Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Dulu, hampir setiap hari saya kontak dengan anak-anak istimewa dengan kebutuhan tertentu. Sekarang pun saya masih sesekali mengurusi anak-anak semacam itu. Masalah umum, menurut kita-kita orang normal, pada anak-anak itu adalah rentang perhatian.
Anak-anak dengan Gangguan Perhatian dan Hiperaktivitas (ADHD), misalnya, bisa memiliki rentang perhatian lebih pendek daripada anak-anak pada umumnya, sehingga sulit fokus pada satu tugas atau aktivitas dalam jangka waktu lama. Anak-anak dengan spektrum autisme juga sulit menjaga perhatian pada aktivitas atau interaksi sosial tetentu dengan rentang perhatian yang bervariasi dari kasus ke kasus. Anak dengan Gangguan Spektrum Perhatian (ASD) juga begitu.
Nah, beberapa saat lalu, saya membaca hasil penelitian di Singapura tentang bagaimana zat kimia yang dilepaskan sel-sel otak bisa mengatur rentang perhatian kita. Jika dikembangkan, bisa jadi pemahaman ini membuka jalan bagi terapi baru untuk kondisi neurologis anak-anak yang kesulitan konsentrasi.
Sudah diketahui sejak lama, neuron-neuron di otak dan sistem saraf melepaskan bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Tugasnya meneruskan pesan dari satu sel ke sel lainnya untuk berkomunikasi. Neurotransmitter sangat penting untuk fungsi otak dan mengatur semua fungsi tubuh, mulai dari pernapasan dan detak jantung hingga reproduksi. Bahan kimia ini juga mengkoordinasikan proses kognitif yang memungkinkan kita fokus pada informasi penting dalam rentetan rangsangan yang diterima otak dari lingkungan eksternal. Proses kognitif ini dikenal sebagai rentang perhatian.
Dulu, para peneliti berkeyakinan bahwa rentang perhatian kita diarahkan hanya oleh satu neurotransmitter, bernama asetilkolin, yang merangsang neuron dan menyebabkannya mengirimkan sinyal listrik. Namun, penelitian terbaru di Nanyang Technological University (NTU) Singapura menunjukkan aktivitas perhatian memerlukan neurotransmitter lain, yakni asam gamma-aminobutirat (GABA). Fungsinya justru menghambat neuron dalam menerima dan mengirim pesan.
Tim peneliti untuk pertama kalinya mengungkap, GABA ternyata bekerja sama dengan asetilkolin dalam urutan yang tepat untuk mengatur transmisi sinyal dari bagian jaringan pemrosesan informasi otak yang disebut klaustrum.
Klaustrum, yang tersembunyi jauh di dalam otak, adalah struktur seperti lembaran tipis yang menerima dan memproses informasi dari berbagai bagian otak. Klaustrum ini diketahui juga membantu mengatur konsentrasi, namun peran pastinya masih belum diketahui.
Nah, dalam percobaan pada tikus di laboratorium, para ilmuwan NTU menyelidiki bagaimana neuron di klaustrum merespons asetilkolin dan GABA yang diproduksi bagian otak yang disebut otak depan yang memainkan peran sentral dalam beberapa fungsi otak.
Para peneliti menggunakan teknologi optogenetika untuk menguji bagian sangat dalam di otak. Optogenetika menggunakan protein peka cahaya untuk secara selektif mengontrol aktivitas jenis neuron tertentu di otak. Dalam kasus ini, neuron di otak depan yang melepaskan asetilkolin dan GABA diaktifkan oleh cahaya sehingga memungkinkan tim mengukur respons klaustrum terhadap stimulus.
Mereka menemukan, dua jenis neuron di klaustrum. Saat mengirimkan sinyal keluaran ke berbagai bagian otak, neuron di klaustrum merespons dengan cara berlawanan terhadap asetilkolin dan GABA. Neuron yang meluas ke struktur jauh di dalam otak itu dirangsang oleh asetilkolin. Neuron yang meluas ke struktur di permukaan otak dihambat oleh GABA.
Melalui rangkaian tindakan berlawanan yang terkoordinasi ini, kedua neurotransmiter mengalihkan transfer informasi antara klaustrum dan bagian otak lainnya. Prinsip kerjanya mirip saklar peralatan listrik.
Studi ini memberikan bukti bahwa neurotransmiter mengatur ‘sirkuit mikro’ di dalam otak, yang memungkinkan organ itu membedakan informasi penting dari banyak informasi lainnya, sehingga membantu seseorang bisa memusatkan perhatian.
Jika kita bisa mengatur sirkuit itu, mudah-mudahan anak-anak istimewa bisa lebih bisa memusatkan perhatian.


