadak dilarikan ke rumah sakit yang tak lama kemudian wafat.
Ditinggal istri tercinta, Pak Habibie mengalami psikosomatis malignant. Mengalami depresi, stres, atau kondisi psikologis ekstrem yang sangat serius mempengaruhi kesehatan fisik dan bahkan mengancam jiwa. Nah, cara Beliau mengatasi masalah itu adalah menuliskan semua uneg-uneg tentang Bu Ainun. Hasilnya, Pak Habibie kembali sehat dan tegar plus buku sangat laris.
Pembaca yang budiman, saya tidak akan membahas buku beserta isinya. Jika pingin baca, silakan cari sendiri saja. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengungkap alasan ilmiah mengapa menulis bisa menyembuhkan depresi berat.
Salah satu perawatan terbaik dan telah teruji untuk PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder alias Gangguan Stres Pasca Trauma) adalah terapi perilaku kognitif (CBT) berupa perawatan prolonged exposure (PE). Metodenya adalah menceritakan kembali kisah traumatik pasien pada terapisnya selama 30 menit atau lebih.
Kebanyakan pasien merasa sulit menceritakan kenangan yang menyakitkan. Lalu, setelah bisa diceritakan kembali berulang kali, kondisi tersebut kehilangan muatan emosionalnya. Akhirnya, pasien merasa bosan dengan memori hingga siap melupakannya. Nah, perawatan ini efisien namun memerlukan keterlibatan intensif sejumlah terapis dan waktu relatif panjang.
Cara terbaik lain untuk mengatasi PTSD adalah menuliskan memori emosional itu. Salah satu bukti ilmiah keampuah metode ini diungkap Denise Sloan PhD profesor psikologi di National Center for PTSD di Boston, Amerika Serikat. Ia bersama beberapa rekan meneliti efektivitas metode written exposure therapy (WET alias terapi paparan tertulis).
Peserta penelitannya 178 veteran yang memilih antara PE dan WET dan diamati selama tujuh bulan. Penelitian membuktikan, periode WET membutuhkan waktu lebih pendek daripada PE untuk mengatasi PTSD. Hanya butuh waktu separonya.
Dalam WET, orang selama 30 menit menuliskan sendiri tentang traumanya. Saat menulis, mereka fokus pada perasaan dan pikiran yang mereka alami saat trauma pada tiga sesi WET pertama. Dua sesi terakhir WET berfokus pada bagaimana peristiwa tersebut mempengaruhi kehidupan mereka. Lima kali penulisan bisa segera menurunkan gangguan PTSD.
Jadi, kalau Anda sedang punya masalah dengan depresi, stress, dan pikiran negatif lainnya, ada baiknya menuliskannya secara lengkap agar Anda jadi lebih tenang. Setelah membaca sendiri tulisan itu, maka Anda juga bisa mendapatkan berbagai pemahaman atas kondisi Anda sendiri. Ini mmpercepat pemulihan.


