Oleh: Budi Winarto
mepnews.id – Ini sesungguhnya pernah viral. Saat hawa politik memanas, apa pun yang ada kaitan dengan peristiwa perpolitikan selalu menjadi konsumsi publik untuk diperbincangkan. Tetapi, karena saya tidak begitu tertarik, awalnya berita itu bagi saya biasa-biasa saja. Namun, ketika artikel ini saya baca kembali pada kolom kompas.com, rasanya ada kalimat yang cukup menggelitik untuk dianalisis.
Di dalam kolom berita itu disajikan narasi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan agar Prabowo Subianto tidak membawa orang-orang toxic ke dalam pemerintahannya ke depan.
Mengamati istilah toxic yang disampaikan, saya tertarik untuk mendiskusikan. Hal ini karena ternyata kata toxic bukan hanya ada pada tumbuhan dan hewan melainkan juga pada manusia.
Merunut prosesnya, sesungguhnya penciptaan manusia adalah makhluk sempurna. Dengan kesempurnaan itu, seharusnya manusia bisa memberikan manfaat bagi yang lain. Kenyataannya, karena karakter manusia beragam, tentu diri atau pribadi berada pada posisi bagaimana dan seperti apa manusia memperlakukan dirinya. Hal ini lah yang menyebabkan tidak semua manusia bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain.
Mengenal toxic
Kata toxic (berracun) sering diperbincangkan dalam disiplin ilmu, termasuk pertanian. Dalam biologi, tanaman sehat bisa mati atau sakit ketika terkena toxin (racun). Racun yang bersarang pada tumbuhan tertentu akan menyerang bagian vital tumbuhan itu. Akibatnya, cepat atau lambat tumbuhan tersebut terkena penyakit bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bagian dari tumbuhan itu sendiri juga mengandung toxin (racun). Tentunya, jenis tumbuhan yang toxic ini membahayakan makhluk hidup lain.
Seiring kemajuan dan perkembangannya, kata toxic bertranformasi ke ranah disiplin ilmu sosial. Manusia yang terbiasa merugikan, mengganggu, dan tidak memiliki kemanfaatan, juga bisa dianalogikan sebagai manusia toxic.
Denrich Suryadi, psikolog senior di Murphosa, mengatakan, “Biasanya mereka yang sulit, mengakibatkan banyak konflik, bisa menyebabkan banyak stres, ketidaknyamanan, mungkin ada luka emosional, membikin suasana tidak lebih baik bahkan merugikan,” sejatinya manusia tersebut telah toxic. Hidup mereka meracuni diri sendiri. Akibat fatal lainnya, mereka bisa juga mempengaruhi teman dan lingkungan di sekitarnya. Jadi, manusia toxic bisa diidentifikasi sebagai seseorang yang memiliki karakter kurang baik. Sifat ini bisa menular dan berbahaya.
Seseorang yang toxic tentu harus segera mengeluarkan toxin dengan sekuatnya ikhtiar. Kalau toxin itu datangnya dari luar, harus secepatnya menghindar. Dan kalau toxin itu datang dari dalam diri sendiri, langkah awal yang mungkin bisa dilakukan adalah mengenal gejalanya lebih awal, lalu mengobatinya dengan cara lebih banyak berintropeksi. Ikhtiar konkritnya adalah dengan selektif terhadap lingkungan dan teman di sekitarnya.
Salah satu cara untuk mengetahui apakah lingkungan atau teman bahkan diri kita toxic atau tidak adalah dengan melihat siapa teman kita. Teman-teman yang ada di sekitar bisa menunjukkan sebenarnya siapa diri kita. Orang baik akan memiliki lingkungan dan teman yang baik, juga senang akan kebaikan. Pun sebaliknya, orang jahat akan berada pada lingkungan buruk, dan biasanya dalam perkataan, pemikiran dan perbuatan mereka identik dengan kejahatan. Itu adalah pandangan umum yang bisa kita baca; meskipun tidak semuanya.
Orang yang berkarakter kurang baik tentu berpengaruh terhadap jiwanya. Fisik yang selalu terbawa hawa nafsu akan mencerminkan tindakan tercela; dan itu mempengaruhi pikiran dan membawa jiwanya menjadi kurang sehat. Secara garis besar, orang yang toxic akan memulai dengan pikiran bermasalah, perkataan pun bermasalah, dan perbuatannya ikutan bermasalah. Tentunya masalah-masalah itu untuk dirinya akan bisa saja mempengaruhi orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.
Toxin yang menempel pada diri akan menimbulkan ketergantungan bersama unsur negatif alam semesta. Unsur negatif alam seperti angin, air, tanah dan api dalam diri akan menjadikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita beracun. Unsur negatif alam angin menyebabkan diri pantang disaingi. Hal ini bisa menyebabkan diri kita menghalalkan segala cara untuk terus berada di yang paling tinggi. Unsur air akan menjadikan diri kita pantang kerendahan, yang menjadikan diri sombong. Unsur tanah mengadung sifat kekikiran atau tamak. Unsur api menjadikan diri pantang kalah, atau mudah tersinggung. Selanjutnya unsur negatif alam yang menyatu pada diri seseorang akan menghasilkan pikiran beracun, perkataan yang tidak jujur dan yang menyakitkan, serta perbuatan yang menimbulkan kerusakan. Jadi, manusia toxic bahayanya melebihi hewan dan tumbuhan yang mengandung toxin.
Apabila seseorang terjangkit toxin, ada beberapa cara yang mungkin bisa mereka ikhtiarkan. Cara perbaikannya bisa promotif melalui penyuluhan dengan psikoterapi atau prefentif yakni dengan memberikan upaya tindakan berbentuk simultan. Bisa juga dengan antidotum yakni subtansi yang dapat melawan reaksi peracunan.
Hal ini bisa dilakukan dengan cara menjadikan diri lebih bersabar. Sabar akan membawa pribadi seseorang untuk berhenti sejenak, menahan diri dan berupaya untuk tidak menuruti hawa nafsu.
Berikutnya, jujur. Jujur adalah perbuatan ringan yang berdampak positif bagi kesehatan fisik maupun mental seseorang. Ketika seseorang jujur untuk dirinya maupun orang lain, maka ia akan memiliki ketenangan dalam kehidupannya. Apa yang dikata seiring dengan apa yang ada di dalam nurani, dan bukan berdasar nafsu.
Selanjutnya, berkata lemah lembut, kerjasama hanya dalam kebaikan, adil, tidak pelit, tidak memata-matai dan membicarakan orang lain, tidak pernah dengki, tidak mau curang dan bertetangga yang baik serta toleran, adalah cara agar kita terhindar dari toxin yang membahayakan diri lebih-lebih membahayakan orang lain.
Wallahu a’lam bishawab.


