Cara Menghadapi Kondisi Demensia

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Dengan suara sedih, Sinta memulai curhat, “Ini tentang suamiku. Dia mulai sering lupa hal-hal kecil. Ia lupa kunci atau dompetnya. Awalnya aku pikir itu biasa. Tapi, belakangan ini dia bahkan lupa nama beberapa orang terdekat.”

Saya menanggapi dengan bersimpati. “Mungkin itu pertanda demensia. Perlu cek dokter untuk memastikannya. Apakah dia sadar perubahan ini?”

“Kadang dia menyadari, lalu jadi seperti kesal sendiri. Tapi, seringkali dia tidak menyadari sama sekali.”

………..

Pembaca yang budiman, demensia adalah sekelompok gejala yang mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang, seperti melemahnya ingatan dan kemampuan sosial, yang cukup parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Orang awam biasa menyebut pikun karena penuaan. Namun, dementia juga mencakup berbagai kondisi medis lain yang mendasarinya. Alzheimer , dan sejumlah penyakit lain, secara bertahap menghancurkan sel-sel saraf dan merusak otak sehingga mengakibatkan orang jadi lupa.

Sementara itu, manusia penduduk bumi semakin bertambah. Seiring kemajuan ilmu kedokteran dan teknologi, manusia bisa hidup lebih lama sehingga populasi lansia juga tumbuh pesat. Pada 2050, populasi orang berusia 65 tahun ke atas akan berlipat ganda menjadi 2,1 miliar. Meningkatnya populasi lansia membuat jumlah penderita demensia meningkat, mencapai sekitar 139 juta kasus pada tahun 2050. Sebagai perbandingan, pada 2023 terdapat sekitar 55 juta orang dengan demensia.

Meski usia masih merupakan faktor risiko terkuat untuk demensia, para peneliti menemukan 12 faktor risiko lain yang berpotensi masih dapat dimodifikasi: kurangnya pendidikan, hipertensi, gangguan pendengaran, merokok, kegemukan, depresi, ketidakaktifan fisik, diabetes, kontak sosial yang rendah, konsumsi alkohol berlebihan, cedera otak traumatis, dan polusi udara. Ini menyebabkan 40% demensia, namun secara teori dapat dicegah atau ditunda.

Meskipun tubuh sehat dapat mengurangi risiko demensia, pikiran yang sehat juga tidak kalah pentingnya. Orang-orang yang memiliki gejala kesehatan mental kumulatif juga memiliki peningkatan risiko demensia. Saat ada perbaikan kesehatan mental sepanjang hidup, itu juga dapat menurunkan peluang terkena demensia.

Terus, bagaimana cara mengurangi risiko demensia?

Lima hal yang dapat dilakukan orang untuk membantu mencegah timbulnya demensia:

  • Aktivitas fisik yang teratur
  • Makan yang sehat
  • Punya jaringan dukungan yang sehat
  • Tidur yang baik dan sehat
  • Atur stres dan emosi secara sehat

Terakhir, jangan lupa untuk terus bersyukur atas setiap karunia dari Tuhan. Rasa syukur bisa membuat fikiran jadi lebih tenang sehingga kita jadi merasa lebih sejahtera secara mental.

Facebook Comments

Comments are closed.