mepnews.id – Pernahkah kamu melihat konten kreator di media sosial belakangan ini sibuk packing tas ransel besar berisi banyak peralatan unik? Bukan mau naik gunung, mereka sedang menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB).
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan prediksi resmi BMKG, Indonesia saat ini menghadapi risiko serius. Ada ancaman gempa megathrust yang sudah lama menjadi perhatian dan ‘tinggal menunggu waktu’ di beberapa wilayah Indonesia. Ada juga potensi bencana hidrometeorologi (banjir, longsor dan angin kencang) akibat cuaca ekstrem di musim hujan.
Bencana tidak pernah memberikan kartu undangan. Itulah sebabnya, kesiapan kita saat kondisi tenang adalah kunci untuk tetap selamat saat badai datang. Mari kita bedah apa saja yang perlu disiapkan agar kita dan keluarga bisa survive bersama.
Kenapa Perlu Persiapan?
Saat bencana besar terjadi, tiga fasilitas utama biasanya langsung putus: komunikasi, listrik, dan air bersih. Dalam kondisi gelap, tanpa sinyal, dan sulit air bersih, kita tidak akan punya waktu untuk membongkar lemari mencari dokumen atau obat-obatan. TSB dirancang agar kita tinggal ‘ambil dan lari’ menuju tempat aman dengan semua kebutuhan dasar yang sudah siap di punggung. Saat bencana terjadi, bantuan mungkin tidak bisa datang secara instan. Itulah mengapa kita butuh persiapan mandiri untuk bertahan dalam 72 jam pertama (3 hari) setelah kejadian.
Rencana Evakuasi
Persiapan bukan cuma soal barang, tapi soal kesepakatan keluarga. Apa yang harus dilakukan?
- Titik Temu: Sepakati satu lokasi aman untuk bertemu jika kalian terpisah.
- Waktu Tunggu: Tentukan berapa lama kalian harus menunggu di satu tempat sebelum akhirnya memutuskan mencari bantuan ke posko terdekat.
- Uang Tunai (Cash): Siapkan uang recehan (seperti Rp20.000 – Rp50.000) untuk pegangan operasional minimal 3 bulan. Saat listrik mati, mesin ATM dan pembayaran digital tidak berfungsi.
- Miliki Panel Surya Pribadi : Jangan bergantung sepenuhnya pada PLN. Miliki panel surya kecil (harga mulai 400 ribuan) untuk pengisian daya darurat seperti lampu atau ponsel saat jaringan PLN terputus dalam waktu lama.
Isi TSB
Waktu 72 jam adalah masa paling kritis sebelum bantuan skala besar biasanya tiba di lokasi bencana. Gunakan ransel berkapasitas sekitar 40 liter dan letakkan di dekat pintu keluar agar mudah diambil saat evakuasi. Berikut adalah 5 pilar utama isinya:
- Dokumen Vital: Masukkan KTP, KK, ijazah, dan sertifikat (asli/fotokopi) ke dalam map plastik anti air.
- Konsumsi: Air mineral (minimal 6 liter per orang) dan makanan tahan lama seperti biskuit, mie instan atau makanan kaleng.
- Kesehatan: Kotak P3K (plester, antiseptik, perban), obat rutin pribadi (seperti inhaler asma), vitamin, antiseptik, tisu basah dan masker N95 untuk perlindungan dari debu atau abu vulkanik.
- Alat Darurat: Senter (headlamp), baterai cadangan, powerbank minimal 10.000 mAh, peluit untuk sinyal pertolongan, pisau lipat serbaguna, dan korek api. Jangan lupa siapkan catatan kecil dan alat tulis.
- Pakaian & Proteksi: Pakaian ganti sesuai cuaca, jas hujan ponco, dan selimut darurat (thermal blanket) berbahan foil untuk menjaga suhu tubuh agar tidak terkena hipotermia.
- Kebutuhan Khusus: Jangan lupa siapkan perlengkapan spesifik untuk bayi, lansia, atau hewan peliharaan jika ada.
- Stok Rumah: Jika kondisi mengharuskan kita tetap di rumah, pastikan tersedia cadangan air besar (galon), kompor portabel, dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Menyiapkan TSB bukan berarti kita mengharapkan hal buruk, tapi agar kita punya kendali atas keselamatan diri sendiri dan orang yang kita sayangi. Saat bencana datang, waktu yang kita miliki hanyalah untuk menyelamatkan diri, bukan untuk berkemas.
Yuk, mulai cicil isi tasmu hari ini!
Tips Tambahan
- Periksa masa kedaluwarsa makanan dan kondisi baterai setiap 3-6 bulan.
- Pastikan seluruh anggota keluarga tahu di mana TSB disimpan dan tahu cara menggunakannya.
- Tetap pantau informasi resmi hanya dari aplikasi BMKG atau kanal pemerintah terkait untuk menghindari hoaks yang sering beredar di media sosial. (intan)



POST A COMMENT.