Ciri-ciri Anak yang Berbakat Memimpin

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Indonesia Emas tahun 2045 akan dikendalikan oleh generasi yang saat ini masih anak-anak. Nah, karena itu, kita sejak dini perlu menemukan dan mengasah bakat-bakat kepemimpinan di antara anak kita sendiri, murid kita atau anak-anak lain.

Jika ditemukan, bakat-bakat kepemimpinan ini perlu dikembangkan. Kenapa? Karena kita perlu memberikan bimbingan dan dukungan yang tepat. Bimbingan dan dukungan yang benar akan membawa calon pemimpin yang positif dan bermanfaat. Kalau bimbingannya keliru, bisa jadi anak ini kelak jadi pemimpin bagi aktivitas yang negatif. Ini berisiko bahaya.

Bimbingan yang tepat bisa membentuk karakter. Perkembangan karakter dan nilai-nilai moral yang kuat bisa menjadi aspek penting dalam kepemimpinan yang efektif. Dengan mengajarkan kepemimpinan sejak usia dini, anak-anak memiliki kesempatan mengembangkan karakter yang kuat, seperti integritas, etika, dan empati.

Bagaimana cara menemukan ciri khas anak yang berbakat memimpin? Secara umum, ada beberapa sifat dasar khas anak yang berbakat memimpin. Namun, tidak harus semua ciri ini hadir pada anak. Selain itu, ciri-ciri ini bisa berkembang atau berubah seiring waktu.

  • Anak yang berbakat memimpin selalu percaya diri. Ia nyaman dengan kondisi dirinya, dan percaya pada kemampuannya untuk membuat keputusan. Kepercayaan diri ini faktor penting dalam kepemimpinan. Tapi, tidak boleh berlebihan karena bisa mengarah ke sombong
  • Biasanya, anak yang berbakat memimpin memiliki visi kuat dan tujuan jelas. Ia memiliki gagasan tentang bagaimana memimpin atau memengaruhi situasi tertentu. Ia tahu tahapan-tahapan tindakan yang harus dilakukan, dan paham bagaimana mengajak teman-teman menjalaninya.
  • Ia biasanya bisa berbicara dengan jelas, mendengarkan dengan baik, dan berkomunikasi dengan efektif. Ketrampilan berkomunikasi ini membuat ia mudah mengajak anak-anak lain melakukan sesuatu. Ucapannya mudah dituruti.
  • Anak yang berbakat memimpin bisa mengambil inisiatif dalam situasi tertentu. Ia tidak perlu menunggu perintah atau instruksi, tapi segera mengambil tindakan. Ia misalnya secara proaktif mencari cara untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan.
  • Ia punya ketrampilan untuk memecahkan masalah. Ia cepat mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi, dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi tantangan. Anak yang memiliki kemampuan berpikir kritis kuat ini biasanya dikagumi anak-anak lain.
  • Ini didukung oleh kemauan tinggi untuk belajar dan berkembang. Ia tidak takut menghadapi tantangan baru atau mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Disiplin tinggi dalam mengatur waktu, mematuhi aturan, dan menjalankan tanggung jawab. Siap dengan konsekuensi dari tindakannya.
  • Meski demikian, ia juga punya keterampilan sosial. Ia seringkali mampu berinteraksi dengan teman-teman dengan baik, membentuk hubungan yang kuat, memahami perasaan anak lain, dan bisa berkolaborasi dalam kelompok. Level empatinya juga tinggi, mampuan memahami dan merasakan perasaan anak lain.

Nah, jika beberapa bakat itu sudah ditemukan, tinggal bagaimana orang tua atau guru atau mentor membimbingnya ke untuk menjadi real leader ke depan.

Berikan dukungan dan dorongan yang wajar. Beri pujian dan pengakuan atas prestasi dan upayanya agar ia terus termemotivasi untuk berkembang. Tapi, janban berlebihan agar ia tetap dalam koridor yang benar.

Anak sering kali belajar melalui contoh. Maka, orang tua, guru, atau mentor perlu menjadi model bagi anak dengan menunjukkan perilaku kepemimpinan yang baik. Beri contoh cara berkomunikasi, berkolaborasi, mengatasi konflik, bertanggung jawab, dan lain-lain. Jangan memberi contoh yang tidak baik karena mungkin itu ditiru anak.

Beri pelatihan dan pendidikan yang tepat agar anak memiliki pemahaman tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Jangan lupa, ajarkan tentang pentingnya nilai moral dan tindakan yang terpuji. Ini bisa menjadi landasan etika dan integritas bagi pemimpin hebat di masa datang.

Jangan lupa, tetap beri ruang untuk kegagalan. Tekankan, gagal itu wajar dan menjadi bagian dari proses belajar. Jika sukses terus, anak bisa tumbuh jadi orang yang tinggi hati. Biarkan anak tahu bahwa tidak selalu semuanya berjalan sesuai rencana. Justru kegagalan itu peluang untuk tumbuh dan belajar.

Facebook Comments

Comments are closed.