Ah, Sudahlah, Berbohong Itu Banyak Ruginya

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Suatu hari, seorang siswa bandel berkata pada gurunya. “Bu, saya minta izin pulang karena kakak saya sakit.”

Gurunya skeptis, dan langsung membalas, “Jangan bohong, ya. Tadi Ibu lihat kakakmu sehat- sehat saja di depan rumahmu.”

Si siswa membalas, “Eh, Ibu juga jangan bohong. Saya kan tidak punya kakak…”

xX@#))$%^&

Pembaca yang budiman, berbohong itu tidak baik. Kitab suci sudah memberi banyak nasihat tentang dampak buruk kebohongan. Bahkan, sejumlah temuan ilmiah juga memperkuat nasihat itu.

Memang, pada zaman sekarang ini boleh dikata tidak ada orang yang tidak pernah berbohong. Ada yang karena terpaksa berbohong, tidak sengaja berbohong, tanpa sadar berbohong, hingga yang sengaja dan bahkan sudah kebiasaan.

Jika seseorang mengetahui dirinya dibohongi, biasanya ia merasakan emosi negatif seperti marah atau sedih. Tapi, penelitian ilmiah membuktikan, ada juga sejumlah konsekuensi psikologis bagi si pembohong.

Tim ilmuwan dari Sanne Preuter, Universitas Twente di Enschede (Belanda) mengkaji bagaimana berbohong itu mempengaruhi emosi dan self esteem. Penelitian yang terdiri dari empat eksperimen berbeda itu menghasilkan lima hal yang menarik tentang berbohong.

Pertama, berbohong menurunkan self esteem dan memicu lebih banyak emosi negatif. Itu karena berbohong dianggap hal yang tidak bermoral dalam masyarakat.

Dalam bagian pertama penelitian, ada eksperimen online saat para karelawan harus membaca dilema tentang berbagai hal yang berpusat pada diri sendiri (misalnya, berbohong tentang keahlian saat wawancara kerja) dan dilema yang berpusat pada orang lain (misalnya, berbohong tentang menyukai baju yang baru dibelikan teman). Lalu, relawan harus menjawab apakah mereka berbohong atau mengatakan kebenaran saat terakhir kali berada dalam situasi serupa. Lalu, indeks self esteem dan empat emosi negatif (gugup, menyesal, tidak nyaman, dan tidak bahagia) para relawan ditentukan dengan kuesioner.

Hasilnya menunjukkan, untuk dilema egois (berpusat pada diri sendiri), 41,6% relawan pernah berbohong. Untuk dilema yang berpusat pada orang lain, 45,5% relawan berbohong. Berdasarkan kuisener, relawan yang berbohong memiliki self esteem jauh lebih rendah dan lebih banyak perasaan negatif dibandingkan mereka yang menyatakan kebenaran untuk kedua jenis dilema tersebut.

Kedua, sekadar sengingat kebohongan sudah cukup untuk menurunkan self esteem dan mengurangi emosi positif.

Dalam eksperimen kedua, desain serupa digunakan namun tidak ada dilema. Sebaliknya, para relawan harus menghadapi sendiri dilema masa lalu mereka. Para relawan diminta mengemukakan situasi saat mereka berbohong atau situasi saat mereka memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Selain itu, emosi negatif dan positif juga ditentukan lewat kuisener.

Hasilnya jelas: relawan yang mengingat kembali situasi saat mereka berbohong memiliki self esteem lebih rendah dan emosi yang kurang positif, dibandingkan yang mengingat situasi saat mereka mengatakan kebenaran.

Ketiga, orang lebih banyak berbohong tentang dirinya sendiri dibandingkan tentang orang lain.

Pada percobaan ketiga, para ilmuwan bertujuan mereplikasi temuan dari dua percobaan pertama dengan menggunakan pendekatan penelitian menggunakan buku harian. Relawan diminta mencatat semua kebohongan mereka selama satu hari. Mereka juga diminta menuliskan kebohongan mereka dan motif di balik kebohongan tersebut.

Secara keseluruhan, 22,1% relawan menuliskan kebohongan yang egois, 8,2% kebohongan yang berorientasi pada orang lain, dan 69,7% tidak berbohong. Berdasarkan kuisener, orang yang berbohong memiliki self esteem lebih rendah dan merasa kurang positif terhadap dirinya sendiri, dibandingkan orang yang mengatakan kebenaran.

Keempat, 22% orang terbiasa berbohong setiap hari, dan 19% jarang berbohong.

Dalam percobaan terakhir, pendekatan longitudinal digunakan. Relawan harus melacak perilaku berbohong dan self esteem mereka selama lima hari. Hasilnya menunjukkan, ada banyak perbedaan mengenai seberapa banyak mereka berbohong. Tercatat, 22% orang melaporkan mereka berbohong selama lima hari dan 19% mengaku tidak berbohong ssekali pun dalam lima hari.

Kelima, berbohong menurunkan self esteem pada hari saat kebohongan diucapkan.

Lewat percobaan keempat atau yang terakhir, para ilmuwan mereplikasi temuan percobaan sebelumnya bahwa berbohong terkait dengan rendahnya self esteem pada hari kebohongan itu diucapkan. Para ilmuwan juga menganalisis hubungan antara berbohong dan self esteem selama lima hari eksperimen. Ketika seseorang berbohong pada hari tertentu, self esteem-nya lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya. Hal ini menunjukkan orang yang berbohong umumnya tidak memiliki self esteem yang rendah; namun tindakan berbohong lah yang menurunkan self esteem mereka.

Dalam keseharian, kita pada umumya tak terlalu bagus dalam mendeteksi kebohongan. Bahkan, banyak dari kita bisa atau terbiasa memaafkan kebohongan diri sendiri maupun kebohongan orang lain.

Namun, penelitian di Belanda menunjukkan, kebohongan bisa menimbulkan konsekuensi negatif bagi si pelaku. Berbohong membuat pelaku merasa lebih tidak nyaman dan menurunkan perasaan harga diri mereka.

Kadang, kita perlu ‘berbohong tipis-tipis’ untuk melindungi diri atau menyenangkan orang lain. Misalnya, memuji baju teman terlihat bagus walau kenyatannya buruk. Berbohong tipis-tipis ini bisa menjadi solusi yang mudah dalam situasi yang canggung atau dilematis.

Tapi, kalau bohong tipis-tipis ini rutin dilakukan, itu jadi kebiasaan yang tidak baik. Kika kita ingin merasa nyaman dengan diri sendiri, lebih elok jika kebohongan tipis-tipis ini dikurangi. Menungkapkan kenyataan mungkin bisa menyakitkan diri sendiri atau orang lain. Tapi, terkadang ini merupakan pilihan yang lebih baik demi kesejahteraan psikologis jangka panjang untuk diri sendiri.

 

Facebook Comments

Comments are closed.