Hati-hati Jika Lansia Sakit Gusi

oleh: Esti D. Purwitasasari

mepnews.id – “Saya kepikiran banget akhir-akhir ini. Gusi saya luka. Awalnya cuma sariawan, tapi kok lama sembuhnya? Terus saya mikir yang aneh-aneh.”

“Mikir apa?”

“Takutnya ini ada hubungannya ke otak. Luka di gusi ini kecil tapi rasanya nyeri sampai kepala.”

“Oh, gitu. Kadang sakit di mulut itu bikin panik, apalagi dekat saraf. Sudah periksa ke dokter gigi?”

“Belum. Tapi, akhir-akhir ini saya sering pusing, susah fokus. Mungkin perlu ke spesialis syaraf juga, ya?”

…………..

 

Pembaca yang budiman, sangat dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter jika ada rasa sakit di gusi dan ada gangguan tak nyaman di kepala. Penelitian yang diterbitkan di Neurology® Open Access mengungkap, penyakit gusi pada orang lanjut usia (lansia) mungkin menunjukkan tanda-tanda cedera pada materi putih di otak. Tanda-tanda yang dikenal sebagai ‘hiperintensitas materi putih’ ini berupa bintik-bintik terang kecil yang muncul pada pemindaian otak. Nah, ada hubungan antara penyakit gusi dan perubahan kondisi otak ini meski para peneliti belum bisa membuktikan bahwa yang satu menjadi penyebab yang lain.

Perlu Anda ketahui, materi putih terdiri dari kumpulan serabut saraf yang memungkinkan berbagai bagian otak untuk berkomunikasi. Ketika jaringan ini rusak, maka dapat mengganggu memori, penalaran, keseimbangan, dan koordinasi, hingga peningkatan risiko stroke. Biasanya, hiperintensitas materi putih meningkat seiring bertambahnya usia dan dianggap sebagai penanda cedera otak.

Para peneliti dari Universitas South Carolina di Columbia (Amerika Serikat) menduga kuat peradangan kronis di mulut berpotensi memengaruhi kesehatan pembuluh darah di otak. “Studi kami menunjukkan hubungan antara penyakit gusi dan hiperintensitas materi putih. Ini menunjukkan kesehatan mulut berperan bagi kesehatan otak,” kata Souvik Sen MD MS MPH penulis utama penelitian.

Penelitian melibatkan 1.143 peserta dengan usia rata-rata 77 tahun. Setiap peserta menjalani pemeriksaan gigi untuk menilai kesehatan gusi mereka. Dari semua peserta, 800 mengalami penyakit gusi dan 343 tidak. Lalu, peserta menjalani pemindaian otak untuk mencari bukti penyakit pembuluh darah kecil serebral yang melibatkan kerusakan pada pembuluh darah kecil di otak. Jenis penyakit ini dapat muncul pada foto pencitraan sebagai hiperintensitas materi putih, pendarahan mikro serebral, atau infark lacunar. Semua ini lebih umum terdeteksi seiring bertambahnya usia dan terkait dengan risiko stroke, masalah memori, dan kesulitan bergerak.

Hasilnya?

Dari penderita penyakit gusi, ditemukan data volume hiperintensitas materi putih rata-rata lebih tinggi, yaitu 2,83% bagian otak, dibandingkan 2,52% pada mereka yang tidak menderita penyakit gusi.

Lalu, para peneliti mengelompokkan peserta berdasarkan volume hiperintensitas. Individu dalam kategori tertinggi memiliki lebih dari 21,36 cm³ jaringan yang terpengaruh, mereka yang berada dalam kelompok terendah memiliki kurang dari 6,41 cm³. Ternyata, di antara peserta yang berpenyakit gusi, 28% berada dalam kelompok tertinggi, dibandingkan hanya 19% dari mereka yang gusinya sehat.

Setelah disesuaikan dengan faktor lain termasuk usia, jenis kelamin, ras, tekanan darah, diabetes, dan merokok, peserta penelitian yang berpenyakit gusi memiliki kemungkinan 56% lebih besar untuk berada dalam kelompok dengan kerusakan materi putih paling luas.

Penelitian ini memang belum final, dan masih perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah kondisi kesehatan gusi menyebabkan gangguan di otak. Sejauh ini, yang ditemukan adalah yang gusinya sakit ternyata otaknya mengalami lebih banyak masalah.

Hasil penelitian ini semakin menguatkan gagasan bahwa menjaga kebersihan mulut, termasuk gusi, adalah hal penting. Lebih-lebih, bagi lansia.

“Penyakit gusi dapat dicegah dan diobati,” kata Sen. “Jika studi di masa mendatang mengkonfirmasi hubungan dua hal ini, maka bakal ada cara baru untuk mengurangi potensi penyakit pembuluh darah kecil di otak, yakni dengan cara menargetkan peradangan mulut. Sementara ini, kita perlu menggarisbawahi bahwa perawatan gigi dapat mendukung kesehatan otak jangka panjang.”

Setuju, Pak Dokter.

Facebook Comments

Comments are closed.