Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Aku itu nggak suka nongkrong sama perempuan,” kata Maya, perempuan yang belum lama memasuki usia dewasa.
“Loh, aku kan juga perempuan?” aku membalas, tertawa kecil.
“Oh, Mbak Esti lain. Nggak ribet, nggak pakai drama, tapi enak buat curhatan.”
“Memang kenapa dengan perempuan lain?”
“Ya, karena kebanyakan mereka baperan, suka ngomongin orang, sensitif.”
“Hmmm, sadar nggak kamu barusan menggambarkan perempuan sebagai satu tipe yang sama?
“Lah memang kan begitu kenyataannya? Lihat aja di kantor. Yang ambisius dibilang galak. Yang pendiam dibilang nggak kompeten.”
“Wah, wah…. jangan nggebyah uyah, dong.”
…………..
Pembaca yang budiman, tampaknya Maya termasuk female misogynist. Ia perempuan yang memiliki sikap misogyny yaitu benci, merendahkan, atau berprasangka buruk terhadap perempuan—bahkan termasuk terhadap dirinya sendiri. Kate Manne, lewat bukunya Down Girl: The Logic of Misogyny, menyebut misogyny bukan sekadar kebencian terhadap perempuan tetapi sebagai sistem yang menghukum perempuan yang melanggar norma gender.
Dalam praktiknya, misogyny bisa berupa meremehkan perempuan, menganggap perempuan lebih rendah, membatasi peran perempuan, bahkan sampai menganggap wajar saja saat ada diskriminasi berbasis gender. Nah, female misogyny berarti yang melakukan misogyny adalah perempuan juga.
Bagaimana bisa Maya yang perempuan malah bersikap misogyny terhadap perempuan?
Sandra Lee Bartky menjelaskan ini melalui konsep internalized misogyny. Menurutnya, perempuan bisa menyerap norma budaya patriarkal yang merendahkan perempuan, lalu menghakimi perempuan lain yang tidak sesuai standarnya, menganggap perempuan emosional, tidak rasional, kurang kompeten, dan sejenisnya.
Jadi, saya tak terlalu heran saat Maya beberapa kali bilang, “Aku tidak suka berteman dengan perempuan, mereka tukang drama,” atau “Perempuan memang tidak cocok jadi pemimpin seperti lelaki,” atau “Perempuan yang ambisius itu egois.”
Jadi, diskriminasi gender itu bukan hanya dilakukan oleh laki-laki. Norma sosial semacam bisa direproduksi oleh siapa saja —termasuk oleh perempuan.
Lalu, bagaimana mengajak Maya untuk mengendalikan rasa misogyny-nya?
Tentu butuh penataan mindset bahwa misogyny adalah pola sosial dan bukan kepribadiannya. Jika Maya meremehkan perempuan lain, kemungkinan ia mereproduksi standar sosial yang ia pernah ia alami atau pelajari sebelumnya. Maka, ia harus memisahkan antara ‘aku yang jahat’ dan ‘aku mengadopsi nilai yang keliru’.
Untuk bisa memisahkan, Maya perlu meninjau akar dari perasaannya. Bisa jadi, internalized misogyny muncul dari kompetisi sosial dengan sesama perempuan, rasa tidak aman (insecurity) saat berada di antara sesama perempuan, punya pengalaman masa lalu pernah dibanding-bandingkan dengan perempuan lain, pernah mengalami trauma dalam hubungan dengan perempuan lainnya, dan sebagainya. Jika akar dari perasaan itu bisa ditemukan, segera hilangkan.
Lalu, Maya harus berlatih mengambil cara pandang yang baru. Ketika muncul pikiran negatif terhadap perempuan, maka ia bisa mengubahnya jadi lebih positif. Saat ada pikiran; “Dia terlalu ambisius,” maka Maya bisa mengubahnya menjadi, “Ia boleh punya kesempatan untuk sukses seperti lainnya.”
Ini bisa dilakukan dengan latihan empati. Maka, saya ajak Maya bertanya pada dirinya sendiri: “Jika saya berada di posisinya, bagaimana?” atau, “Apakah saya juga pernah dinilai seperti saya menilai perempuan itu?”
Dengan metode ini, diharapkan Maya bisa melepas rasa female misogyny.



POST A COMMENT.