Oleh: Budi Winarto*
mepnews.id – Pikiran Anda resah? Perasaan Anda terganggu? Bisa jadi, salah satu penyebabnya adalah komunikasi yang kurang efektif.
Komunikasi, secara langsung maupun tidak langsung, bentuknya verbal (perkataan/ucapan) maupun non-verbal (tulisan, gestur tubuh), terkadang dilakukan seseorang secara asal-asalan. Padahal, saat berkomunikasi secara asal, orang itu tidak memiliki kesadaran posisi sebagai apa dan siapa. Apa yang dia bicarakan bisa merusak etika. Tak pelak, itu juga bisa menimbulkan prasangka yang belum tentu kebenarannya.
Apalagi kalau yang dibicarakan terkait penilaian terhadap seseorang. Tentu pembicaraannya harus ada dasar kuat. Tanpa dasar yang baik, pembicaraan akan mengusik perasaan pihak yang dibicarakan.
Komunikasi yang dibangun atas dasar yang tidak baik itu bisa menyebabkan apa yang diucapkan atau ditulis memiliki kesalahan. Bukan sekadar kesalahan; tingkat menyesatkannya bahkan bisa lebih besar.
Ada memang komunikasi yang dibuat untuk menunjukkan fakta sebenarnya, berdasarkan data dan analisa kuat. Ada juga komunikasi yang sengaja dibangun untuk memperkeruh suasana, mengalihkan isu, menyamarkan kesalahan. Yang paling ringan, ada komunikasi yang dirancang sedemikian rupa sehingga dampaknya tak terasa menyinggung perasaan.
Oleh karena dampaknya, kalau kita tidak bisa berkomunikasi dengan efektif, maka lebih baik kita diam. Jangan asal bicara. Apalagi membicarakan orang lain yang tidak kuat dasarnya.
Dengan diam, kita bisa mengurangi resiko kesalah pahaman, menghindari berita yang menyesatkan, maupun menekan dampak negatif lainnya.
Komunikasi yang baik itu bisa terjadi apabila seseorang melakukannya secara terukur dan jelas. Ia mampu menyederhanakan pesan-pesan secara efektif atau ‘tidak ngglambyar.’ Ia mengetahui ke mana tujuan arah pembicaraan. Tendesi utamanya adalah kemaslahatan.
Saat berkomunikasi yang baik, seseorang tetap memperhatikan unsur empati sehingga menjaga betul perasaan orang yang diajak bicara atau yang dibicarakan. Ia juga juga siap aktif mendengarkan untuk memahami arah pembicaraan. Ia dan yang diajak bicara bisa saling meluruskan ketika ada pembicaraan yang diketahui melebihi batas.
Kondisi ini tentu beda dengan komunikasi yang kurang baik atau tidak efektif. Komunikasi tidak efektif tentu berdampak, misalkan, adanya kesalah pahaman, menimbulkan konflik dan hingga hilangnya rasa percaya diri bagi lawan bicara atau pihak yang dibicarakan. Itu semua timbul karena ketidak jelasan dan kurangnya empati serta pengertian terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain saat mereka berbicara.
Dengan luwesnya komunikasi, kejadian negatif bisa saja terjadi. Untuk menangkal, kita harus memiliki filter yang tangguh agar tidak terbawa arus kesesatan. Pun, saat menjadi korban dari hasil komunikasi yang tidak benar, kita bisa menghadapinya dengan tenang.
Satu hal yang perlu kita persiapkan untuk menghadapinya adalah dengan memperkuat literasi. Literasi yang terbangun dalam diri bisa menjadi penangkal kuat atas berita atau komunikasi yang kurang sehat. Ia akan bisa mengafirmasi diri secara positif untuk beradaptasi sekaligus mendamaikan perasaan.
Seseorang yang memiliki literasi kuat tidak akan mudah terprofokasi dan terjebak dengan kalimat atau berita yang membuat ia tidak nyaman. Hal ini dikarenakan ia yakin bahwa apa yang diberitakan itu tidaklah selalu benar. Imun pengetahuannya akan membangun kesadaran diri sehingga terbentuk afirmasi positif. Ia bisa merasa apa yang ia dengar itu tidaklah memiliki kecukupan bukti untuk menggoyahkan keyakinan baiknya.
Bagi seseorang yang memiliki predikat literate, diamnya saja bisa menjadi pagar untuk menguasai diri agar tidak terbawa perasaan. Ia akan bisa menepis informasi negatif dari yang ia dengar dan yang ia baca, kemudian ia bisa mengolah berbagai informasi dengan pengalaman yang ia miliki. Ia tidak mudah terpengaruh karena kemampuan literasinya sudah kuat.
Ia bisa membedakan mana berita yang baik bagi dirinya dan mana berita yang tidak. Bukan hanya soal membaca dan menulis, ia juga memahami informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk secara utuh. Kemudian ia bisa menyimpulkan dengan menyandingkan apa yang ia terima dengan kebersihan hatinya. Sehingga tidak akan ada dampak negatif dan tidak pula merugikan lainnya. Sudut pandang dari banyak sumber itulah yang mempengaruhi kebijaksanaannya.
Di zaman keterbukaan dan kebebasan sekarang ini, tidak semua komunikasi memberikan efek positif pada diri kita. Ada banyak komunikasi yang ujungnya menyakitkan. Maka, ketika kita ada di posisi semacam itu, diam dan tidak banyak komentar bisa menjadi pilihan bijak. Dengan luwesnya komunikasi yang asal bunyi, menjaga lisan adalah lebih utama bagi kita daripada kita terjebak dalam percakapan yang bisa menambah masalah.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan, diam adalah bentuk keselamatan terutama ketika situasi sedang penuh dengan fitnah. Memilih untuk tidak berkomentar sembarangan dapat menghindarkan kita dari konflik dan kesalahpahaman, serta bisa menjaga hati kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Tidak semua orang yang diam itu karena kurangnya pengalaman. Ada kalanya diamnya seseorang itu justru karena pengalaman dari adanya jiwa yang berpikir. Diamnya bukan kosong, tetapi didasari arah mata hati dan dunia yang bergerak. Itu semua karena kuatnya sumber literasi yang menjadi rujukannya.
Wallahu a’lam bishawabi.
*Penulis kelahiran Malang yang sekarang tinggal di Mojokerto-Jawa Timur


