Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Dalam salah satu sesi ceramah beberapa saat lalu, ada seseorang datang ingin curhat. “Saya merasa… tidak bahagia. Entah kenapa. Segala sesuatunya terasa monoton dan tanpa makna. Pekerjaan, hubungan, bahkan diri sendiri, terasa seperti beban berat bagi batin saya.”
Dalam kondisi ini, saya biasanya membiarkan orang untuk menumpahkan segala uneg-unegnya. Biasanya, setelah ngomong, ia merasa lebih lega. “Apakah Anda ingin bercerita lebih banyak tentang apa yang terjadi?”
“Mungkin… Tapi saya tidak yakin di mana harus memulainya.”
…………
Pembaca yang budiman, setiap orang tentu pernah merasa berbahagia dan kurang bahagia. Tergantung pada masing-masing individu bagaimana ‘merasa’ berbahagia dalam berbagai kondisi berbeda. Saya tekankan, bahagia itu hanya perasaan.
Nasihat relijius yang kita bisa sampaikan adalah; kunci kebahagiaan itu hasil dari hubungan baik kita dengan Tuhan, hubungan baik dengan mahluk lain, dan hubungan baik dengan batin kita sendiri.
Praktiknya antara lain; banyak mensyukuri nikmat yang tampak baik maupun tampak buruk, berbuat baik kepada sesama sambil menunjukkan kasih sayang, dan bisa mengendalikan hawa nafsu atau menjaga diri dari dosa-dosa.
Islam, agama yang saya anut, mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat, memperhatikan kebutuhan jasmani dan rohani, sehingga bisa mencapai kebahagiaan yang seimbang.
Secara psikologis, kita juga bisa belajar untuk menjadi bahagia. Namun, sebagaimana praktik religi, kita hanya bisa mendapatkan manfaat jangka panjang jika kita konsisten berusaha keras dan melatih diri untuk merasa bahagia.
Di University of Bristol di Inggris, ada kuliah tentang ‘Ilmu Kebahagiaan’ yang mempelajari berbagai hal tentang perasaan itu. Tim yang mengelola kuliah ini mengajarkan pada mahasiswa tentang kunci-kunci kebahagiaan. Antara lain; bersyukur, berolahraga, meditasi, atau menulis jurnal.
Sembari memberi kuliah dan pelatihan, tim dosen juga melakukan penelitian terhadap hasil yang dicapai mahasiswa. Studi terbaru mereka menemukan, peningkatan rasa bahagia tidak akan bertahan lama kecuali jika kebiasaan yang dipelajari dipertahankan dalam jangka panjang.
Prof Bruce Hood, penulis senior penelitian ini, mengibaratkan seperti olahraga di gym. Orang-orang tidak akan bisa sehat dan bugar selamanya hanya dengan menghabiskan satu paket latihan. Sebagaimana kesehatan fisik, kita harus berusaha terus-menerus meningkatkan kesehatan mental kita. Jika tidak terus-menerus maka perbaikannya hanya sementara.
Kuliah tentang Ilmu Kebahagiaan ini diluncurkan pada 2018, dan menjadi yang pertama di Inggris Raya. Kuliah mengajarkan pada mahasiswa tentang apa-apa yang membuat bahagia. Tipsnya berdasarkan peer-review terbaru di bidang psikologi dan neurologi.
Saat ikut kuliah, para mahasiswa melaporkan peningkatan kesejahteraan 10% – 15%. Tapi, saat disurvei dua tahun kemudian, hanya mereka yang terus melaksanakan tips-tips dalam pembelajaran lah yang bisa mempertahankan peningkatan kesejahteraan mentalnya.
Jadi, silakan saja ambil berbagai pendekatan untuk membuat kita bahagia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita berdedikasi mempraktikkan semua itu dalam waktu lama untuk benar-benar bisa menikmati kebahagiaan jangka panjang.
Cappadocia, 15 Maret 2024


