Tentang Cheating Anak di Sekolah

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Dalam keluarga besar saya, banyak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Maka, kalau berkesempatan ngobrol dengan mereka, berbagai persoalan pendidikan bisa dibahas dari berbagai sudut pandang dan selalu menarik.

Salah satunya soal cheating.

“Pernah, saya memeriksa tugas individual sekitar 50 mahasiswa dalam satu mata kuliah. Saya geleng-geleng kepala saat enam lembar kerja isinya sama. Bahkan, font huruf dan sampul depan juga sama. Yang beda cuma nama mahasiswa dan judul,” kata seorang famili saya.

“Kalau di sekolahku, murid-murid juga kerjasama saat dapat tugas individual di rumah. Mereka buka laptop, chat sama teman-teman untuk berbagi jawaban, atau buka Quora, buka ChatGPT, dan sejenisnya,” kata yang lain.

“Kalau cheating gaya lama, semacam ngerpek atau mencontek teman, apa masih ada?” saya bertanya.

“Ada. Biasanya saya temukan saat ujian.”

“Wah, rumit juga ya?”

“Kampus, sekolah, semua sudah memberlakukan sistem untuk meminimalisir kecurangan. Dosen, guru, juga tak henti-hentinya menasihkatkan kejujuran sebagai bagian dari karakter berintegritas. Tapi, perkembangan teknologi dan mindset pelajar berkata lain.”

…………

Pembaca yang budiman, masalah cheating dalam dunia pendidikan bukan hanya dirasakan keluarga besar saya, tapi juga di Indonesia, dan bahkan di berbagai penjuru dunia. Seolah-olah, memberantas cheating itu hal yang mustahil.

Dalam studi 2010 oleh Josephson Institute, misalnya, 59 persen dari 43.000 siswa sekolah menengah mengaku menyontek dalam ujian tahun lalu. Di perguruan tinggi, tingkat kecurangan yang dilaporkan sendiri di kalangan mahasiswa S1 antara 50 – 70 persen.

Padahal, kalau ditanya soal moral-etika, hampir semua menegaskan bahwa cheating itu perbuatan keliru. Banyak yang percaya bahwa menjadi jujur (yakni, tidak berbohong atau tidak berbuat curang) sangatlah penting. Kalau dibuat daftar karakter baik manusia, bisa dikata ‘kejujuran’ itu masuk peringkat sangat atau atau bahkan paling atas.

Jadi, di sini ada kejumbuhan. Anak-anak yang secara ideal jujur dan tahu bahwa cheating itu perbuatan keliru ternyata juga sering atau pernah cheating di sekolah.

Apa yang menyebabkan kontradiksi ini?

Secara psikologi pendidikan, tentu ada faktor pribadi yang menorong anak untuk cheating meski ia sadar itu tidak benar. Ada motif untuk mencontek, antara lain keinginan untuk menghindari kegagalan, atau rasionalisasi bahwa “yang lain juga orang melakukannya”, atau cuek saja karena “yang dicontek tidak terganggu.”

Dari sisi psikologi komunikasi, bisa jadi kontradiski ini mencerminkan pesan-pesan beragam yang terus-menerus membombardir generasi muda. Anak-anak zaman sekarang, lewat media sosial, begitu mudah mendapatkan gambarang bagaimana orang menikmati kesuksesan. Sementara, tak banyak anak yang mau repot-repot meneliti bagaimana orang-orang itu membangun kesuksesan. Meski ada satu atau dua berita mendalam tentang itu, anak-anak sekarang cenderung tidak suka membacanya karena terlalu panjang dan kesannya penuh kesengsaraan.

Di sisi lain, realita juga mengajarkan anak bahwa orang-orang yang sangat kaya, sangat berkuasa, sangat berpengaruh, sangat sukses, juga sering kali melakukan cheating yang legal maupun ilegal untuk merampas rejeki orang lain, mematahkan peluang orang lain, mengakali sistem untuk kepentingan diri sendiri, dan sejenisnya.

Nah, dalam dunia pendidikan, jika dua hal yang saling bertentangan (keberhasilan dan kejujuran) itu bertabrakan, mana yang dipilih anak? Masa depan generasi tampaknya berada dalam bahaya jika mereka lebih memilih ‘mendapatkan nilai bagus dengan segala cara’ dibandingkan dengan memilih kualitas karakter bagus yang berkontribusi positif pada masyarakat banyak.

 

Facebook Comments

Comments are closed.