Kabar Baik dan Kabar Buruk bagi Perokok

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Kata orang, menasihati perokok itu rasanya sama saja dengan menasihati fans fanatik politisi tertentu. Meski disampaikan berbagai data dan fakta empiris, orang yang dinasihati juga punya berbagai alasan untuk ogah berubah.

Meski demikian, saya akan terus menasihatkan pada pembaca bahwa merokok itu lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Lebih baik, ganti saja aktivitas merokok dengan sesuatu yang lebih produktif dan sehat.

Nah, pembaca yang budiman, sekarang saya mau tambah lagi dengan dua jenis kabar untuk kampanye mengurangi aktivitas merokok. Yang satu, kabar buruk. Lainnya, kabar baik. Sayangnya, kabar baik ini bakal tertutup oleh kabar yang buruk.

Kabar terbaru yang saya dapatkan adalah hasil penelitian oleh para ahli di Fakultas Kedokteran, Universitas Washington, di St. Louis, Amerika Serikat.

Kabar buruknya, aktivitas merokok itu bisa mengecilkan otak. Kabar baiknya, berhenti merokok dapat mencegah kehilangan jaringan otak lebih lanjut. Tapi, kabar buruk lainnya, berhenti merokok tidak mengembalikan otak ke ukuran aslinya.

Otak manusia secara alami memang kehilangan volume seiring bertambahnya usia. Tapi, merokok bisa menyebabkan otak menua sebelum waktunya. Karena itu, perokok berisiko tinggi mengalami penurunan kognitif terkait usia dan penyakit Alzheimer.

Biasanya, orang lebih mengkhawatirkan dampak buruk merokok terhadap paru-paru dan jantung dan sistem peredaran darah. Padahal, merokok juga berdampak terhadap otak. Penelitian lebih jauh mengungkap, merokok juga berdampak buruk pada volume otak.

Dampak buruk merokok terhadap kesehatan antara lain; menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan penumpukan plak di dinding arteri sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, menyebabkan kanker paru-paru, mulut, tenggorokan, esofagus, pankreas, kandung kemih, dan lainnya, menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), menyebabkan iritasi saluran pernapasan, menyebabkan gigi jadi kuning, gigi berlubang, penyakit gusi, merusak elastin dan kolagen dalam kulit sehingga menyebabkan penuaan dini dan kulit kusam, meningkatkan risiko penyakit mata seperti katarak dan degenerasi makula, mempengaruhi kesuburan pada pria dan wanita sehingga menganggu reproduksi. Jangan lupa, nikotin dalam rokok bersifat adiktif dan dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis.

Secara ekonomis, perokok harus rutin mengeluarkan uang untuk beli rokok, harus mengeluarkan uang ekstra untuk biaya perawatan medis, kebiasaan merokok dapat mempengaruhi produktivitas kerja harus mencuri waktu untuk merokok, ada biaya tambahan untuk bersih-bersih ruang, hingga potensi kerugian ekonomis lain jangka panjang.

Merokok juga memiliki dampak lain yang dapat mempengaruhi hubungan interpersonal dan interaksi sosial seseorang. Perokok bisa dinilai oleh orang lain sebagai pelaku perilaku tidak sehat. Asap rokok mengganggu kenyamanan dan kesehatan orang yang tidak merokok di sekitar, sehingga dapat menciptakan ketegangan sosial. Perokok bisa saja dihindari orang lain dalam interaksi sosial.

Bahkan, sejumlah ulama sudah mengharamkan rokok karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Beberapa kalangan gereja juga mengharamkan rokok karena kemanfaatan, kesehatan, dan adiktif.

Facebook Comments

Comments are closed.