Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Ada hasil studi yang cukup menggetarkan hati saya. Penelitian ini dilakukan para pakar dari Australia, Inggris, dan Amerika Serikat beberapa saat lalu. Temanya terkait COVID 19 yang memaksa orang memutus diri dari masyarakat.
Yang memicu keprihatinan saya adalah sisi samping dari penelitian itu. Saya mendapatkan kesan, semakin bertambah usia maka orang semakin susah mendapatkan teman. Padahal, orang-orang usia lanjut mendambakan koneksi sosial untuk membantu memelihara kesejahteraan mental. Tapi, justru kesepian menjadi masalah utama mereka.
Usai membaca laporan penelitian itu, eh…sahabat lama saya datang ke rumah. Orang bilang, kalau sudah bersahabat lebih dari tujuh tahun, itu berarti sudah seperti saudara sendiri. Maka, dia bisa langsung datang, curhat, atau diskusi apa saja dengan saya.
Nah, saya pun langsung mengobrolkan hasil penelitian ini. Kebetulan kami sama-sama mengalami masa-masa menuju dewasa matang. Maka obrolan ini bisa nyambung.
“Dulu, waktu masih anak-anak, kita gampang cari teman karena nggak pakai mikir apa-apa. Yang penting mau maun bersama, ya mereka sudah bisa jadi teman kita,” kata sahabat saya itu.
“Terus, saat usia bertambah, kenapa cari teman koq rasanya tambah susah?” tanya saya.
“Ya, kan kita mulai pakai standarisasi. Kita bikin circle pertemanan. Kalau nggak gini, nggak bakal jadi teman. Boleh sekadar tahu nama dan wajah, tapi nggak bakal jadi anggota geng.”
“Hahaha, iya sih. Saat kita bertransisi dari masa kanak-kanak ke remaja dan akhirnya menjadi dewasa, memang proses menjalin pertemanan bisa menjadi semakin kompleks dan tambah menantang.”
“Betul. Bahkan anak atau orang yang dikenal mudah bergaul dan nggak pilih-pilih teman itu juga tetap selektif,” kata sahabat saya itu.
“Saya sependapat. Itu karena evolusi lingkaran sosial kita. Pada masa kanak-kanak dan remaja, kita dikelilingi teman-teman di sekitaran rumah, di sekolah atau dalam kegiatan ekstrakurikuler. Banyak kesempatan untuk berinteraksi sosial dan menjalin persahabatan. Saat menuju masa dewasa, lingkaran sosial kita secara alami menyusut. Kita harus memprioritaskan tanggung jawab lain. Kita mulai mikir pekerjaan, keluarga, dan kepentingan pribadi. Penyempitan jaringan sosial ini membatasi peluang kita bertemu orang baru dan menjalin hubungan.”
“Iya. Jadi orang dewasa itu repot. Mikiri kewajiban karir, tanggung jawab keluarga, dan komitmen pribadi. Hanya sedikit waktu dan energi untuk bersosialisasi. Beda dengan masa kanak-kanak. Punya waktu luang melimpah.”
Saya menimpali, “Nah, di sini masalahnya. Orang dewasa harus secara aktif menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial di tengah kesibukan masing-masing. Dibutuhkan waktu sekitar 50 jam kontak untuk membentuk pertemanan, dan 200 jam untuk jadi sahabat dekat. Padahal, orang dewasa terlalu disibukkan urusan kerja, ngurus rumah tangga, dan memburu keinginan pribadi. Seolah tak cukup waktu untuk mendapatkan teman baru. Umumnya orang lebih memprioritaskan hubungan yang sudah ada, atau bahkan meninggalkan lingkaran sosial tertentu, demi urusan pribadi atau keluarga sendiri.”
“Betul. Orang dewasa biasanya mencari hubungan lebih dalam yang dibangun berdasarkan minat, nilai-nilai, dan pengalaman hidup yang sama. Nah, kalau orang lanjut usia, jauh lebih selektif, karena memang punya keterbatasan fisik. Juga, orang lanjut punya prioritas terhadap siapa yang mereka pilih untuk dijadikan teman. Apa lagi, wanita dewasa atau lansia yang merasa lebih sulit menemukan seseorang yang dianggap dapat dipercaya,” kata teman saya.
“Biasanya, seiring bertambahnya usia, orang menjadi lebih kaku dan kurang terbuka terhadap pengalaman dan perspektif baru. Akibatnya, enggan keluar dari zona nyaman. Enggan berinteraksi dengan orang atau lingkungan sosial yang tidak dikenal.”
Teman saya menambahkan, “Jangan lupa, pengalaman pernah ditolak atau dikhianati masa lalu juga dapat menambah tingkat kehati-hatian saat menjalin pertemanan baru. Pengalaman negatif semacam ini membuat kita lebih berhati-hati atau lebih sadar diri dalam menjangkau orang lain.”
“Lho, koq jalan pemikiran kita banyak yang sama ya?”
“Ya jelas, wong kita sama-sama menuju masa-masa lanjut usia.”
“InshaAllah, jika diberi waktu.”


