mepnews.id – Belakangan ini, masyarakat mengeluhkan cuaca yang tak menentu. Hujan sering turun, tetapi udara terasa gerah dan sumuk menyengat.

Dr Rini Hidayati, pakar Biometeorologi IPB University
Dr Rini Hidayati, pakar Biometeorologi IPB University, menjelaskan, “Di awal musim hujan, hujan lebat sering diawali atau disertai angin kencang. Biasanya, hujan terjadi sore karena sumber uap air berasal dari wilayah sekitar, dan hujan turun setelah udara agak dingin.”
Peneliti di Pusat Pengelolaan Peluang dan Risiko Iklim Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik IPB University ini menambahkan, sekarang uap air dari Samudra Hindia terbawa angin hampir sepanjang hari. Suhu lebih dingin pada malam hari meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat.
Terkait suhu udara yang gerah meski sering hujan, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM) IPB University ini menjelaskan bahwa matahari sedang berada di atas 10 derajat Lintang Selatan. Posisi ini dekat wilayah Indonesia, terutama bagian selatan, sehingga energinya tinggi.
“Jika siang hari awan sedikit, energi matahari jadi tinggi. Kelembapan yang tinggi mengakibatkan udara terasa panas. Adanya pemanasan global makin menambah tingginya suhu dan tingkat ketidaknyamanan,” ujarnya.
Masyarakat diimbau waspada dampak cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi. Jika daerah tangkapan air di hulu sungai mengalami kerusakan dan sistem drainase buruk, hujan lebat dapat memicu longsor dan banjir. Hujan deras juga sering disertai angin puting beliung. Selain itu, masyakarat harus mewaspadai berkembangbiaknya nyamuk Aedes yang menularkan demam berdarah dengue.
Dr Rini menyarankan masyarakat waspada dan mengurangi aktivitas di luar rumah untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem serta masalah kesehatan.
“Jaga lingkungan agar sampah tidak menghambat aliran air. Lindungi daerah tangkapan air dengan tidak menggunduli hutan serta tetap menanam pohon. Selain itu, pastikan saluran air tidak tersumbat dan tidak tertutup beton atau semen,” pesannya.
Ia kemudian memprediksi cuaca ekstrem di Indonesia berlangsung hingga Maret. Pada April, masih ada potensi angin kencang saat memasuki musim pancaroba. (dh)


