Ada Usulan Menarik dari Prancis tentang Anak dan Smartphone

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Wah, wah, wah, hebat. Saat sisi negatif jagad sudah merasuki siapa saja, tim pakar Prancis menyiapkan usulan yang setidaknya bertujuan untuk membentengi anak-anak dan remaja.

Hasil riset komisi para ahli yang diperintahkan Presiden Emmanuel Macron melaporkan bagaimana ancaman jagad maya dan mengusulkan tahapan-tahapan usia anak saat berhubungan dengan smartphone dan media sosial.

Laporan setebal 142 halaman tersebut diberi judul ‘Enfants et écrans; À la recherche du temps perdu‘. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira artinya; ‘Anak-anak dan Layar; mencari waktu yang hilang.’

Komisi ahli Prancis merilis laporan itu pada akhir April 2024 sekitar tiga bulan setelah Presiden meminta mereka mengkaji dampak paparan layar terhadap generasi muda dan meminta mereka membuat usulan-usulan.

Untuk membuat rekomendasi, komisi 10 pakar itu bertemu 150 anak muda dan mewawancarai lebih dari seratus pakar dan profesional. Mereka juga mewawancarai juru bicara Google, Meta, TikTok, X, YouTube, Snapchat, dan Samsung.

Apa isi laporan tersebut?

Secara garis besar, isi laporan itu menyarankan;

  • anak di bawah 3 tahun tidak boleh terpapar smartphone
  • anak setelah usia 6 tahun mulai boleh terpapar smartphone tapi secara moderat saja
  • anak sebelum usia 11 tahun tidak boleh memiliki smartphone
  • anak sebelum berusia 13 tahun dilarang mengakses media sosial
  • anak usia antara 15 dan 18 tahun harus mematuhi pembatasan media sosial; akses ke media sosial harus ‘dibatasi’ hanya pada remaja yang memiliki ‘pemikiran etis’.

Usulan ini bagus karena banyak orang tidak sadar akan potensi bahaya jagad maya bagi kaum muda. Memang banyak hal positif bisa digali dari jagad maya, namun tidak semua orang –atau anak– cukup punya kejelian, kepandaian dan kebijaksanaan untuk bisa menyaring hal-hal negatifnya. Maka, saya sependapat dengan sisipan ‘memiliki pemikiran etis’ dari usulan komisi itu bagi remaja untuk boleh mengakses media sosial.

Saya sependapat jika para peneliti dan pakar terus memperdalam studi tentang dampak paparan smartphone dan medsos terhadap generasi muda. Lebih khusus, dampaknya terhadap perkembangan saraf anak-anak. Algoritma medsos bisa memicu kecanduan yang berdampak buruk.

Saya sependapat dengan laporan tersebut saat menyatakan anak-anak perlu lebih dilindungi dari taktik industri teknologi untuk memikat perhatian mereka dan mengeksploitasi bias kognitif mereka. Jangan sampai anak-anak menjadi komoditas, menjadi target.

Hanya satu hal yang saya kurang pas. Saya tidak bisa sepenuhnya memberlakukan usulan ini pada anak saya karena waktunya sudah banyak yang lewat. Tapi, setidaknya saya mengupayakan soal ‘memiliki pemikiran etis.’

Facebook Comments

Comments are closed.