Cuaca Panas Ekstrem Bikin Orang Gampang Nyolot

mepnews.id – Musim kemarau, ditambah gangguan El Niño, menimbulkan cuaca ekstra panas dan udara lebih kering. Kondisi ini, selain memperparah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), juga dapat membuat tubuh manusia lebih cepat lelah dan gampang marah.

Alifah Masturah, dosen UMM.

Menurut dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah SPsi MA, rasa tidak nyaman akibat suhu panas dapat menjadi beban bagi tubuh manusia secara fisik maupun psikis. Berdasarkan teori beban stimulus, beban muncul ketika tubuh menerima rangsangan lingkungan melebihi kapasitas normal.

“Kalau stimulus yang kita terima, kondisi yang kita terima itu, melebihi kapasitas dari normal tubuh kita, maka hal itu akan berdampak pada meningkatnya hormon kortisol. Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres,” kata Alifah lewat situs resmi umm.ac.id.

Peningkatan stres akibat kondisi lingkungan yang tidak nyaman dapat memengaruhi respons emosional. Suhu panas membuat tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi sehingga rasa lelah dan tidak nyaman meningkat. Kondisi tersebut juga dapat membuat proses berpikir tidak berjalan secara optimal. Akibatnya, seseorang dapat menjadi lebih sensitif dalam menangkap perkataan maupun tindakan orang lain.

“Hal-hal yang bersifat netral jadi lebih mudah dimaknai sebagai sesuatu yang mengganggu atau bernada negatif. Suara yang normal, misalnya, bisa kita anggap suara keras. Kok nyolot? Atau, aslinya bercanda tapi kok kayaknya bernada kasar,” ungkapnya.

Selain suhu lingkungan, kondisi tubuh turut menentukan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Dehidrasi dan kurang tidur dapat memperburuk kondisi fisik sekaligus memengaruhi keadaan psikologis. Karena itu, menjaga kondisi tubuh menjadi bagian penting untuk mengantisipasi perubahan suasana hati saat cuaca panas.

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan ialah kualitas tidur. Ia menegaskan, tidur yang baik tidak hanya diukur dari durasinya tetapi juga dari seberapa optimal tubuh dan otak mendapatkan waktu untuk beristirahat. “Bukan perkara lamanya, tapi kualitasnya,” tuturnya.

Tidur yang sering terbangun atau tidak nyenyak belum tentu memberikan pemulihan optimal. Sebaliknya, tidur berkualitas membantu tubuh dan pikiran mendapatkan pemulihan sehingga lebih siap menjalani aktivitas.

Ketika mulai merasa mudah tersulut emosi akibat cuaca panas, ia menyarankan untuk mengurangi stimulus yang membuat tubuh tidak nyaman. Berteduh, minum air, atau mencuci muka dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu tubuh kembali rileks.

“Kalau karena cuaca panas, berarti kita harus berteduh. Minum juga bisa jadi salah satu cara. Kalau memungkinkan, malah cuci muka itu nggak masalah sebenarnya,” ungkapnya.

Ia juga mengajak masyarakat mengenali emosi dan strategi pribadi dalam menghadapi stres. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengelola tekanan sehingga penting memahami kondisi diri.

Dengan mengenali kondisi tubuh, menjaga kualitas tidur, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengurangi paparan panas ketika mulai tidak nyaman, seseorang dapat lebih siap mengendalikan respons emosional di tengah kondisi cuaca panas.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.