Lebih Jauh Mengenali Kondisi ‘Psychotic Break’

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Beberapa saat lalu, saya menikmati film berjudul Black Swan. Anda pernah nonton juga?

Saya tidak mengulas detil film itu, tapi tentang masalah tokoh utamanya yakni Nina Sayers (Natalie Portman). Dia penari balet yang mengalami tekanan mental dan gejala psikotik menjelang pertunjukan yang sangat penting. Kondisi ini menggambarkan istilah ‘psychotic break.’

Apa itu ‘psychotic break‘?

Ini bukan istilah diagnosis medis resmi, tapi sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Definisi dari National Alliance on Mental Illness (NAMI), kondisi ini merujuk pada saat seseorang sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Ini terjadi ketika ia mengalami episode gangguan berat dalam pemikiran, persepsi, dan realitas. Ia bisa tiba-tiba mengalami halusinasi menakutkan, paranoia, dan perubahan perilaku mendadak.

Psikotik mungkin gejala dari kondisi kesehatan mental yang serius, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, atau depresi berat. Episode psikotik sering kali disertai gejala seperti delusi, halusinasi, dan mengigau tidak jelas. Episode psikotik sering kali bersifat sementara dan bisa hilang setelah 24 hingga 72 jam. Orang mungkin tidak menyadari telah kehilangan kontak dengan kenyataan.

Tanda-tanda episode psikotik bervariasi tergantung pada individu. Namun, gejala umumnya meliputi; menarik diri secara sosial, kesulitan berkomunikasi, melihat bayangan atau kilatan cahaya, mendengar bunyi atau suara dering, paranoia/delusi, ngomong tidak nyambung, mengabaikan kebersihan pribadi, tidur terganggu, prestasi di sekolah atau pekerjaan memburuk, gejala kecemasan, gangguan emosional, dan lain-lain. Episode psikotik dapat mengakibatkan perilaku tidak menentu, tidak dapat diprediksi, dan bahkan agresif yang berpotensi membahayakan orang.

Tidak ada penyebab tunggal bagi kondisi psikotik. Faktor-faktor yang mungkin menimbulkan antara lain kondisi kesehatan mental, genetika, penyakit fisik, trauma, kurang tidur, obat tertentu, atau penyalahgunaan narkoba. Pada usia lanjut, psikotik mungkin gejala gangguan neurologis seperti Alzheimer atau demensia.

Kita, sekali waktu, bisa saja mengalami episode seperti ini. Tiga dari 100 orang bisa mengalami psikotik. Namun, ada beberapa faktor tertentu, antara lain penyalahgunaan obat-obatan terlarang, yang menempatkan seseorang ke dalam risiko lebih besar kena psikotik. Kalau ada latar belakang tertentu ini, kondisi psikosis bisa lebih parah.

Remaja dan dewasa muda berisiko karena fluktuasi hormonal yang berdampak pada otak selama masa pubertas. Orang yang memiliki riwayat keluarga (faktor genetik) dapat meningkatkan risiko psikotik. Penggunaan napza, tidak saja menyebabkan penyakit mental serius, tapi juga dapat memicu.

Jika sudah terlanjur kena, apa yang harus dilakukan?

Perawatan bisa melibatkan kombinasi antara obat-obatan, terapi bicara, dukungan, dan perubahan gaya hidup. Ini mungkin termasuk obat antipsikotik, serta terapi perilaku kognitif (CBT) untuk mengubah pola pikir. Dukungan dari keluarga, teman dekat, lingkungan, juga sangat membantu.

Facebook Comments

Comments are closed.