ODD, saat Anak Maunya Ngelawan Terus

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, anak tetanggaku nakal banget,” seorang teman memulai curhat.

“Nakalnya bagaimana? Positif atau negatif?”

“Mudah kesal. Sedikit-sedikit, tersinggung. Sering marah-marah. Sering bohong. Suka bikin masalah. Kalau diberi tugas, cepat frustrasi. Cepat murung atau marah tanpa alasan pasti. Diperintah orangtuanya, bahkan yang sangat sederhana, ia tidak pernah menurut. Perilakunya suka menantang orang tua. Bandel. Tak mau patuh pada aturan. Bersikap bertentangan….”

“Wah, wah, wah, detail betul kau mengamatinya?”

Wong keluarganya tinggal di seberang depan rumah. Saya bisa lihat dan dengar karena kami tak pakai pagar.”

“Usianya berapa anak itu?”

“Tujuh tahun.”

“Kalau memang begitu, anak ini perlu mendapat perhatian khusus. Bahkan terapi khusus.”

“Kenapa?”

“Jangan-jangan dia punya ODD.”

“Apa itu?”

Oppositional defiant disorder. Ini gangguan kejiwaan yang bisa muncul pada masa kanak-kanak, antara usia 6 – 8 tahun, dan dapat berlangsung hingga dewasa. Ini lebih dari sekadar ngamuk normal, tapi sudah seperti sifat membangkang semaunya sendiri. Bisa terjadi di rumah, di sekolah, bahkan di mana saja.”

“Iya. Anakku bilang, dia juga sering bikin ulah di sekolah.”

“Nah, anak itu perlu penanganan khusus. Kalau ODD sering terjadi dan parah, ia bakal kesulitan belajar akademik atau sosial karena perilakunya itu. Mumpung masih anak-anak, ia perlu intervensi agar ODD-nya tidak berkembang menjadi gangguan perilaku yang lebih serius. Jangan sampai ia tumbuh dewasa dengan gangguan berat.”

“Oh, gitu.”

“Iya. Meski ODD bukan gangguan seserius psikotik atau bipolar, tapi bisa berdampak signifikan pada anak dan keluarganya. ODD itu dapat menjadi kondisi yang persisten dan berkelanjutan jika anak itu tidak ditangani dengan tepat. Seringkali, ODD menjadi pemicu gangguan perilaku lain saat anak tumbuh dewasa.”

“Bagaimana terapinya?”

“Pertama, tentu anaknya diperiksa dulu kondisinya. Jika memang ODD, biasanya ada terapi perilaku. Kalau parah, mungkin juga perlu terapi medis. Untuk ini butuh tenaga profesional. Psikolog, psikiater. Bisa juga oleh orang tertentu yang bisa menyentuh hatinya.”

“Terus?”

“Kedua, keluarganya juga perlu terapi. Dilihat dulu apakah ada kondisi tertentu dalam keluarga yang memicu anak ODD. Lalu, keluarga disosialisasi untuk secara bersama mangatasi ODD anak itu.”

“Iya, deh. Mungkin besok atau lusa aku sampaikan ini pada orangtuanya.”

“Oh, ya. Tolong juga sampaikan, tidak semua kasus ODD berakhir dengan dampak serius. Banyak anak atau remaja yang ODD dapat memperoleh manfaat dari perawatan yang sesuai. Yang penting, diagnosis dan perawatan yang tepat lebih dulu.”

Facebook Comments

Comments are closed.