Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Boy, apa jawabmu kalau ditanya KPK,” saya bertanya pada teman dekat yang sudah usia mapan.
“Eh, memang aku korupsi apa?” dia tanya balik.
“Kapan punya kekasih?” saya menjabarkan.
“Kalau KPK itu, saya jawab; ‘Persiapan nikah sudah 95 persen. Yang 5 persen itu nyari pasangannya’.”
………….
Pembaca yang budiman, pernahkah Anda mendengar candaan tentang lelaki jomlo semacam itu? Atau Anda sendiri mengalaminya?
Ada sejumlah laki-laki yang belum menikah meski sudah memiliki kedewasaan dalam kehidupan, dalam hubungan pribadi, dalam masalah profesionalisme, dalam tanggung jawab kemasyarkatan, dalam kematangan emosional, sosial, dan mental. Ini fakta. Bahkan, jumlah lelaki melajang cenderung meningkat karena faktor wanitanya juga.
Kalau ditanya, selalu saja ada alasan kompleks mengapa lelaki memilih melajang terutama yang bersifat jangka panjang. Ada banyak penelitian yang mencoba mengungkapkan alasan umum ketika pria menjomlo.
Saya coba bahas satu hasil penelitian di Polandia oleh Marta Mrozowicz-Wrońska. Tentu, kondisi dan nilai-nilai di Polandia cukup beda dengan di Indonesia. Tapi, stidaknya kita bisa mendapat tambahan wawasan ilmiah tentang kejomloan kaum lelaki.
Mrozowicz-Wrońska bersama timnya menyelidiki bagaimana lelaki yang belum pernah menikah mengalami masa lajang. Mereka meneliti masa lajang jangka panjang melalui wawancara mendalam terhadap 22 lelaki belum pernah menikah yang berusia 22 hingga 43 tahun.
Penelitian mereka menyoroti kompleksitas laki-laki lajang dengan mengungkapkan lima tema utama: (1) merasa kurang sebagai calon pasangan, (2) mengalami kehidupan ‘maskulinitas tradisional’ termasuk pernikahan dan keluarga, (3) mempertimbangkan manfaat dan kerugian hidup melajang, (4) adaptasi terhadap kehidupan lajang, dan (5) kebingungan antara menunggu orang yang tepat denan aktif mencari pasangan.
Hasil yang didapatkan antara lain;
- Tantangan perubahan. Beberapa lelaki dalam penelitian merasa perlu mengubah diri untuk memiliki pasangan. Oleh sebagian besar orang, tujuan ini dianggap lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Hal ini terutama terjadi ketika seseorang mengalami tantangan secara kognitif, emosional, atau karena ada gangguan mental atau kecanduan.
- Norma tradisional. Beberapa lelaki, yang menganggap masa lajang sebagai kegagalan memenuhi norma-norma maskulinitas tradisional, merasa tidak mampu menjadi kuat secara fisik maupun emosional. Yang lain percaya laki-laki harus mampu menafkahi keluarga jika ingin menjalin hubungan jangka panjang.
- Waktunya habis. Beberapa laki-laki dalam penelitian ini merasa kesempatan mereka untuk menemukan pasangan dan memulai keluarga telah habis. Ini memicu rasa takut dan menurunkan kepuasan terhadap status lajang.
Mrozowicz-Wrońska juga menemukan, beberapa lelaki dalam penelitian merasakan manfaat menjadi lajang. Antara lain; bebas menentukan nasib sendiri, otonom, dan tidak ada tanggung jawab dan beban terkait peran sebagai ayah. Aspek-aspek positif yang dirasakan dari masa lajang ini konsisten dengan tingginya nilai kemandirian yang diberikan para lajang. Ini dapat mengurangi tekanan dan keinginan untuk bergaul dengan orang lain.
Meski demikian, Mrozowicz-Wrońska juga memberi sorotan khusus bahwa banyak juga lelaki lajang dalam penelitian ini yang menyatakan tidak terpenuhinya kebutuhan akan keintiman serta kehilangan kesempatan menikmati kehidupan keluarga. Karena menjunjung tinggi kebutuhan akan hubungan romantis, kurangnya keintiman fisik dan emosional bisa menjadi salah satu pengalaman paling menyakitkan. Keinginan yang tidak terpenuhi ini mengurangi kepuasan hidup melajang sehingga memperburuk rasa takut untuk tetap sendirian.


