Membedah Mozaik Banyuwangi; dari Buku ke Ekosistem Informasi

mepnews.id – Sekitar 50 aktivis literasi berkumpul di Aula Literasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Jawa Timur, Jumat 13 Februari 2026. Para aktivis dari Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), dan lain-lain mengikuti kegiatan Baca Puisi dan Bedah Buku ‘Mozaik Banyuwangi.’

Prof Dessy Harisanty dari Universitas Airlangga, Aditya Akbar Hakim praktisi penulis, dan Teguh Wahyu Utomo hadir sebagai pembedah buku antologi 333 halaman karya 52 penulis dan diterbitkan Iqro Semesta tahun 2022 itu. Melkion Donald dari Disperpusip menjadi moderator.

Ketua IPI Jawa Timur, Drs Supratomo MSi, menyambut baik kerjasama antara Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Jatim, Disperpusip Jatim, dan IPI menggelar kegiatan ini. “Kita sama-sama pejuang literasi. Sesama pejuang, kita ini ibaratnya rantai yang bersinergi untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).”

Ir Tyat Suwardi MSi, Kadis Perpusip Jatim, dalam sambutannya berharap diskusi semacam ini bisa memunculkan aspek-aspek unik yang meningkatkan kemajuan daerah. “Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati jangan hanya meninggalkan nama, tapi juga karya.”

Dalam sesi bedah buku, Dessy membahas konten buku. “Buku ini mencoba menampilkan Banyuwangi bukan hanya sebagai wilayah geografis tapi sebagai semesta pengalaman manusia, budaya, dan peradaban lokal.”

Guru besar Fakultas Vokasi Universitas Airlangga itu memaparkan bagaimana proses dari buku menuju ekosistem informasi lewat konsep ‘prosumer‘ yang digagas Alvin Toffler. Penulis bukan hanya konsumen informasi tapi juga produsen. Awalnya dari membaca dan mengumpulkan informasi, kemudian berlanjut memproduksi dan mendistribusikan lewat buku.

Menurutnya, para penulis buku Mozaik Banyuwangi adalah guru, siswa, mahasiswa, aktivis yang mengangkat tema sangat beragam. Dalam tulisan tentang Jurang Fantasi dan Sendang Seruni, misalnya, para penulis memaparkan pengembangan wisata sebagai bagian dari model community-based tourism, yani wisata berbasis potensi lokal dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku.

Beberapa penulis juga mengangkat budaya lokal sebagai warisan pengetahuan. Antara lain tulisan tentang Gandrung dan Petik Laut yang bukan hanya ekspresi seni atau ritual sosial semata tapi juga bentuk pengetahuan kolektif masyarakat.

Tak kalah menarik, para penulis juga mengungkap kuliner bisa jadi media narasi budaya. Tulisan tentang Ayam Kesrut, misalnya, tidak hanya menggambarkan khasanah kuliner lokal tapi juga representasi identitas using.

Aditya Akbar Hakim menekankan pentingnya menulis untuk ‘branding‘. Menurut sekretaris GPMB Jatim itu, individu atau institusi bakal bisa dikenal dan dikenal lebih lama jika punya karya.

Teguh Wahyu Utomo, yang menjadi editor buku Mozaik Banyuwangi, memaparkan proses terjadinya buku. Sembari mengajak hadirin untuk turut berbicara soal banyuwangi, ia juga membagi-bagikan buku.

Acara makin meriah karena sebelum dan sesudah bedah buku ada aksi baca puisi.

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.