Berkhayal tentang Teman Khayalan

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Sesekali saya memantau cerita-cerita selebriti. Bukan cari gosipnya, tapi menelurusuri unsur-unsur psikologi. Nah, saya temukan beberapa kisah tentang ‘teman khayalan.’

Penyanyi Risa Saraswati mengaku sejak kecil punya teman ghaib bernama Peter, Hans, William, Hendrick, dan Janshen. Sara Wijayanto, istri pesulap Demian, mengaku memiliki teman kuntilanak bernama Suti yang tinggal di pohon di halaman rumahnya. Penyanyi Cinta Penelope mengaku waktu kecil punya teman anak genderuwo tanpa sadar. Model Zee Zee Shahab mengaku dulu berteman dengan makhluk ghaib. Presenter dan aktor Ario Astungkoro mengaku saat kecil memiliki teman khayalan meski tidak terlalu detail.

Jika diobrolkan dengan orang-orang awam, maka mereka sangat mungkin berpendapat para selebriti itu berinteraksi dengan makhluk halus. Mereka bisa saja menafsirkan anak yang bicara sendirian sebagai berinteraksi dengan roh penunggu rumah, dengan arwah leluhur, atau dengan makhluk astral.

Dalam psikologi, para selebriti itu sedang berinteraksi dengan teman khayalan (imaginary companion). Berinteraksi dengan tokoh imajiner yang diciptakan si selebriti itu sendiri. Sosok itu bisa berupa manusia, hewan, atau bahkan benda hidup, yang diperlakukan seolah-olah nyata. Diajak bicara, diajak bermain, atau dijadikan tempat curhat. Sosok itu tidak harus berupa ‘imaji yang terlihat’. Kadang hanya berupa ‘suara’ atau ‘sesuatu’ dalam khayalan.

Studi ilmiah tentsng hal itu sudah ada sejak lama. Pada 1894, psikolog G. Stanley Hallsempat menyinggung tentang ‘teman khayalan’ ketika meneliti fantasi anak. Pada 1896, William Chambers menerbitkan artikel “The Child’s Imaginary Companion” di American Journal of Psychology. Lalu, pada 1999, Marjorie Taylor dari University of Oregon menerbitkan hasil riset besar Imaginary Companions and the Children Who Create.

Menurut Taylor, 37%–65% anak usia 3–7 tahun pernah memiliki teman khayalan. Artinya, ini bukan hal langka. Ini sudah menjadi bagian normal dari perkembangan kognitif dan sosial anak.

Dalam kondisi tertentu, teman khayalan ini bisa membantu anak untuk belajar keterampilan sosial, berlatih komunikasi, mencoba berbagi, atau memimpin, lewat interaksi dengan si teman itu. Anak juga bisa mengekspresikan emosi, mudah menyalurkan perasaan takut, marah, atau sedih lewat tokoh khayalan. Bagi anak yang sering sendirian, misalnya karena anak Tunggal atau karena sering ditinggal, teman khayalan ini membantu mengatasi kesepian atau stres. Bagi anak cerdas, teman khayalan mendorong si anak lebih kreatif dan punya kemampuan bercerita.

Apakah berbahaya?

Secara umum, tidak. Banyak psikolog sepakat teman khayalan ini normal.  dan sehat. Saat anak berusia 7–9 tahun, atau saat sudah masuk SD dan banyak berinteraksi dengan teman nyata, biasanya teman khayalan hilang dengan sendirinya.

Mungkin ada satu atau dua kasus seperti yang digambarkan dalam film Drop Dead Fred. Dalam film komedi produksi 1991 itu, Lizzie (diperankan Phoebe Cates) saat menginjak usia dewasa justru berperilaku aneh-aneh karena merasa didatangi Fred si taman khayalan masa kecil.

Jika terjadi demikian, masalah psikologis itu biasanya disebut coping mechanism, daydreaming ekstrem, atau dalam kasus tertentu bisa terkait kondisi mental. Bisa saja gangguan disosiatif, atau malah skizofrenia bila suara/visual terasa benar-benar nyata.

Dalam perspektf lain, lewat ranah parapsikologi, bisa saja fenomena ini dilihat sebagai kelebihan sensitivitas anak terhadap energi atau dimensi lain (extrasensory perception). Anak dianggap ‘lebih terbuka’ karena belum tertutup oleh logika orang dewasa. Ini yang membuat anak lebih mudah ‘menangkap’ kehadiran non-fisik.

Facebook Comments

Comments are closed.