mepnews.id – Setelah keluar dari situasi pandemi COVID-19, sekarang ada nama baru yang lagi ramai diperbincangkan di berita internasional: Virus Nipah. Eits, tapi jangan langsung panik ya! Meski terdengar menakutkan, kuncinya adalah tetap update dan tahu cara jaga diri.
Penasaran apa itu Nipah dan kenapa tiba-tiba muncul di awal 2026?
Yuk, kita bahas!
Nipah sebenarnya bukan virus baru. Pada 1998–1999, virus ini dikenali sebagai penyebab infeksi pada manusia selama wabah di peternakan babi di desa Sungai Nipah di Malaysia. Petani dan pekerja yang dekat babi sakit tertular sakit juga. Virus ini berhasil diisolasi.
Virus ini kembali jadi sorotan setelah ditemukan kasus baru di India pada awal 2026. Awalnya, otoritas kesehatan di Benggala Barat, dekat Kolkata, mengonfirmasi dua perawat terinfeksi, disusul tiga kasus baru lainnya di lingkungan tenaga medis.
Nipah termasuk zoonosis, yang artinya bisa menular dari hewan ke manusia. Asalnya dari kelelawar buah (biasa disebut codot) dan menular melalui babi.
Banyak yang tanya, apakah virus Nipah bakal jadi pandemi kayak COVID-19? Secara penularan, virus Nipah tidak semudah COVID tapi fatalitasnya tinggi. Tingkat kematiannya akibat virus Nipah 40% – 75%. Masalahnya, sampai detik ini belum ada vaksin khusus atau obat spesifik untuk menyembuhkan infeksi akibat virus Nipah. Perawatan medis saat ini masih fokus pada meredakan gejalanya saja.
Gak perlu parno berlebihan, asal paham cara menghindari cara-cara virus ini menular:
- Kontak langsung berupa terpapar cairan tubuh (air liur, darah, atau urin) dari hewan atau manusia yang terinfeksi. Peternak babi dan orang yang sering berinteraksi dengan hewan itu memiliki risiko lebih tinggi.
- Makan buah yang sudah digigit atau terkena cairan tubuh hewan terinfeksi. Kalau ada buah codotan, buang saja. Jika ingin memakannya, sterilkan dulu dengan disinfektan atau dipanaskan.
- Kontak erat yakni sering kontak langsung dengan manusia terinfeksi melalui cairan tubuh (darah, urin, air liur). Biasanya terjadi di lingkungan keluarga atau rumah sakit yang menangani pasien tanpa proteksi cukup.
Kalau sudah terinfeksi virus Nipah, gejala biasanya muncul 4 sampai 14 hari kemudian dengan tanda-tanda:
- Gejala awal: Demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, muntah dan sakit tenggorokan.
- Masalah pernapasan: batuk, sulit bernapas dan pneumonia (radang paru-paru).
- Fase berat: Jika sudah menyerang otak (radang otak), penderita bisa merasa linglung, sulit fokus, kejang, bahkan sampai koma dalam waktu 24-48 jam.
Kabar baiknya, di Indonesia sejauh ini belum ditemukan kasus pada manusia. Walaupun begitu, virus ini sudah terdeteksi pada sejumlah kelelawar. Jadi, kita tetap harus siaga.
Apa yang dilakukan Pemerintah Indonesia? Kementerian Kesehatan sudah memperketat pengawasan di bandara dan perbatasan, terutama bagi penumpang yang datang dari wilayah terdampak.
Apa yang kita bisa lakukan? Lebih baik mencegah daripada mengobati. Yuk, terapkan kebiasaan ini :
- Rutin cuci tangan: Cuci tangan di air mengalir dan gunakan sabun. Terutama setelah kontak fisik dengan hewan atau orang sakit. Ini cara paling simpel tapi ampuh.
- Cuci buah sampai bersih: Jangan langsung makan buah, apalagi kalau ada bekas gigitan hewan.
- Masak daging sampai matang: Pastikan semua makanan yang kamu konsumsi higienis.
- Hindari kontak dengan hewan liar: Terutama kelelawar atau babi yang terlihat sakit.
- Terapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) serta dukung daya tahan tubuh dengan multivitamin atau antioksidan.
Ingat! Kalau kamu atau orang terdekatmu mengalami demam tinggi dan sesak napas, jangan ditunda, segera periksakan diri ke rumah sakit! Stay safe and stay healthy! (Intan)



POST A COMMENT.