Yuk Nambah Wawasan tentang Responsif Seksual

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Sesekali nulis tentang psikologi seksual, nggak papa kan? Yang saya ingin kali adalah bagaimana menjadi responsif seksual dan bukan menjadi tukang ngeluh.

Empat pakar dari York University di Kanada meneliti masalah ini.

Menurut mereka, bersikap responsif berarti menunjukkan ketertarikan pada pasangan, memperhatikan dan mengenali kebutuhan pasangan, mengungkapkan pemahaman yang akurat mengenai kebutuhan pasangan, dan memberikan perhatian yang sensitif dan tepat waktu pada pasangan. Sikap responsif ini mendorong keharmonisan dan chemistry antarpribadi.

Nah, responsif seksual berarti mengacu pada pemahaman, akomodasi, dan pemenuhan kebutuhan, keinginan, dan preferensi seksual pasangan. Bagaimana caranya? Antara lain dengan melakukan kompromi dan perubahan pada diri sendiri, seperti lebih sering atau mencocokkan waktu saat melakukan hubungan intim atau mengakomodasi pilihan seksual pasangan. Responsif seksual juga melibatkan perhatian terhadap sinyal verbal dan nonverbal pasangan, mencari kepuasan bersama, dan terbuka terhadap eksperimen seksual.

Orang yang responsif seksual ini sangat berharga terutama bagi pasangan yang dulu kebutuhan seksualnya jarang terpenuhi atau yang saat ini menghadapi masalah kesehatan seksual. Orang yang responsif seksual ini sangat berharga bagi pasangan yang misalnya bermasalah dengan rendahnya hasrat seksual atau mengalami rasa sakit saat berhubungan.

Di sisi lain, responsif seksual juga berarti dapat menahan rendahnya kepuasan dan kesejahteraan seksual dirisendiri yang terkait dengan hasrat seksual yang mungkin tidak terpenuhi. Hasrat tentang daya tarik, status, kekayaan, gairah romantis, dan lain-lain. Jadi, ada semacam sedikit pengorbanan diri demi bisa menyesuaikan dengan pasangan.

Apa bukti ilmiahnya?

Penelitian pada 2021 menemukan, ketika orang-orang yang cemas menganggap pasangan mereka responsif terhadap kebutuhan seksual mereka, mereka justru melaporkan tingkat hubungan dan kepuasan seksual, kepercayaan, dan komitmen yang sama dengan orang-orang yang tidak terlalu cemas.

Apa kekurangannya?

Responsif seksual bisa menimbulkan kesejahteraan dan kepuasan hubungan ketika hal itu dipilih atau dilakukan secara bebas, otonom, dan ditentukan sendiri. Sebaliknya, ketika mengakomodasi orang lain dengan mengorbankan kepentingan, preferensi, dan kebutuhan diri sendiri, hal ini dapat menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kesejahteraan pribadi.

Sikap responsif seksual yang terpaksa ini bisa menimbulkan;

  • hasrat seksual yang lebih rendah,
  • penurunkan hubungan dan kepuasan seksual,
  • distress seksual terutama pada wanita dengan hasrat seksual rendah,
  • fungsi seksual yang lebih buruk.
  • kecemasan dan depresi yang lebih tinggi.
  • rasa lebih sakit, terutama pada wanita, saat berhubungan seksual

Ketika sikap atau tindakan responsif seksual tidak ditentukan oleh diri sendiri, tapi didorong oleh semacam rasa kewajiban, rasa bersalah, rasa terancam, rasa terpaksa, atau ketakutan tertentu, seseorang akan cenderung merasa tidak tertarik, tidak terikat, dan tidak terhubung saat berhubungan seks. Merasa terpisah saat berhubungan intim tidak meningkatkan keintiman dan kepuasan hubungan.

Facebook Comments

Comments are closed.