Benarkah Orang yang Narsistis Cenderung Selingkuh?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Anda sedang membina hubungan dekat dengan orang yang narsistis? Kalau ya, dan Anda serius, maka beri dia perhatian khusus. Ini untuk mencegah peluang terjadinya masalah selingkuh.

Lho, koq bisa?

Baiklah, saya akan coba jelaskan alasannya.

Pertama, saya bahas sekilas tentang kepribadian narsistis. Istilah ini mengacu pada pola perilaku dan karakteristik kepribadian yang ditandai oleh kebutuhan berlebihan akan perhatian dan pengakuan, rasa percaya yang sering kali melebihi batas rasional, kurangnya empati terhadap orang lain, dan dorongan untuk dominasi serta mendapat kesuksesan. Orang dengan kepribadian narsistik cenderung memiliki pandangan yang sangat tinggi tentang diri sendiri dan berusaha untuk diakui sebagai yang terbaik atau istimewa dalam berbagai hal. Ciri umum kepribadian narsistis antara lain; selalu butuh pengakuan, empati yang terbatas, sering berfantasi tentang kehebatan diri, rasa percaya diri berlebihan, bersifat sangat kompetitif, tapi rentan terhadap kritik. Kepribadian narsistis dapat mempengaruhi hubungan interpersonal karena ia cenderung fokus pada diri sendiri, mengabaikan perasaan dan kebutuhan orang lain, dan sulit menjalin hubungan yang saling memuaskan.

Berikutnya, saya sampaikan salah satu temuan penelitian ilmiah terbaru tentang hubungan antara si narsis dengan perilaku cenderung selingkuh atau tidak setia pada pasangan. Bukan hanya saat masih lajang, orang yang berkarakter narsistis punya peluang untuk tidak setia bahkan saat sudah punya pasangan.

Penelitian di Israel ini melibatkan 135 pasangan heteroseksual yang telah menikah setidaknya tiga tahun dan setidaknya punya satu anak. Usia mereka rata-rata 30 tahun dan lebih dari setengahnya menggambarkan diri mereka sebagai sekuler (meski semua orang Yahudi), relatif berpendidikan tinggi, dan sebagian besar bekerja atau berpendidikan akademis. Hubungan pernikahan dan jangka panjang ini membedakan mereka dari penelitian sebelumnya yang melibatkan mahasiswa atau umum namun tidak punya ikatan khusus.

Karakterikstik narsisme dalam penelitian ini dibagi dua; grandiose narcissist dan vulnerable narcissist.

Yang disebut grandiose narcissist (narsisis muluk) berkeyakinan mereka tidak hanya lebih baik daripada yang lain tetapi juga merasa pantas mendapatkan yang lebih baik daripada pasangannya. Orang yang vulnerable narcissist (narsisis rentan) bercirikan kebutuhannya akan perhatian terus-menerus berasal dari rasa rendah diri yang mendalam.

Untuk meneliti efek terhadap pasangan, peneliti menggunakan model actor effect (efek dari si pelaku selingkuh) dan partner effect (efek terhadap pasangan yang diselingkuhi).

Oleh peneliti, para responden diminta menuliskan sendiri pengakuan mereka tentang perasaan untuk berselingkuh. Hasilnya menunjukkan, sikap wanita terhadap perselingkuhan secara positif terkait dengan narsistis muluk mereka sendiri dan narsistis rentan mereka sendiri tapi terkait secara negatif dengan narsistis muluk pasangan pria mereka. Sikap pria terhadap perselingkuhan secara positif terkait dengan narsistis rentan mereka sendiri dan narsistis rentan pasangan wanita mereka, tetapi tidak terkait positif dengan narsistis muluk mereka atau narsistis muluk pasangan wanita mereka.

Ya, penelitian ini membuktikan kecenderungan orang narsistis untuk berselingkuh. Yang narsis muluk ingin menunjukkan ia berhak mendapat yang terbaik yang ia bisa meski tetap menjaga hubungan dengan pasangan. Yang narsis rentan juga cenderung cari sampingan sekadar untuk menunjukkan dia layak mendapat perhatian di luar sana.

Tapi, ini hanya satu penelitian yang melibatkan sedikit responden dan dalam satu kultur tertentu. Sejauh ini, belum ada konsensus ilmiah kuat tentang apakah semua orang narsistis cenderung gampang berselingkuh. Meski beberapa penelitian menunjukkan korelasi antara kepribadian narsistis dan perilaku selingkuh, kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa setiap individu narsistis pasti selingkuh.

Jika Anda punya pasangan yang punya ciri-ciri narsistis, beri perhatian yang lebih untuk menghindari peluang perselingkuhan. Harap diingat, sifat dan perilaku orang itu sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain lingkungan, pengalaman hidup, dan interaksi sosial.

Facebook Comments

Comments are closed.