Multitasking Itu Hebat, Tapi….

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Waktu itu, bangga sekali rasanya saya bisa multi-tasking. Saya bisa mengerjakan dua atau mungkin tiga pekerjaan dalam satu waktu. Drafting surat, sambil menelpon, kadang masih nyambi tanda tangan rapor atau beberapa dokumen. Atau, bisa mendengarkan teman sedang curhat, sembari sesekali menatap layar Zoom yang ‘off-cam‘ sebagai peserta seminar online.

Pembaca yang budiman, multitasking atau mengerjakan multi tugas adalah usaha mengubah fokus secara cepat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya secara bergantian untuk alasan (biasanya) efisiensi waktu. Alasan lainnya adalah tuntutan beberapa pekerjaan atau tugas yang kadang memang harus dilakukan sekaligus.

Lebih-lebih, saat ini bermunculan teknologi modern, seperti komputer, smartphone, internet dan lainnya, yang sering kali memungkinkan orang untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus. Faktor kemudahan teknologi ini berpadu dengan kebiasaan individu untuk bergerak simultan menangani banyak hal.

Kini, seiring berjalannya waktu, saya justru semakin menyadari bahwa multitasking ternyata tidak efektif dan cenderung menurunkan produktivitas kerja. Hal ini karena fokus dan konsentrasi saya menjadi terpecah sehingga menurunkan kreativitas. Multitasking juga bikin saya jadi mudah lelah dan rentan stress.

Ibarat sebuah komputer, semakin kita membuka banyak jendela/tab maka kinerja komputer akan semakin lambat. Nah, hal serupa juga terjadi pada otak saya. Memaksakan diri untuk multitasking akhirnya mempengaruhi daya kerja otak sehingga saya jadi mudah lupa.

Jadi…, saya sudah banting setir dengan cara mengurangi kebiasaan multitasking. Saya merasa, alangkah lebih baik apabila bisa fokus menyelesaikan satu pekerjaan kalau memang ada beberapa tugas yang harus diselesaikan.

Atau… kalau memang ada beberapa tugas yang harus segera dibereskan, saya membuat target/goal untuk mengerjakan suatu tugas tertentu, lalu berhenti dan berpindah kepada tugas lain, lalu kembali lagi ke tugas sebelumnya untuk menyelesaikan target awal, dan seperti begitu berikutnya. Dengan cara ini, satu persatu tugas dituntaskan (tidak berbarengan).

Kini, saya makin menyadari bahwa ngga selalu harus berpacu dengan waktu saat menyelesaikan sesuatu. Ada saat di mana saya perlu ‘melambat’. Bukan untuk bermalas-malasan, tetapi untuk bisa mengambil waktu yang dibutuhkan, dengan maksimal untuk menyelesaikan suatu urusan.

Apakah Anda juga demikian?

Facebook Comments

Comments are closed.