Siapa Bilang Kaum Pria Gak Bisa Narsis?

Oleh: Esti D. Purwtasari

mepnews.id – Siapa bilang hanya kaum wanita yang suka narsis? Diam-diam, banyak juga lho pria yang juga narsis. Nah, tuuh! Bahkan, kadar kenarsisan kaum pria ditentukan oleh kadar testoteron masing-masing.

Narsis adalah istilah untuk menggambarkan sifat atau perilaku seseorang yang memiliki kecenderungan sangat mencintai diri sendiri, merasa superior, dan terlalu fokus pada kebutuhan dan kepuasan pribadi. Orang narsis cenderung memiliki pandangan berlebihan terhadap diri sendiri, merasa lebih penting daripada orang lain, dan seringkali mencari perhatian, pengakuan, atau pujian dari orang lain.

Berdasarkan levelnya, ada narsisme grandiose yang sangat berlebihan sehingga kadang tak terkendali, dan ada juga narsisme neurotik yang tingkatnya lebih rendah sehingga lebih terkendali

Narsisme grandiose dibagi dua. Narsisme agentik (ketegasan, keagungan, dan perasaan superior) yang cenderung mempromosikan diri untuk mendapatkan kekaguman orang lain dan/atau menjadi berpengaruh secara sosial. Narsisme antagonistik (arogansi, suka bertengkar, dan eksploitatif) mengacu pada strategi reaktif dalam menanggapi ancaman terhadap ego atau status sebagai cara untuk memulihkan apa yang telah terancam.

Nah, para peneliti di Polandia menyelidiki narsisme pada 283 pria Polandia dengan usia rata-rata 22,84 tahun. Para peserta penelitian melaporkan sendiri kondisi narisis mereka dan kemudian para peneliti mengukurnya dengan objektif. Kadar testosteron dievaluasi melalui pengambilan sampel darah, dan didapat dua indikator testosteron basal; yaitu kadar testosteron total dan kadar testosteron bebas.

Setelah pengambilan sampel darah, peserta mengisi survei Qualtrics. Ada banyak kuesioner narsisme, antara lain 1) Inventarisasi Kepribadian Narsistik dengan fokus pada narsisme agentik; 2) Kuesioner Kekaguman dan Rivalitas Narsistik yang mengukur narsisme agentik dan antagonistik; 3) Inventarisasi Narsisme Lima Faktor yang menghasilkan skor untuk narsisme agentik, antagonistik, dan neurotik, 4) Skala Narsisme Hipersensitif, yang menangkap narsisme neurotik. Peserta juga memberikan penilaian testosteron mereka sendiri, yang menunjukkan bagaimana mereka dibandingkan dengan peserta lain pada skala 1 (sangat rendah) hingga 25 (sangat tinggi).

Di sini, para peneliti kemudian memeriksa bagaimana aspek narsisme yang telah diidentifikasi dalam penelitian sebelumnya dikaitkan dengan testosteron yang dianggap sebagai ‘hormon sosial’ yang mendorong perilaku dan motivasi dominasi.

Hasilnya, narsisme agentik berhubungan positif dengan kadar testosteron kaum pria. Salah satu aspek narsisme –yakni agentik– terkait langsung dengan peningkatan kadar testosteron. Pria memiliki pengetahuan mengenai tingkat testosteron mereka. Yang memiliki narsisme agentik umumnya lebih tinggi menilai tingkat testosteron mereka secara positif. Narsisme antagonistik dan neurotik tidak terlalu terkait dengan ukuran testosteron.

Facebook Comments

Comments are closed.