Mengapa Pria dan Wanita Mengalami Stres secara Berbeda?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya sering ditanya, kenapa pria dan wanita mengalami stress secara berbeda? Kenapa wanita cenderung lebih cemas hingga depresi daripada pria saat menghadapi tekanan yang hampir sama?

Pembaca yang budiman, sudah bukan rahasia lagi jika pria secara umum memiliki kecenderungan lebih besar untuk menunjukkan reaksi agresif terhadap stres akut. Sementara, wanita memiliki kecenderungan lebih besar untuk memendam respons mereka. Pria lebih bisa meledak-ledak melampiaskan stresnya hingga cepat reda, sementara wanita lebih menahan diri sehingga menyimpan stres lebih lama.

Nah, jika ditanya lebih dalam apa yang menyebabkan perbedaan reaksi itu, maka para ilmuwan menggali jawabannya jauh ke dalam otak. Saya baca laporan Science Advances saat para peneliti dari University of Florida di Amerika Serikat mengkaji mekanisme molekuler otak saat beradaptasi dengan stres yang akut.

Otak memproduksi neurosteroid yang disebut allopregnanolone (AP) sebagai respons terhadap stres akut –reaksi singkat tetapi intens terhadap tantangan atau ancaman yang tiba-tiba. Kadar AP yang tinggi merupakan bagian penting dari respons stres awal tubuh. Ini membantu individu beradaptasi dan mengatur reaksi dengan cepat. Misalnya, ketika menghadapi peristiwa bahaya yang mengancam, kadar AP yang tinggi bisa meningkatkan fokus dan energi dengan membantu individu tetap fokus dan merespons secara efektif. Produksi AP ini bergantung pada enzim 5α-reduktase (5αR) yang ada dalam dua bentuk utama: 5αR1 dan 5αR2.

Nah, para peneliti menggunakan studi atas tikus percobaan untuk mengungkap bagaimana enzim ini berfungsi sehingga bisa mengungkap perbedaan biologis dalam respons stres antara pria dan wanita.

Hasil studi mengungkapkan, stres akut meningkatkan kadar 5αR2 –tetapi tidak 5αR1– di wilayah depan otak tikus jantan. Namun, tikus betina tidak menunjukkan perubahan seperti itu. Dari sini tampak perbedaan spesifik yang signifikan dalam cara pengelolaan stres pada tingkat molekuler pada tikus jantan dan tikus betina.

Para peneliti menemukan, 5αR2 penting untuk memproduksi AP selama stres, sementara 5αR1 membantu mempertahankan kadar dasar neurosteroid penting ini. Ketika para peneliti mengurangi 5αR2 pada tikus jantan, hewan-hewan ini jadi lebih lambat merespons stres akut. Lalu, pemberian AP memulihkan kemampuan ini.

Analisis menunjukkan, selama stres maka 5αR2 merangsang produksi protein dalam neuron hewan dan mendukung sel-sel di otak untuk membantunya beradaptasi lebih efektif.

Tentu, penelitian ini masih dalam level eksperimen pada hewan laboratorium. Masih perlu dikembangkan lebih lanjut sebelum bisa diterapkan pada manusia.

Jika kelak sudah sampai level manusia, maka temuan ini memiliki implikasi potensial besar dalam penanganan stres. Misalnya, dengan memahami mengapa wanita lebih rentan terhadap depresi daripada pria maka para pakar bisa menyesuaikan perawatan yang lebih terarah. Pada akhirnya, temuan ini dapat membantu memandu pengembangan obat yang secara khusus memodulasi respons stres.

Facebook Comments

Comments are closed.