Peran Orang Tua dalam Menguatkan Anak di Lingkungan Keras

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mohon dimaklumi, Bu,” kata seorang guru kelas saat saya berkunjung ke sekolahnya. “Anak-anak di sini agak kasar. Mulutnya kurang dijaga.”

“Lho, kenapa?”

“Sekolah ini kan dekat pasar. Murid-muridnya juga umumnya tinggal tinggal di sekitar sini. Jadi, mereka sering mendengar bahasa pasar dan melihat aksi preman-preman pasar.”

“Oh, begitu…”

……….

Pembaca yang budiman, tentu saja tidak semua pasar yang orang-orangnya berbicara kasar dan banyak premannya. Banyak juga pasar yang baik dan tertata rapi. Namun, kawasan sekolah dekat pasar di atas memang dikenal sangar.

Hidup di lingkungan dengan tingkat kekerasan tinggi dapat mempengaruhi perkembangan anak. Ada sisi baik dan sisi kurang baik. Anak bisa tumbuh sebagai pribadi yang waspada dan responsif terhadap potensi ancaman. Di sisi lain, anak juga bisa mengalami masalah kesehatan mental dan dampak negatif lainnya.

Banyak penelitian ilmiah menunjukkan, tumbuh di lingkungan penuh level kekerasan tertentu dapat memprediksi hasil akademis, perilaku, dan kesehatan mental anak dan remaja. Penelitian terbaru menunjukkan, kondisi itu juga berdampak pada perkembangan otak.

Namun, masih sedikit diketahui bagaimana kondisi lingkungan keras berpengaruh terhadap perkembangan otak. Maka, tim peneliti dari Michigan University di Amerika Serikat mengkajinya lebih dalam.

Mereka berhipotesis, salah satu cara mengetahuinya adalah melalui bagian otak yang disebut amigdala. Ini adalah pusat sistem respons stres dalam fungsi sosioemosional, pemrosesan ancaman, dan pembelajaran rasa takut.

Amigdala juga sensitif terhadap ekspresi wajah. Anak-anak yang pernah dianiaya atau diabaikan oleh anggota keluarganya, misalnya, menunjukkan peningkatan reaktivitas amigdala ketika melihat wajah dengan ekspresi negatif, ketakutan, atau sekadar netral.

Maka, tim peneliti menganalisis data 708 anak dan remaja usia 7 hingga 19 tahun yang direkrut dari 354 keluarga yang terdaftar dalam Michigan Twins Neurogenetic Study. Sebagian besar dari lingkungan dengan tingkat kemiskinan dan ketidakberuntungan berdasarkan ukuran Biro Sensus Amerika Serikat. Sebanyak 54% peserta adalah laki-laki, 78,5% berkulit putih, 13% berkulit hitam, dan 8% dari ras dan etnis lain. Mereka tinggal di pedesaan, pinggiran kota dan perkotaan sekitar Lansing.

Para peserta diminta menyelesaikan survei yang menanyakan paparan mereka terhadap kekerasan komunitas, hubungan mereka dengan orang tua, dan gaya pengasuhan orang tua. Lalu, otak mereka dipindai dengan f-MRI sambil melihat ekspresi wajah yang sedang marah, takut, bahagia, atau netral.

Secara keseluruhan, peneliti menemukanan bahwa peserta yang tinggal di lingkungan kurang beruntung melaporkan lebih banyak paparan terhadap kekerasan dalam komunitas. Mereka yang melaporkan lebih banyak terpapar kekerasan komunitas menunjukkan tingkat reaktivitas amigdala yang lebih tinggi terhadap wajah ketakutan dan kemarahan.

Hasil ini tetap berlaku bahkan ketika peneliti juga mengaitkannya dengan pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, dan bentuk paparan kekerasan lainnya seperti pola asuh yang kasar dan kekerasan orang dekat. Hal ini masuk akal karena anak atau remaja bersifat adaptif lebih peka terhadap ancaman ketika tinggal di lingkungan berbahaya.

Yang menarik, penelitian ini juga menemukan bahwa orang tua yang bisa mengasuh dengan baik tampaknya mampu memutus hubungan antara kekerasan komunitas dan reaktivitas amigdala. Anak-anak dengan orang tua yang mengasuh dengan baik ternyata memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terkena kekerasan komunitas. Meski tetap terkena kekerasan, anak dengan orang tua yang lebih baik bisa mengalami dampak lebih rendah atas paparan kekerasan pada otak.

Penelitian ini menunjukkan, otak anak rawan terpengaruh kondisis kekerasan di lingkungan sekitarnya. Hampir semuanya berpotensi dampak negatif. Namun, ada yang dampak negatifnya berkurang atau bahkan tidak terpengaruh negatif. Bahkan, ada beberapa remaja yang tetap tangguh ketika menghadapi kesulitan. Itu terjadi saat orang tua berpran menjadi pengsuh yang benar pada anak di kawasan yang cenderung negatif.

Facebook Comments

Comments are closed.