Tentang Self-Sniffing alias Membaui Tubuh Sendiri

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada seorang teman, HRD suatu perusahaan, ngobrol dengan saya tentang salah satu calon karyawan.

“Si Fulan itu kan catatan akademik dan perusahaannya lumayan bagus, kenapa tidak kau rekrut?” saya tanya.

“Ada kandidat lain yang setara, dan Fulan tampaknya kurang percaya diri,” ia memberi penjelasan. “Dari rekaman CCTV di luar ruang kerja saya, Fulan tampak rapi tapi beberapa kali ia mengendus-endus bau badannya sendiri.”

………..

Pembaca yang budiman, pernahkah Anda membaui tubuh Anda sendiri? Tentu pernah, dan itu normal. Yang apes ya Si Fulan tadi. Pas wawancara kerja, tampaknya ia punya masalah bau badan dan perilakunya terpantau manajer HRD lewat CCTV.

Dalam situasi sosial, penampilan visual bukan satu-satunya hal yang merepresentasikan diri kita. Yang tak kalah relevan adalah aroma. Kalau badan kita bau keringat, sepatu kita bau tengik, nafas bau pete, atau tubuh kita beraroma wangi, tentu dapat menimbulkan konsekuensi sosial. Jadi, tidak mengherankan jika orang kadang mengendus tubuh sendiri untuk mengetahui baunya.

Karena sangat biasa, jarang ada penelitian psikologis tentang self-sniffing. Belakangan, baru ada hasil studi tentang psikologi self-sniffing yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Physiology & Behavior. Tim peneliti dipimpin Dagmar Schwambergová dari Universitas Charles di Praha (Republik Ceko). Menggunakan metode kuesioner online, mereka mengkaji data 209 relawan penelitian. Isi kuesionernya tentang mengendus diri dan pertanyaan tentang perasaan mereka.

Nah, hasilnya mengungkap lima hal berikut;

Pertama, ada tiga jenis utama self-sniffing. Dengan menggunakan metode statistik, para ilmuwan menganalisis jawaban para sukarelawan yang mengendus diri sendiri, lalu mengidentifikasi tiga jenis utama self-sniffing:

  • Membaui diri sendiri yang dapat diterima secara sosial. Ini mencakup mengendus pakaian yang dikenakan dan bagian tubuh yang memiliki bau menyengat yang mungkin diperhatikan orang lain, misalnya ketiak dan kaki. Untuk menghindari reaksi negatif orang lain, bagian ini sering diendus sendiri.
  • Mengendus diri sendiri secara intim. Ini mencakup mengendus bagian tubuh yang biasanya tertutupi dan tidak diendus orang lain di tempat umum karena tabu sosial. Misalnya, pusar.
  • Self-sniffing kosmetik. Ini mencakup membaui bagian tubuh yang biasa digunakan untuk kosmetik (parfum, sampo, dll). Misalnya, mengendus rambut atau leher untuk memeriksa apakah parfumnya masih wangi.

Kedua, tangan paling sering diendus. Hasil kuesioner self-sniffing menunjukkan, tangan adalah bagian tubuh yang paling sering diendus. Setelah itu, ketiak, rambut, kaki, dan napas.

Ketiga, T-shirt adalah pakaian yang paling sering diendus untuk mengetahui bau badan sendiri. Berdasarkan kuisener self-sniffing, T-shirt adalah pakaian yang paling sering dibaui, lalu celana panjang, kaus kaki, dan pakaian dalam.

Keempat, pria dan wanita membaui diri dengan cara berbeda. Para ilmuwan tidak menemukan perbedaan gender signifikan dalam penerimaan sosial terhadap self-sniffing. Namun, hasil kuisener menunjukkan, laki-laki memiliki frekuensi lebih tinggi untuk mengendus diri sendiri secara intim, sementara perempuan memiliki frekuensi lebih tinggi untuk membaui diri sendiri secara kosmetik.

Kelima, orang dengan masalah kesehatan lebih sering membaui diri sendiri. Para ilmuwan juga menemukan, orang yang mengalami masalah kesehatan menunjukkan lebih banyak penerimaan sosial terhadap perilaku mengendus diri sendiri dibandingkan orang yang sehat. Hal ini menunjukkan, orang sakit lebih sering mengetes penciumannya untuk menilai perubahan indera penciuman akibat sakit.

 

Facebook Comments

Comments are closed.