Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pernah dengar istilah ‘mandi pohon’ alias ‘mandi hutan’ yang bahasa aslinya shinrin-yoku (森林浴)?
Praktiknya sederhana saja. Luangkan waktu yang signifikan bersama pohon-pohon. Tidak harus mandi, tidak harus berolahraga, tidak harus jelajah hutan atau mendaki gunung. Cukup duduk, berjalan, atau bersantai saja di antara pohon-pohon besar. Pendeknya, ini tentang bagaimana kita bisa terhubung dengan lingkungan pepohonan melalui semua indra.
Shinrin-yoku pertama kali diperkenalkan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang pada 1982 sebagai salah satu cara meningkatkan kesehatan mental positif. Kemudian, sejumlah penelitian ilmiah kemudian membuktikan manfaatnya.
Berbagai minyak esensial, umumnya disebut phytoncide, biasa ditemukan di kayu, tanaman, dan beberapa buah dan sayuran. Minyak esensial ini dipancarkan pohon untuk melindungi diri dari kuman dan serangga. Nah, selain udara kaya oksigen yang lebih segar dan lebih baik saat dekat banyak pohon, menghirup phytoncide juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Praktik ini bertujuan meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan emosional dengan menghadirkan diri sepenuhnya di alam yang natural. Shinrin-yoku mengajak orang mengalami keheningan dan keindahan alam, menghirup udara segar yang dihasilkan pepohonan, serta merasakan kesejukan dan sentuhan alam di sekitar.

Tidak harus mendaki atau trekking, cukup bersantai saja di antara pepohonan.
Berada di alam bebas dan menikmati lingkungan sekitar dapat membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan. Terpapar langsung dengan alam dapat membantu memulihkan daya konsentrasi dan fokus mental. Berjalan di hutan dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi depresi. Beberapa penelitian menunjukkan terapi alam mendukung sistem kekebalan tubuh. Interaksi dengan alam dapat membantu mengurangi tekanan darah dan memperbaiki kesehatan kardiovaskular.
Meski demikian, seperti halnya dengan kegiatan apa pun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Berjalan di hutan melibatkan medan yang tidak rata, akar pohon, batu-batuan, dan berbagai hambatan alami yang memungkinkan risiko kecelakaan, jatuh, tergelincir, atau terkilir. Berada di alam liar juga meningkatkan risiko alergi serbuk sari atau gigitan serangga. Di hutan kadang ada binatang liar yang dapat berbahaya bagi manusia. Begitu juga dengan cuaca ekstrem seperti hujan deras, badai petir, atau suhu ekstrem, dapat membahayakan keselamatan.
Kalau misalnya tidak memungkinkan di hutan alami, bisa juga koq mandi pohon di taman kota, kebun raya, kebun buah pertanian, dan sejenisnya. Yang penting ada sejumlah pohon besar.


