Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Seperti biasa, saya jadi teman curhat seorang remaja. Kemenakan sendiri.
“Te, saya merasa aneh. Saya suka teman-teman tapi terkadang saya merasa tidak nyaman jika terlalu dekat dengan mereka.”
“Hmm, itu kan perasaan yang wajar. Apakah kamu takut untuk terbuka pada mereka?”
“Iya. Saya khawatir mereka tidak mau mengerti atau malah menjauh.”
………….
Pembaca yang budiman, curhatan itu sebenarnya agak lama tapi saya ringkas ke inti masalahnya. Karena saya cukup mengenal dia, saya menduga curhatannya itu terkait adronitis.
Adronitis adalah perasaan ingin mengenal lebih dalam tetapi juga tidak ingin terlibat hubungan terlalu dalam dengan seseorang atau sekelompok orang. Maka, wajar jika kemenakan saya ini punya perasaan yang campur aduk antara ingin tahu dan ketertarikan terhadap seseorang tapi ingin juga menjaga jarak atau melindungi diri dari kemungkinan kerentanan emosional.
Dalam kondisi wajar, tentu kondisi andronitis bukan masalah besar. Tapi, jika perasaan ambivalen terpupuk hingga jadi ekstrem, tentu tidak baik juga. Karena itu, saya dengan senang hati menerima curhatan kemenakan saya agar kata hatinya tersalurkan dan kondisi andronitisnya tidak jadi semakin meningkat.
Jika tidak ditangani dengan baik, adronitis bisa menjadi sumber konflik internal atau ketidaknyamanan dalam diri seseorang. Misalnya, ia bisa jadi stres atau cemas kronis karena pertentangan batin antara ingin melakukan sesuatu sekalgus ingin menjaga diri.
Ketika mengalami adronitis, ada berbagai proses neurologis dan psikologis yang mungkin terjadi dalam otak mereka. Ketika ia sedang adronitis, otaknya mengaktifkan sistem sosial yang terlibat dalam proses pengenalan, hubungan interpersonal, dan emosi terkait hubungan. Otak bekerja keras memproses informasi sosial tentang orang yang dibidik; termasuk mempertimbangkan kepribadian, minat bersama, dan kemungkinan risiko atau manfaat hubungan.
Secara eksternal, kondisi adronitis bisa memengaruhi hubungan interpersonal dengan orang lain. Ia jadi canggung saat bertemu dengan orang atau orang-orang yang diinginkannya. Ketidakjelasan dia mengenai bagaimana cara mendekati atau menjaga jarak dengan orang lain dapat menciptakan hambatan dalam membangun hubungan yang sehat.
Nah, bagaimana jika Anda memiliki perasaan adronitis terhadap seseorang?
Bicara saja secara terbuka. Ajukan pertanyaan dengan sopan dan terbuka pada dia. Cobalah mengkomunikasikan level ketertarikan dan minta klarifikasi jika perlu. Misalnya, tanyakan saja, “Eh, sepertinya saya juga merasa memiliki perasaan tertentu. Bolehkah kita bicara?”
Tapi, jangan terlalu menekan atau memaksakan diri. Meski membuka saluran komunikasi itu penting, tetap saja hindari cara-cara menekan agar orang itu membuka diri lebih banyak. Tetap hormati batas-batas yang ia punyai. Berikan waktu dan ruang bagi dia untuk merasa nyaman berbicara dengan Anda.
Maka, jadilah sabar.


